Berita Bethel
Penulis: Pram (16/11/2016)

Cara Pandang Terhadap Masalah


“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku” (2 Korintus 12:9). Masalah adalah bagian yang akrab dalam kehidupan umat manusia.



Memang ada masalah yang dibuat oleh ulah manusia itu sendiri, tetapi ada juga masalah karena diijinkan oleh Allah untuk kita alami sebagai anak-anakNya. Tentu sebagai orang percaya kita harus menghidari masalah yang dibuat sendiri, tetapi jika masalah itu datang atas seijin Tuhan bagaimana sikap kita menghadapinya?.



Disinilah cara pandang seseorang terhadap masalah akan sangat menentukan sikap dan tindakan mereka. Ketika seseorang memandang masalah selalu hal yang negatif dan merugikan maka tidak heran mereka menjadi stress, frustasi. Mereka mulai meragukan kasih dan kebaikan Tuhan, bahkan tidak sedikit yang akhirnya mundur atau meninggalkan Tuhan.



Kita harus melihat masalah dengan cara pandang yang berbeda supaya kita tetap kuat dalam menghadapi masalah tersebut.Dalam pembacaan Firman Tuhan hari ini kita melihat Rasul Paulus mengalami suatu masalah, dia menyebutnya “duri dalam daging”, tetapi rasul Paulus tidak kecewa ketika harus menghadapi masalah tersebut, mengapa demikian?.



Karena Paulus memiliki cara pandang yang benar terhadap masalah yang dihadapinya. Mari kita pelajari seperti apa cara pandangnya terhadap masalah? :



Pertama, Rasul Paulus memandang masalah sebagai sarana untuk mengubah karakter. Karakter kodrati Paulus adalah seorang yang keras, dominan, berani, tegas. Karena karakter yang demikianlah ini dia pernah berselisih dengan Barnabas karena Markus (KPR 15:39), pernah menentang Petrus (Gal. 2:11).



Tetapi dalam ayat 7 dia berkata, “supaya aku jangan meninggikan diri…, maka aku diberi duri dalam daging, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri”. Tuhan ingin mengubah karakter Paulus menjadi karakter manusia baru seperti Yesus.



Apakah Paulus berubah?, Ia karena itu dia menjadi orang yang rendah hati bahkan akhirnya berdamai dengan Barnabas dan meminta Markus kembali datang kepada dia.Ini bukan karakter dasar Paulus, ini adalah karakter Yesus yang menjelma dalam kehidupan Paulus.



Memang secara fisik Paulus tidak sembuh walaupun sudah berdoa dan ini bukan berarti doanya tidak dijawab. Karena ternyata karakternya, hatinya, pribadinya yang berubah lewat masalah.



Kedua, masalah menjadi sarana untuk melihat kuasa Tuhan. Kita ingin menjadi kuat, menang, semua masalah dapat diselesaikan. Tetapi terkadang Tuhan mengijinkan kita tidak berdaya, dengan tujuan di dalam kelemahan kita kuasa Tuhan tetap nyata. Jika kita masih punya kekuatan untuk mengatasi masalah Tuhan akan menuntun kita.



Namun jika kita tidak berdaya, Tuhan akan menggendong kita, dalam keterbatasan kita, kita akan melihat kuasa Allah yang tak terbatas. Masalah sering menjadi sarana kita untuk melihat kuasa Allah.



Ketiga, menjadi sarana kesaksian. Semua masalah yang terjadi dapat menjadi sarana kesaksian untuk menunjukkan kepada Dunia bahwa kita memiliki Tuhan Yesus. Kesaksian dari keberhasilan itu biasa. Tetapi Paulus bersaksi bukan karena kehebatannya, melainkan dalam kelemahan, siksaan, kesukaran, penganiayaan karena Kristus. Apa maksud kesaksian Paulus?.



Kesaksian manakah lebih hebat?. Dibebaskan dari penjara atau dipenjara, tetapi bersukacita?. Dilepaskan dari penderitaan atau dalam penderitaan tetapi memuji Tuhan?. Dihindarkan dari aniaya atau dalam aniaya, tetapi memberkati?.



Disembuhkan dari sakit atau dalam keadaan sakit, tetap bersemangat melayani?. Dalam keadaan apapun kita harus terus menjadi kesaksian bagi banyak orang. [Sumber : R.A.B. - Pdt. Joel Manalu, MTh/Foto : Istimewa].



“Tuhan akan memberi sebuah kenikmatan dan berakhir dengan kenikmatan yang lebih indah lagi yakni Sorga”