Berita Bethel
Penulis: Pram (09/06/2016)
Tongkat Estafet Pelayanan Gereja


Timotius sebagai generasi penerus dalam pelayanan gereja dituntut untuk memiliki kepribadian yang baik dalam melaksanakan tugas yang akan dipercayakan kepadanya. Tentu ada banyak ciri kepribadian yang disebutkan dalam surat-surat yang ditujukan kepada Timotius, tetapi dalam rangka pembahasan ini kita hanya menyebutkan beberapa yang cukup menonjol.



Keteladanan. Paulus meminta Timotius untuk menjadi "tupos" (teladan, contoh, pola bagi jemaat -- 1 Timotius 4:12). Istilah ini sangat disukai Paulus (Roma 5:4; 8:17; 1 Korintus 10:6; Filipi 3:17; 1 Tesalonika 1:7; 2 Tesalonika 3:9; dan Titus 2:7). Dalam surat-suratnya itu, Paulus minta agar keteladanan itu menjadi ciri kepribadian dalam kehidupan jemaat.



Maksud Paulus adalah supaya dengan ciri kepribadian itu jemaat menjadi teladan, contoh, dan pola bagi orang-orang yang berada di sekitar mereka. Dengan demikian, keteladanan yang Paulus minta dari jemaat adalah sebagai sarana atau alat untuk mengomunikasikan Injil kepada orang-orang di sekitar lokasi kehidupan jemaat.



Paulus juga menggunakan istilah ini (tupos) di 1 Timotius 4:12, yang ia kaitkan dengan kata "ginou" (jadilah) sehingga membentuk kalimat imperatif yang dikenakan kepada Timotius. Timotius diminta dengan sangat agar menjadi teladan bagi jemaat sekalipun ia muda. Permintaan ini mengandung makna bahwa pelayanan jemaat yang Timotius harus lakukan adalah pelayanan keteladanan (bandingkan 1 Petrus 5:3).



Pelayanan ini tidak dapat dilakukan dengan kata-kata saja, tetapi -- dan ini yang penting -- dengan sikap dan tindakan yang menjadi anutan bagi seluruh jemaat. Kesatuan kata dan tindakan sangat penting dan berpengaruh dalam pelayanan. Jemaat tidak hanya mendengar kefasihan berbicara dari seorang pelayan, tetapi lebih dari itu mereka juga ingin melihat keteladanannya dalam bersikap dan bertindak.



Bahkan, kadang-kadang seorang pelayan kurang fasih dalam berbicara dan berkhotbah, tetapi bila ia mampu menjadi teladan bagi jemaat, maka ia bisa menjadi pola anutan dalam pelayanan. Keteladanan memang berbicara lebih kuat dari kata-kata.Ada lima unsur yang Paulus minta dari Timotius untuk menjadi teladan bagi jemaat, yaitu: perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian.



Menurut Paulus, perkataan dan tingkah laku yang harus dihindari oleh seorang pelayan, termasuk Timotius, adalah kepalsuan, kemarahan, kepahitan, fitnah, kebencian, kejam, perkataan kasar dan kotor, peminum, dan pemarah (Efesus 4:25-31; Kolose 3:8-9; 1 Timotius 3:3), sedangkan yang harus diusahakan adalah kebenaran, nasihat, kelemahlembutan, pengampunan, kebijaksanaan, kesopanan, dan pengucapan syukur kepada Allah. Unsur yang berikut adalah kasih.



Kasih merupakan unsur yang penting dalam surat-surat Paulus, sebab kasih sangat menentukan kualitas hidup orang-orang Kristen (Roma 12:9; 13:9; 1 Korintus 8:1). Karena itu, ia menasihati jemaat agar mereka hidup di dalam kasih sebagaimana Kristus mengasihi mereka (Efesus 5:2). Unsur keempat dan kelima adalah kesetiaan dan kesucian.



Paulus kadang-kadang menggandeng kasih dan kesetiaan ini bersama-sama (1 Tesalonika 3:6; 5:8; 1 Timotius 1:14; 2 Timotius 1:13; Filemon 5) sebagai unsur yang berkaitan satu dengan yang lain. Kesetiaan dalam melayani sangat ditentukan oleh kasih seseorang kepada Tuhan. Demikian juga kesucian tetap terpelihara bila seorang pelayan memiliki kasih yang sama itu.



Paulus menyebut unsur-unsur ini (perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, kesucian) yang mencerminkan kata dan perbuatan seorang pelayan harus Timotius miliki dalam melayani jemaat. Sebab Timotius masih sangat muda, sementara ia harus menghadapi sejumlah anggota jemaat yang mungkin lebih tua darinya sehingga agak sulit bagi orang yang lebih tua itu menerima nasihat-nasihatnya.



Tetapi dengan keteladanannya itu, yang ia wujudkan dengan kata dan perbuatan, memungkinkan ia melakukan tugasnya itu. Hilangnya keteladanan itu akan menimbulkan krisis dalam kepemimpinannya.



Hormat dan Sopan terhadap Semua Orang. Sebagai seorang pelayan, Timotius dinasihati agar memelihara hubungan yang baik dengan semua anggota jemaat dengan bersikap hormat terhadap orang yang lebih tua umurnya dan sopan terhadap semua orang.



Sikap ini sangat bermanfaat karena memelihara hubungan yang baik dengan jemaat dan memungkinkan Timotius secara leluasa melayani. Dalam 1 Timotius 5:1-2, Paulus memberikan sejumlah larangan dan nasihat kepada Timotius untuk memelihara hubungan itu.



Paulus melarang Timotius agar jangan keras terhadap orangtua artinya jangan dengan keras memarahi mereka, sebaiknya ia harus menasihati mereka dengan penuh hormat sama seperti ayahnya sendiri.



Timotius juga diminta untuk menegur atau menasihati orang muda dengan sopan sebagai saudaranya sendiri, yakni saudara di dalam iman. Persaudaraan yang demikian merupakan ciri persekutuan orang-orang Kristen sejak jemaat pertama (bandingkan Matius 12:49-50).



Anggota jemaat merasa terikat di dalam satu persaudaraan akrab. Sedangkan terhadap perempuan tua, Timotius harus menasihati mereka sebagai ibu, dan kepada perempuan muda sebagai adiknya sendiri.



Dalam upaya untuk memelihara hubungan dengan kelompok-kelompok jemaat ini, Timotius diminta untuk memelihara hubungan itu dengan "pase egneia" (penuh kemurnian -- 1 Timotius 5:2). Dalam konteks ini, nuansa yang terkandung dalam ungkapan penuh kemurnian adalah kemurnian yang lebih ditujukan kepada hal seksual.



Secara lebih khusus, Paulus mengingatkan Timotius sebagai seorang pelayan muda dalam tugasnya di tengah jemaat agar ia memelihara pelayanan kepada jemaat dengan menciptakan suatu hubungan kekeluargaan yang penuh kemurnian.



Sebagai seorang pelayan muda, pasti ia berhadapan dengan anggota-anggota jemaat yang masih muda sama seperti dirinya, baik secara kelompok maupun pribadi. Tetapi di dalam melayani mereka, Timotius diminta untuk menghadapi mereka dengan penuh kemurnian.



Sebab, dengan begitu, hubungan kekeluargaan dan persekutuan di dalam jemaat terus terpelihara, dan Timotius dapat melayani secara leluasa kepada semua kelompok usia dalam jemaat.



Berpegang pada Kebenaran Alkitab. Paulus meminta kepada Timotius untuk berpegang pada kebenaran (2 Timotius 3:14). Kebenaran itu telah diajarkan oleh Paulus kepada Timotius dan tercermin dalam cara hidup, pendirian, iman, kasih, dan ketekunan sang guru (2 Timotius 3:10).



Kebenaran itulah yang Paulus minta agar Timotius berpegang teguh dalam upaya menghadapi guru-guru sesat yang berkeliaran di dalam lingkungan jemaat. Ia tidak boleh berkompromi dengan ajaran-ajaran sesat itu. Sebaliknya, ia harus menelanjangi kesesatan sambil berpegang pada pengajaran yang benar.



Sebab, dengan berpegang pada kebenaran itu, Timotius dan jemaat tidak diombang-ambingkan oleh pengajaran guru-guru palsu itu. Ia mampu bertahan dalam menghadapi mereka.



Timotius adalah seorang pemuda yang sama dengan pemuda lainnya yang mempunyai kelemahan dan kekurangan. Akan tetapi, Paulus mau memakai dia sebagai pelayan yang akan meneruskan pelayanan gereja di masa depan.



Setiap orang pasti memiliki kelemahan, tetapi kelemahan itu jangan dijadikan sebagai hambatan untuk mengaderisasi generasi penerus dalam pelayanan gereja.[Sumber : www.sabda.org/Foto : Ilustrasi].