Berita Bethel
Penulis: Pram (16/11/2016)
Persiapan Psikologis yang Mengakibatkan Pembaruan


Pemimpin dan doa adalah sebuah kesatuan yang utuh, tidak dapat dipisahkan. Jika kondisi itu dilakukan maka kan berdampak positif dalam kepemimpinan dan pelayanannya.



Buku dengan judul "Manajemen dan Kepemimpinan Menurut Wahyu Allah" dengan judul bab : Persiapan Psikologis yang Mengakibatkan Pembaharuan, ditulis oleh Dr. P. Octavianus [Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, Malang, 1991, hal. 147 - 150] yang dirilis e-Leadership ini akan memberkati kita semua. Selamat membaca.



Ihwal pemimpin dengan doa dan keuangannya, tampaknya terlalu sepele dalam jenjang penguraian "kepemimpinan". Bukankah dengan sendirinya seorang pemimpin harus berdoa, membaca, dan mengurus keuangannya? Memang, seharusnya demikian. Akan tetapi, kita jangan keliru.



Tidak sedikit pemimpin Kristen yang gagal dan jatuh karena meremehkan waktu doanya. Tidak sedikit pula pemimpin yang sulit berkembang dalam kepemimpinannya karena meremehkan apa yang harus dibaca.



Lebih banyak lagi pemimpin yang gagal, sebab tidak bisa mengatur keuangan yang dipercayakan kepadanya. Itulah sebabnya, kita perlu mengetahui hal-hal praktis yang berhubungan dengan persiapan psikologis seorang pemimpin yang membawa pembaruan.



Pemimpin dengan Doanya. Pemimpin gereja atau lebih tepat pemimpin pergerakan kerohanian dalam Alkitab dan sejarah gereja adalah mereka yang dipenuhi Roh Kudus. Standar pendidikan belum cukup kalau tidak sungguh-sungguh dipenuhi oleh Roh Allah.



Ketika Barnabas dipakai oleh Tuhan untuk memanggil Paulus, dikatakan bahwa ia seorang yang baik, yang beriman, dan penuh dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 11:24). Jadi, kita melihat di sini, semua pemimpin Kristen harus dipenuhi Roh Kudus.



Kalau tidak, kita bisa jatuh dalam kesombongan dan pengandalan diri. Karena itu, kita harus banyak berdoa. Jangan menggantikan hikmat Allah dengan hikmat sendiri. Meskipun kita mampu dalam banyak hal, tetapi janganlah lupa berdoa.



Menurut hemat saya, kekurangan saya yang terbesar ialah "doa". Saya lebih banyak membaca daripada berdoa. Saya harus jujur. Kendati demikian saya melihat bahwa untuk mengatasi setiap masalah, doa itu sangat menentukan. Setahu saya dalam setiap hal yang saya urus, Tuhan selalu mengingatkan saya untuk berdoa.



Percobaan yang paling berat bagi banyak pemimpin ialah "sulit berdoa" meskipun tahu bahwa doa itu penting. Saya mengatakan dengan jujur itu benar. Saya tahu doa itu penting sekali, tetapi saya masih kurang berdoa.Memasuki tahun 1986, saya membuat beberapa keputusan penting. Antara lain, saya berjanji kepada Tuhan melipatkan waktu doa saya dua kali lipat dan membaca Alkitab.



Kadang-kadang, dalam hati saya ada satu pikiran: "Seandainya saya tidak lagi memimpin secara eksekutif, saya akan memakai waktu saya untuk tiga hal, yaitu: Berdoa, membaca, dan menulis." Sebab dalam kesibukan seperti sekarang, memang saya tidak mampu melakukan tugas itu sekaligus.



Kadang-kadang, saya membela diri demikian: "Kurang tepat kalau berencana demikian, toh tugas saya banyak." Memang tugas baru dikerjakan, tetapi bagaimana pun juga, tanpa doa, kita tidak bisa menjadi pemimpin yang berhasil dalam arti rohani.



Bahaya yang mengancam para pemimpin Kristen ialah jatuh dalam kesombongan bersandar pada kesanggupan, berdasar pada bakat tanpa urapan Roh Kudus, dan tanpa pengertian rohani. Pengalaman pun tidak boleh menjadi landasan. Kita masih membutuhkan penyucian Tuhan untuk tiap pengalaman agar dapat maju dalam pelayanan.



Semua pengalaman dan persiapan masih harus disucikan oleh Tuhan. Dengan demikian, pelayanan dan kepemimpinan boleh berjalan menurut rencana Tuhan.

Saya memuji Tuhan karena akhir-akhir ini saya tertolong dalam hal pengutamaan doa. Sekarang, saya lebih banyak berdoa dan membaca Alkitab dibandingkan dengan tahun yang lalu.



Saya sungguh menyadari bahwa keputusan yang dibuat, maupun kebijaksanaan yang diambil, mudah sekali jatuh dalam cara daging yang berdasarkan pengalaman, kemampuan, dan karunia. Itulah sebabnya, saya berusaha membaca lima pasal Alkitab dalam satu hari sebagai satu perjanjian dengan Tuhan dan memakai waktu untuk berdoa.



Beberapa tahun yang lalu, terjadi pengalaman yang indah. Pada tanggal 6 Juli 1984, Tuhan membawa saya untuk berdoa di pondok doa "Daud" di Junggo, sekitar 10 km dari tempat tinggal kami. Memang, itu tempat yang khusus untuk berdoa bagi saya, baik persiapan untuk Kebaktian Tahunan maupun segala kebutuhan lain.



Roh Tuhan mendorong saya masuk dalam kerinduan berdoa selama 32 hari. Suatu pengalaman yang indah. Empat hari berdoa sendirian dengan Tuhan, dan 28 hari lainnya berdoa setelah bangun pagi jam 3 sampai fajar. Tubuh saya memang terasa lemah, tetapi kuasa doa itu membuat saya segar dan kuat.



Sesudah berdoa 32 hari itu, Tuhan membuka rahasia-rahasia yang indah dan sistematis, yang diberikan melalui bacaan-bacaan.Karena itu, pemimpin dengan doanya sangat penting. Semakin menyadari tanggung jawab yang besar, urusan yang bertambah ruwet, dan jangkauan pelayanan yang bertambah luas, semakin menuntut waktu berdoa banyak.



Tidak ada jalan lain daripada membuat janji kepada Tuhan "saya akan berdoa paling sedikit satu jam sehari dan membaca Alkitab 5 pasal". Untuk menjaga supaya tidak lalai, saya menulis tanggal di dalam Alkitab saya dan menggarisbawahi Firman yang menegur maupun yang menguatkan saya secara pribadi.



Mengasingkan diri berdoa di pondok Daud inilah permulaan kebangkitan rohani kembali dalam hidup saya. Saya bersyukur karena tanggung jawab yang besar tidak lagi berada di pundak saya sendiri. Melalui doa dan pembacaan Alkitab yang teratur serta memberikan waktu yang cukup bagi Tuhan untuk melayani jiwa dan keperluan saya, maka Ia telah mengurus segalanya.



Tuhanku yang setia, yang peka terhadap saya, adalah Tuhan Saudara yang peka terhadap Saudara juga. Sebelum Saudara jatuh, Dia mengingatkan, sebagaimana Dia mengingatkan saya, agar Saudara menyerahkan diri lagi sepenuhnya.Berikanlah waktu yang cukup untuk berdoa. Dalam doa, Saudara dapat mencapai lebih banyak.



Segala aktivitas penting, tetapi ingatlah kata-kata Doktor Karel Bates terhadap bahaya yang mengancam lembaga gerejawi juga para pemimpin Kristen: "Seandainya Roh Kudus diambil dari lembaga-lembaga gerejawi, atau dari kehidupan pemimpin Kristen, 95 persen dari aktivitas kita masih dapat berlangsung".



Mungkin sekali kita akan berkata, "Lihat, saya dapat bekerja tetap aktif dan kreatif tanpa Roh Kudus sekalipun." Akan tetapi, apakah artinya kegiatan tanpa Roh Kudus. Kegiatan itu tidak akan mempunyai nilai kekekalan.Berhati-hatilah para pemimpin Kristen, berilah waktu yang cukup untuk berdoa.



Syarat mutlak bagi pemimpin-pemimpin Kristen ialah "mengutamakan doa", supaya kepemimpinan kita tidak menjadi kepemimpinan yang gersang, tidak bergairah, dan tidak berwibawa, hanya karena kurang berdoa. [Sumber : e-Leadership/Foto : Istimewa].