Berita Bethel
Penulis: Pram (17/01/2017)
Harga Gula Dijaga Rp12.500 per kg

Jakarta - Pemerintah meminta komitmen produsen dan distributor gula untuk menjaga harga gula pada level Rp12.500 per kilogram (kg) pada tahun ini.Komitmen tersebut dituangkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani oleh produsen (pabrik) dan distributor gula di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta, kemarin.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, dengan kesepakatan tersebut, produsen dan distributor bertanggung jawab untuk bisa mendistribusikan gula sampai ke pasar.

”Distributor dan produsen juga menyepakati akan mengikuti harga acuan pemerintah sebesar Rp12.500 per kg. Itu harga eceran tertinggi (HET) yang nanti akan dicantumkan pada kemasannya,” ujar Enggar. Menurut Enggartiasto, harga acuan gula berlaku sampai Desember 2017.

Namun, jika ada gejolak harga yang meningkat tajam, evaluasi akan dilakukan di bawah koordinasi Kementerian Koordinator bidang Perekonomian. Terkait pengawasannya, Kemendag menggandeng Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Bilamana ditemukan praktik menyimpang seperti kartel yang merugikan masyarakat, KPPU akan mengambil tindakan.

”Kita lihat apakah tindakan pelaku usaha akan berpengaruh ke perilaku antipersaingan atau tidak. Kita akan melakukan pengawasan bersama Kemendag. Semoga proses berjalan baik, sehingga daya beli masyarakat bisa terjaga,” ujar Ketua KPPU Syarkawi Rauf. Dalam upaya menekan harga jual gula kelevel Rp12.500 perkg,

Kemendag melakukan pemangkasan jalur distribusi dari produsen ke konsumen dengan meningkatkan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) serta sektor swasta dalam pendistribusian gula.

Pemangkasan juga dilakukan dalam alur impor gula, yang dulunya harus melalui penugasan dari pemerintah ke BUMN, kini Kemendag mengizinkan beberapa pabrik untuk mengimpor langsung gula mentah untuk diolah menjadi gula kristal putih atau gula konsumsi.

Pada tahap pertama Kemendag memberi izin impor 400.000 ton gula mentah. ”Ini tahap pertama. Paling tidak sekarang sudah tersedia karena ini sudah Januari. Kita tidak mau ada kekurangan konsumsi yang mengganggu harga. Untuk selanjutnya, kita akan bicara dengan pabrik gula tebu,” ungkapnya.

Enggartiasto menambahkan, impor gula mentah sebanyak 400.000 ton ditujukan untuk menutupi kekurangan gula konsumsi sebanyak 1 juta ton. Kemendag masih akan memantau perkembangan produksi gula tebu di dalam negeri sebelum memutuskan untuk mengimpor lagi kekurangannya.

Jika ternyata produksi di pabrik gula tebu meningkat tajam, volume impor pun bisa ditekan. Adapun, sumber impornya diupayakan lebih dari dua negara. Selain Thailand, pemerintah menjajaki Brasil dan Australia. Direktur PT Panen Indah Lestari Edi Sutan Dinata, salah satu distributor yang turut menandatangani nota kesepahaman, menyatakan siap membantu menjaga stabilitas harga gula.

Terkait margin keuntungan jika harga jual gula dipatok Rp12.500 per kg, Edi enggan berkomentar banyak. ”Ya produsen juga mepet, soalnya (harga) sudah tinggi sekarang. Biaya produksi juga bisa lebih tinggi, salah satunya dipengaruhi harga dunia,” ungkapnya.

Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, tren harga gula menjelang Natal dan Tahun Baru (September-Desember) cenderung naik, meskipun tidak signifikan yakni antara 0,02-0,38%. Tren harga pada 2016 lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya yakni turun 2,06%.

Namun, kondisi tersebut masih di atas harga acuan gula yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu sebesar Rp12.500 per kg. Harga rata-rata nasional gula pada Januari 2017 sebesar Rp14.087 per kg atau turun 0,33% dibandingkan harga rata-rata bulan Desember 2016 yang sebesar Rp14.133 per kg.

Adapun, harga rata-rata gula di beberapa daerah salah satunya di Yogyakarta pada kisaran Rp12.933 per kg. Sedangkan harga tertinggi gula yaitu Rp17.000 per kg terdapat di Tanjung Pinang, Tanjung Selor, dan Manokwari. [Sumber naskah : koran-sindo.com/Foto : Istimewa]