Berita Bethel
Penulis: Pram (31/01/2017)

Setia dalam Segala Situasi Hidup

“Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya” (Pengkotbah 7:14)

Sebagai  orang percaya, Anda dan saya dituntut untuk berlaku setia dan konsisten terhadap iman dan pengiringan kita kepada-Nya.  Kita akan mudah berlaku setia dan konsisten  bila dalam pengiringan kepada-Nya tidak menemui kendala dan halangan, namun akan berbeda bila mengalami kendala dan halangan. 

Kendala dan halangan tersebut menjadi batu ujian apakah kita akan tetap setia dan konsisten kepada-Nya.  Kendala  dan halangan tersebut bisa berupa penderitaan yang kita alami, entah karena kesalahan kita atau karena perbuatan orang lain.

Penderitaan adalah alat yang Allah pergunakan  untuk membuat kita lebih peka dan juga untuk mencapai tujuan-Nya dalam kehidupan kita.  Penderitaan yang dialami oleh orang percaya diijinkan Allah untuk membangun  kepercayaan mereka kepada-Nya,  akan tetapi supaya maksud Allah  dapat tercapai maka diperlukan respon  yang  benar  dan  tepat. 

Penderitaan yang  Allah   ijinkan seharusnya menekan Anda dan saya untuk meninggalkan  kekuatan  diri sendiri kepada hidup oleh iman dalam kekuatan yang berasal dari Allah (Yer. 17:5 dan 7).

Penderitaan itu sendiri bukan satu kebaikan, juga bukan tanda kehidupan yang suci. Penderitaan bukan satu cara instan dalam memperoleh sesuatu dari Tuhan, atau sebagai satu cara mengalahkan kedagingan (ber-askese atau penyiksaan diri). Sedapat mungkin penderitaan harus kita hindari.

Kristus juga menghindari penderitaan  kecuali kalau hal itu merupakan tuntutan kepatuhan kepada kehendak Bapa untuk mati di Kayu Salib menanggung dosa manusia (Mat. 26:39, “Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya:  “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya  mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seper ti yang Kukehendaki, melainkan seper ti yang Engkau kehendaki).

Dalam pengkotbah 7:14 dikatakan: “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang  ingatlah, bahwa  hari malang  ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.” 

Ayat dalam pengkotbah 7:14 ini hendak mengingatkan kepada Anda dan saya bahwa kita harus menyadari dan bergantung sepenuhnya serta mengandalkan hanya kepada Allah saja dalam segala situasi kehidupan ini.

Kita diajarkan untuk mengingat tidak hanya pada situasi baik (masa baik) saja melainkan juga situasi yang tidak baik (masa kesusahan). Dalam hal ini, Anda dan saya dapat melihat dan mempelajarinya melalui pertanyaan-pertanyaan berikut yang dirancang untuk membantu kita “mengingat” pada saat kesusahan, yaitu:

Bagaimana cara Anda dan saya menanggapinya?. Bagaimana seharusnya Anda dan saya menanggapinya?.  Apakah Anda dan saya mempelajari sesuatu darinya?. Apakah tanggapan Anda dan saya mencerminkan iman, kasih kepada Allah dan sesama, sifat seperti Kristus,  kebenaran, komitmen, keutamaan, dan sebagainya?.

Bagaimana  Allah bisa menggunakannya dalam hidup Anda dan saya?. Dengan menjawab pertanyaan-per tanyaan tersebut, di atas di saat kesusahan datang, maka hal itu dapat mengingatkan kepada Anda dan saya bahwa kita dapat memutuskan  dan mengambil sikap yang benar ser ta berkenan di hadapan Allah atas kepengiringan kita kepada-Nya.“Penderitaan dan kesusahan mengingatkan kita agar bergantung kepada Allah saja”

[Sumber : R.A.B - Pdp. Ayub Sahrul Efendi,  M.Pd.K/Foto : Istimewa].