Berita Bethel
Penulis: Pram (10/02/2017)

Tantangan Dalam Misi Penuaian Besar

Kisah Para Rasul 4:1-22

“ Seindah-indahnya khayalan, selalu masih lebih baik kenyataan hidup walaupun terkadang pahit “. Dari untaian kalimat ini tersirat sebuah pengertian, bahwa kecenderungan manusia banyak merasa nyaman sibuk dalam ketidak nyataan dan mencoba menghindar dari sejumlah kenyataan hidup yang seharusnya ditanggung jawabi dengan sikap dan kerja keras yang benar dihadapan Tuhan. Apakah Tuhan panggil kita untuk hanyut dalam dunia khayalan tanpa persoalan ?.

Melalui penuturan Kitab Kisah Para Rasul ( Kis. 4:1-22 ), dengan perikop “ Petrus dan Yohanes dihadapan Mahkamah Agama “, kita harus membuka diri dengan jujur bagaimana menjalani dan menanggung jawabi panggilan Tuhan yang sebenarnya bagi setiap kita orang percaya-Nya di tengah duni kita masa kini.

Tuhan memanggil dan memperlengkapi Petrus dan Yohanes serta murid-murid Yesus lainnya dengan kuasa Roh Kudus-Nya, tidak untuk menempatkan mereka pada suatu dunia “ eksklusive “ yang nyaman tanpa ada gangguan dari apapun.

Tuhan pun tidak bermaksud memilih, memanggil dan memperlengkapi Petrus dan Yohanes serta murid-murid lainnya, untuk mendapat perlakukan berlebihan dari Tuhan tanpa sebuah tanggung jawab untuk menghidupi panggilan surgawi.

Sejatinya, panggilan Tuhan bagi Petrus dan Yohanes serta bagi kita sekalian orang percaya di masa kini bermaksud untuk melatih kita secara cakap mempertanggung jawabkan kuasa dan kasih-Nya yang telah dicurahkan dalam hidup kita melalui sebuah misi surgawi.

Yang pasti apa yang disebut dengan misi surgawi adalah senada dengan butiran doa yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-muridNya “ … Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.

“ Wujud kehendak Tuhan bukan mengubah fisik dan sistem kehidupan di bumi ini supaya kembali kepada keadaan semula seperti masa manusia pertama di Eden sebelum serusak sekarang ini, tetapi mengembalikan kedaulatan Tuhan di seluruh pikiran, perkataan dan perbuatan setiap manusia untuk dapat dibaharui kembali pada keserupaan dan kesegambaran dengan Tuhan pencipta.

Dan Tuhan Allah telah menetapkan pengorbanan diri-Nya dalam Yesus Kristus diatas kayu salib sebagai satu jalan menuju kepada terwujudnya kehendak Allah di bumi seperti di surga..

Kecakapan Petrus dan Yohanes mempertanggung jawabkan misi surgawi dihadapan Mahkamah Agama, sesungguhnya tidak sedang menunjukkan siapa mereka dalam status kemanusiaan mereka, tetapi siapa Tuhan yang telah memperlengkapi mereka sehingga hasilnya adalah terjadi pelipatgandaan keselamatan bilangan orang percaya dari tengah-tengah orang berdosa ( ayat-4).

Jadi, apakah tantangan bagi kita dimasa kini dalam menghidupi misi penuaian ?.

Pertama   :Pengakuan akan apa dan siapa kita dihadapan sesama. ( ayat 1-12 ). Setiap manusia yang pikiran, perkataan dan perbuatannya hanya bermuara pada pencarian pengakuan tentang apa dan siapa dia dalam pencapaiannya dihadapan sesamanya,

entahkah itu dalam lingkungan kegiatan “ kerohanian “ maupun diluar lingkup “ kerohanian “, sesungguhnya itulah tandanya Tuhan belum berdaulat diatas seluruh kehidupannya dan fokusnya hanya pada misi duniawi.

Band. Kis. 4:12 – Misi penuai = Bukan tentang kita tapi tentang Yesus.    Tantangan pertama bagi kita dalam misi penuai bukanlah aturan halangan pendirian gereja secara bebas, bukan pula karena pemimpin negeri kita dari pusat sampai daerah bukan orang Kristen. Tetapi, apakah cara hidup ke Kristenan kita lewat pikiran, perkataan dan perbuatan sudah menyatakan kesegambaran dengan Kristus?. 

Jadi, kalau hidup masih mencari pengakuan diri, kita belum bermisi.Kedua:Lebih menjaga perasan manusia daripada hati Tuhan. ( ayat 13-22 ).Takut tidak dianggap apa-apa membuat kebanyakan orang Kristen lebih memilih menjaga perasaan sesama manusia lebih daripada hati dan perasaan Tuhan.

Lebih baik kita rela dianggap tidak ada apa-apa asal mengerti hati dan perasaan Tuhan, daripada dianggap apa-apa tapi selalu berkompromi dengan cara hidup berkenan bagi dunia. Band. Kis. 4:20 – Misi penuai = Bukan untuk cari aman diri sendiri.

Tantangan kedua bagi kita dalam menjalankan misi penuai bukanlah bagaimana amannya bisnis dan usaha kita karena diberi lebel “halal“ atau tidak halal, tapi apakah kehadiran kita di “ market place “ atau dunia kehidupan sehari-hari sekualitas kehidupan kita dalam gereja.

Jadi, hati Tuhan sangat disukakan jika kualitas hidup dan tanggung jawab harian sama nilainya dengan kidung pujian dihadapan Tuhan. Kalau kuhidup kuhidup bagi-Mu,.. dunia tak bisa menjauhkanku,...[Penulis : Pdt. Yusuf Sumitro Pasaribu, MTh-Gembala GBI di Kota Sibolga, Sumatera-Utara]