Berita Bethel
Penulis: Pram (06/01/2017)

Pengemis atau Orang Kaya ?

“Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunya, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kisah Para Rasul 3:6).

Penghuni Bait  Allah ada terdiri dari berbagai macam orang.  Masing-masing dari orang yang paling rohani, paling hancur dan mereka yang tergolong orang kaya semua bergabung dalam satu bait Allah..  

Namun Petrus dan Yohanes menjumpai seorang lumpuh sebagai pengemis!.  Kalau gereja dihuni oleh orang-orang seperti ini,  tentu pemandangannya sangat tidak enak dilihat.

Berbeda dengan orang-orang Farisi ketika beribadah,  mereka berjubahkan hiasan permata dan aneka asesoris rohani di leher atau di jubah mereka kelihatannya sedap dilihat. 

Namun tidak banyak disadari mentalitas orang di gereja banyak seperti yang dijumpai oleh Petrus yakni pengemis yang lumpuh dan hanya mengharapkan mendapat sesuatu dari kehadirannya di gereja.

Banyak orang datang di gereja berada dalam posisi lumpuh sejak lahir barunya. Kaki  rohaninya tidak bisa berjalan melangkah memberitakan Injil.  Kakinya tidak kuat harus digendong kalau berjalan, sebab kaki rohani inilah yang menjadi tolok ukur dimana seseorang mampu memberitakan Injil. 

Kaki ini bukan bentuknya dua seperti  kaki kita melainkan sebuah  kemampuan untuk melangkah berani memberitakan  kebenaran (Yes. 52:7). Orang dapat dikatakan lumpuh di gereja bukan mereka yang memakai kursi roda saja melainkan mereka yang berjalan dengan kaki yang kuat tetapi tidak memiliki kemampuan untuk memberitakan  Injil kepada orang lain.

Mereka  yang tidak pernah dikatakan indah oleh orang lain karena Injil yang diberitakan termasuk kategori lumpuh.  Memberitakan   Injil ini bukan berkotbah atau mengadakan kesembuhan Illahi  atau mengadakan kebangunan rohani melainkan dengan sikap hidup yang baik maka seseorang dapat tertarik mengikut Yesus.

Orang yang lumpuh adalah orang yang tidak dapat menjadi saksi sehingga nama Yesus  dikenal.  Bila seseorang  tidak mampu menghadirkan Yesus  dengan tingkah laku dan tutur katanya maka mereka termasuk orang-orang seperti yang dijumpai oleh Petrus dan Yohanes.

Tipe orang seperti inilah yang datang di gereja hanya membutuhkan Allah untuk mencukupi kebutuhannya dan menyelesaikan masalahnya. Padahal kalau mau jujur Yesus  tidak perlu kita minta Dia sudah tahu pasti bahwa kita memerlukan semua itu (Mat. 6:32-33).

Mentalitas pengemis ini sama seperti kebanyakan orang yang memberi kolekte sedikit ingin mendapatkan yang banyak. Tuhan seperti ikan yang dipancing dengan umpan sedikit. Inilah Pikiran duniawi dengan memanfaatkan Kristus sebagai pemenuhan kebutuhan dan ambisi. Padahal Dia Allah yang tidak pernah berhutang (Mat. 19:29).

Datang beribadah itu merupakan bentuk sukacita, Nyanyian ziarah Daud. Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku:  “Mari kita pergi ke rumah  TUHAN” (Maz.  122:1) . Mengapa ibadah dapat dikatakan sukacita ?, karena ibadah adalah perjumpaan dengan Tuhan dalam keintiman yang luar biasa nikmatnya, lebih dari kenikmatan dunia ini. 

Ibadah adalah mempersembahkan korban kepada Tuhan. Ibadah merupakan ungkapan syukur kepada Allah (Rm. 12:1-2) dan membawa korban kepada Tuhan. Ada janda miskin yang memberi dua peser atau satu duit saja, tetapi Yesus berkata janda ini memberi lebih banyak (Mrk. 12:43).

Inilah orang kaya di gereja bukan seperti pengemis yang lumpuh sebab dua-duanya ada di Bait Allah, yang manakah saudara ?. [Sumber : R.A.B - Pdt. Timotius  Bakti Sarono/Foto : Istimewa].

"Mental anak Tuhan adalah mereka yang datang kepada Bapa dengan rasa syukur dan sukacita"