Berita Bethel
Penulis: Pram (20/10/2016)

Transformasi Untuk Kesuksesan Sejati


"Kemajuan hampir mustahil bisa diraih tanpa perubahan dan orang yang tidak mampu merubah pola pikir tidak akan mampu merubah apapun" (George Bernard Shaw), dikutip Indra Susanto saat menggelar Seminar Transformasi di GBI Daan Mogot, Jakarta Barat (Sabtu, 15/10).



Ia mendefinisikan transformasi sebagai sebuah proses yang membutuhkan waktu dan usaha namun akan memberikan hasil, dampak yang positif [baik]. Selain itu transformasi bermakna juga sebagai proses perubahan terencana (sadar) yang dikelola untuk meningkatkan efektifitas, dampak dan kecepatan dalam pencapaian tujuan.



Kesuksesan sejati bermakna kehidupan yang berkemenangan di dunia dan kehidupan kekal di Surga. Selanjutnya ia memaparkan metode transformasi yang dikenal dengan istilah DRA Transformation Model. Model ini dikembangkan berdasarkan inspirasi dari Hukum Newton tentang Gerak yang diajarkan di SMA dan/atau jenjang pendidikan lanjutan.



“DRA Transformation Model” menjelaskan dan menegaskan empat faktor utama (4P) yang harus diperhatikan, dikelola dalam melakukan transformasi agar berhasil, yaitu:



P1: PUSH (PAIN, ABHORRENCE) : Memahami kerugian, kelemahan, bahaya, risiko dari kondisi saat ini (current state) bila tidak melakukan perubahan (transformasi).



P2: PULL (PLEASURE, ADVANTAGE) : Memahami keuntungan, kekuatan, kelebihan, manfaat, kemajuan yang didapatkan setelah berhasil melakukan perubahan(transformasi) (desired state).



P3: PRIORITIZE (PROGRAM, ACTION) : Melakukan kegiatan/usaha/program yang diperlukan dengan prioritas yang tepat untuk melakukan perubahan (transformasi) secara disiplin dan bertanggung jawab.



P4: PERVADE (PLEDGE/PRAY, ASSURANCE) : Mengelola resistensi, kendala dan hambatan untuk memastikan tercapainya tujuan perubahan (transformasi) yang diharapkan termasuk berdoa (pray).



Langkah selanjutnya, menurutnya seseorang bisa melakukan aplikasi (penerapan) yaitu : 1.Mengambil keputusan tepat dan tanggung jawab pribadi secara penuh dalam transformasi meraih kesuksesan sejati (mencari dan menerapkan kebenaran yang sesungguhnya).



2.Mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi (harus diatasi) saat ini (P1). 3. Memahami manfaat (dampak positif) yang didapatkan setelah melakukan perubahan/transformasi (P2).



4.Menentukan kegiatan/program prioritas apa yang harus dilakukan untuk melakukan perubahan/transformasi secara efektif (P3). 5.Menentukan hal-hal apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hambatan/kendala (resistensi) dan memastikan keberhasilan perubahan/transformasi (P4).



Usai seminar, alumnus S1 Teknik Sipil ITB dan S2 MM [[Magister Management] dari Prasetiya Mulya ini menggelar jumpa pers dengan wartawan dari media yaitu Radio RPK FM, Majalah Gaharu, onlinekristen.com, jawaban.com [CBN].



Dalam jumpa pers ini, Indra [kiri] penulis buku “Strategy-led Transformation”, mengatakan tanpa perubahan tidak akan ada kemajuan. Artinya, suatu kemajuan bisa dicapai melalui perubahan. Transformasi berkaitan dengan perubahan untuk dikelola agar [mencapai hasil] lebih bagus.



Ia menambahkan transformasi [semestinya] terjadi di tingkat pribadi, kelompok dan korporasi [perusahaan]. Namun, sayangnya menurut pengamatannya masing-masing pihak mempunyai pemahaman yang berbeda-beda. "Ibaratnya beberapa orang tuna netra yang memegang bagian-bagian tubuh seekor gajah di lokasi yang berbeda. Tidak ada perspektif yang satu [seragam]," tegasnya.



Jika tidak ada keseragaman, katanya bagaimana bisa mencapai implementasi [penerapan] ?. Transformasi akan menjadi lebih mudah jika diimplementasikan sesuai dengan Hukum Newton. Hukum ini bermakna satu massa diam [konstan], jika tidak ada gaya di massa tersebut.



Lebih lanjut, mantan konsultan yang pernah bekerja enam tahun di Booz Allen Hamilton, perusahaan konsultan manajemen ini menambahkan perubahan membutuhkan usaha percepatan yang berbanding terbalik dengan massa kelembaman. "Jika mau mempercepat [perubahan] maka perbesar usaha dan kurangi hambatan," ujarnya.



Ia juga mengingatkan ada tiga "musuh" [hambatan] ketika seseorang akan melakukan perubahan yaitu diri sendiri, dunia, roh-roh jahat.Seorang anak Tuhan [percaya] , menurut pandangannya jangan cengeng. Ketika seorang percaya berdoa, jangan dia perintahkan Tuhan untuk lakukan kewajiban orang tersebut.



Doa merupakan sarana antara lain untuk memberikan ketenangan, energi, kekuatan [kehidupan oarang percaya]. Dalam konteks pelayanan mimbar [kotbah], ia mengingatkan agar seorang hamba Tuhan jangan sampai menyampaikan kotbah yang parsial atau sepotong-sepotong serta keliru [tidak Alkitabiah].



Soal kesuksesan, Indra yang pernah selama dua tahun mengimplementasikan  program transformasi perusahaan konsultan McKinsey & Company ini menegaskan bahwa hal itu musti ada keseimbangan masing-masing tubuh, jiwa dan roh. Sebab, ada kehidupan kekal setelah kematian. Kehidupan dunia ini bersifat sementara dan fana.



Namun, ia mengingatkan kesuksesan di dunia jangan selalu dikaitkan dengan besarnya nilai harta, uang yang dimiliki seseorang. "Laksanakan keselamatan dari Tuhan Yesus dengan penuh tanggung-jawab," pungkasnya, sembari menutup jumpa pers.