Berita Bethel
Penulis: Pram (19/02/2015)

Pencuri Berkedok Situs Belanja Online


Semakin digandrunginya belanja online membuat para penjahat cyber mengarahkan bidikan ke toko virtual tersebut. Modus yang dilakukan pelaku adalah dengan cara phishing.Phishing adalah jenis penipuan di internet yang digunakan oleh para penjahat untuk memikat pengguna agar memberikan data mereka (login account, password dan informasi pribadi lainnya) dengan membuat halaman web palsu meniru website online populer.

Sekilas tampilan situs belanja abal-abal tersebut tampak sangat mirip dengan situs aslinya. Bahkan ada yang nama alamat situsnya begitu identik, tinggal berbeda beberapa huruf.Jadi memang butuh kejelian di sini, pastikan Anda mengetik alamat situs yang dituju dengan benar, serta jangan asal klik lewat link yang didapat dari email spam alias yang tak jelas siapa pengirimnya.Menurut data Kaspersky, tahun lalu, proporsi phishing keuangan dari keseluruhan serangan phishing mengalami penurunan sebanyak 2,7% dibandingkan 2013, terutama karena penurunan pada level phishing perbankan. Pada saat yang sama, terdapat kenaikan pada proporsional phishing yang menargetkan kategori keuangan lainnya.

Dalam kategori sistem pembayaran, penjahat cyber sebagian besar menargetkan data milik pengguna kartu Visa (31,02% terdeteksi), PayPal (30,03% terdeteksi) dan American Express (24,6% terdeteksi).Pada waktu yang sama, di 2014 deteksi terhadap halaman phishing menyebutkan bahwa PayPal melihat pangsa mereka jatuh sebesar 14,09% apabila dibandingkan dengan 2013.

Amazon tetap menjadi brand yang paling sering diserang dalam kategori belanja online dengan share 31,7% dari serangan dalam kategori ini menggunakan halaman phishing. Namun, angka ini menurun 29,41% dari tahun sebelumnya."Kenaikan dalam phishing keuangan yang kami lihat di masa lalu secara alami mendapatkan perhatian lebih dari brand yang paling sering disalahgunakan dalam kejahatan phishing - mereka mulai mengambil tindakan dengan menangani saluran distribusi phishing, terutama email spam, secara lebih aktif yang mengarah pada penurunan tingkat phishing yang menargetkan beberapa brand yang lebih besar," kata Nadezhda Demidova, analis konten web di Kaspersky Lab.

"Namun, penjahat cyber segera merespons dengan menargetkan 'pasar' baru. Sebagai contoh, pada tahun 2014 kami melihat sejumlah besar penipuan phishing berdasarkan website yang menjual tiket pesawat. Hal ini merupakan target yang sebelumnya cukup jarang terlihat dalam kejahatan phishing," lanjutnya.(detik.com/detikinet/Foto:Istimewa)