Berita Bethel
Penulis: Pram (01/11/2016)

Menyambut Pilkada 2017 : Kebenaran Meninggikan Derajat Bangsa


Pilkada serentak se-tanah air bakal digelar 15 Februari 2017, atas dasar itu PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) menggelar jumpa pers guna menyampaikan Pesan Pastoral bagi gereja-gereja, warga gereja, pasangan calon, partai politik, penyelenggara Pilkada, dan aparat keamanan di Grha Oikoumene, Jl. Salemba, Jakarta-Pusat, Selasa (1/11).



Hadir pada acara ini yaitu Ketua Umum PGI (Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang, Kiri) sembari didampingi Pdt. Henrek Lokra (Sekretaris Eksekutif Bidang Keadilan dan Perdamaian PGI). Menurut Ketua Umum PGI, pesan pastoral ini bisa menjadi pedoman bagi gereja-gereja di Indonesia dalam menentukan sikap etis terhadap Pilkada serentak 2017.



Pesan pastoral ditujukan kepada gereja-gereja, warga gereja, pasangan calon, partai politik, penyelenggara Pilkada, dan aparat keamanan.Selanjutnya, Ia mengutip nats Amsal 14:34 "Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa".



Atas dasar itu, ia mengingatkan gereja-gereja untuk secara tegas : Pertama, menolak kuasa dosa yang akan menodai bangsa. Dosa itu menurutnya dalam bentuk ketidak-jujuran, diskriminasi, nafsu kekuasaan, manipulasi suara, politik uang, pola kampanye dengan gunakan SARA yang bisa memecah belah bangsa.



Kedua, Hindari penggunaan gedung gereja atau rumah ibadah sebagai ajang kampanye, atau menggunakan mimbar gereja untuk menggalang dukungan bagi para calon.Ketiga, Gereja terpanggil untuk berpartisipasi dan bekerjasama dengan siapa pun dalam mengawasi jalannya Pilkada, pun pasca Pilkada.



Artinya, gereja berkewajiban mengingatkan umat untuk mengawasi kebijakan-kebijakan politik pemimpin yang terpilih agar berjalan sesuai dengan konstitusi demi keadilan, kesejahteraan dan perdamaian bangsa.



Keempat, tanggung jawab politik gereja adalah dengan melakukan pendidikan politik warga gereja agar mereka mampu menggunakan hak pilih mereka secara rasional dan bertanggung-jawab demi kebaikan bersama, serta bersikap kritis dan berani menolak politik uang, sebagai perwujudan iman Kristiani kita dalam berbangsa.



Sementara itu, PGI mengingatkan kepada warga gereja : Pertama, dalam Pilkada 2017 agar memilih calon pemimpin yang memiliki: integritas, kejujuran, keberanian dan komitmen melawan segala bentuk korupsi dan manipulasi, komitmen pada konstitusi dan keanekaragaman bangsa, kemauan bekerja keras untuk menciptakan keadilan dan kesetaraan bagi seluruh warga negara, serta komitmen untuk menopang pembangunan yang berwawasan lingkungan.



Kedua, tolaklah calon pemimpin yang memanipulasi isu-isu SARA, diskriminasi berbasis gender dan kampanye gelap yang menyudutkan pasangan calon tertentu.Bagi pasangan calon, PGI menegaskan, Pertama, mengapresiasi keikutsertaan para calon dalam kontestasi Pilkada ini. Pdt. Henrek Lokra (kanan) menegaskan bahwa pencalonan seorang calon adalah wujud keterpanggilan membangun proses demokrasi dan keadilan bagi bangsa.



Kedua, PGI mengharapkan komitmen para pasangan calon untuk memperjuangkan kepentingan rakyat terutama mereka yang miskin, yang mengalami diskriminasi dan termarjinalkan. Bersikap jujur, menjauhkan diri dari suap maupun dari penggunaan dana-dana Pemerintah, seperti dana bantuan sosial yang seharusnya digunakan untuk menyejahterakan rakyat, untuk kepentingan kampanye.



Ketiga, kualitas kenegarawanan akan terlihat dalam cara bertindak dan berkampanye. Oleh sebab itu, jangan menghalalkan cara-cara yang melanggar hukum atau memanipulasi isu gender, SARA yang bersifat sektarian dan primordial sempit demi kekuasaan.



Keempat, saat Pilkada usai, diharapkan para pasangan calon mampu berjiwa besar, terutama saat menerima hasil Pilkada demi menjaga ketertiban, perdamaian dan ketentraman masyarakat.



Kepada partai politik, PGI melihat partai politik merupakan unsur penting dalam membangun kultur dan struktur demokrasi bangsa kita. Partai politik diharapkan mampu mempersiapkan kader-kader bangsa yang bukan terutama memperjuangkan kepentingan partai politik atau kepentingan primordialistik etnik atau agama.



Sebaliknya, Partai Politik berfungsi mempersiapkan kader-kader bangsa yang memiliki integritas, kapasitas, kejujuran dan berkomitmen pada tegaknya konstitusi. Oleh sebab itu, partai politik mestinya tidak terjebak pada pragamatisme sesaat yang memperjuangkan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, termasuk politik uang dan politisasi SARA.



Sementara itu, kepada penyelenggara Pilkada yakni KPU, Bawaslu/Panwas, PGI berdoa dan berharap, semoga mampu melaksanakan mandat secara profesional dan bertanggung jawab, jujur, adil, transparan dan tidak memihak. Masa depan demokrasi kita bergantung pada integritas dan kejujuran para penyelenggara Pilkada ini.



Kepada aparat keamanan, sebagai komponen utama dalam proses demokratisasi Indonesia, PGI mendoakan agar aparat keamanan mampu melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan tulus, baik dan professional, sehingga Pilkada dapat berjalan dalam suasana yang kondusif, aman dan tenteram bagi seluruh warga dalam menggunakan hak pilihnya.