Berita Bethel
Penulis: Pram (21/04/2017)

Melayani ABK itu Indah

Suara teriakan-teriakan, anak-anak yang berlarian merupakan pemandangan dan situasi yang biasa dihadapi para guru-guru SM (Sekolah Minggu) GBI PRJ [CK-7] MGK Kemayoran, Jakarta-Pusat di kala hari Minggu. Pelayanan ini dirintis mulai tahun 2009 hingga kini dan dibawah pembinaan Departemen PPA (Pembinaan Pemuda dan Anak) dengan Juliana Jioe sebagai Ketua PPA.

Pelayanan ini istimewa sebab para guru melayani ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Jumlah mereka semula satu anak di tahun 2009 dan kini berkembang mencapai 65 anak, dengan usia paling dewasa yakni 30 tahun.   Hal itu disampaikan Liana Saudin (Foto kanan atas), Ketua Panitia Seminar Managing Child Behavioral Disorder di GBI PRJ [CK-7] MGK Kemayoran, Jakarta-Pusat (Sabtu, 15/4) ketika berbincang dengan Redaksi. 

Gereja lokal ini digembalakan oleh Dr. Janto Simkoputera. Hadir dalam seminar ini sebagai pembicara yakni Sabrina Ritonga. Peserta pada sesi pertama terdiri dari guru-guru SM. Selanjutnya pada sesi kedua, para peserta terdiri dari para orang-tua ABK.Total peserta mencapai sekitar 300-an orang.  

Menurut Liana, sebagai Koordinator Kelas King Kids (Kelas Anak Special Needs/Berkebutuhan Khusus) dan  Ketua Panitia Seminar ini menambahkan bahwa acara ini bertujuan memberikan pembekalan bagi guru-guru SM untuk mendukung pelayanan masing-masing. Kelas King Kids ini melayani anak-anak dengan kategori autis dan down syndrom.

Sementara itu, di lokasi Seminar nara sumber Sabrina Ritonga (Foto utama) dalam keterangannya kepada Redaksi menjelaskan gejala-gejala ABK ini bisa mulai terdeteksi mulai usia 3-4 tahunan. Sabrina menegaskan kalau ABK ini bisa sembuh total jika dilakukan terapi, kesehatian dan kesabaran orang-tua. Tentu, ditambah dengan doa dan terapis yang handal.

Ia sendiri mengalami salah seorang puteranya mengalami autis dan kini bertumbuh dewasa dalam kondisi normal. Sabrina memperkenalkan suami, dua puteranya kepada Redaksi. Ketika Redaksi menanyakan apa penyebab ABK ini, Sabrina menjawab sampai saat ini belum ada penemuan apa sebenarnya penyebab ABK ini.

Sabrina memberikan contoh sederhana bagaimana cara memanggil nama anak ABK ini. Cara memanggilnya cukup pelan, tidak dengan teriakan-teriakan atau bentakan. Apalagi anak ini sedang berkonsentrasi dengan mainannya. Panggil dengan lembut, jika ia menoleh maka berikan hadiah (sederhana) dan bisa di buat sendiri asal kreatif."Lakukan langkah ini berulang-ulang, sampai si anak memahami betul namanya sendiri," ujarnya.

Ia menambahkan contoh yang lain yaitu bisa juga diperkenalkan cara menggosok gigi secara perlahan. Pengenalan ini bisa diawali dengan apa itu pasta gigi, sikat gigi, cara memegang sikat gigi, membuka tutup odol (pasta gigi), cara berkumur dan lain-lain.

Untuk ABK ini tidak bisa diajarkan sesuatu secara instan. Musti perlahan dan sabar. Terdapat sepuluh jenis ABK dan dua diantaranya ialah autis dan down syndrome.

"Autis dianggap serem karena banyak pihak yang belum memahaminya. Padahal tidak demikian. Berdoa dan bekerja perlu juga untuk menangani ABK ini," pungkasnya.

Sabrina melanjutkan Seminar masuk ke sisi kedua yang menjabarkan tentang kesulitan (masalah) yang dihadapi oleh ABK beserta ciri-cirinya dan penangannya.Bagi pembaca yang ingin mengetahui lebih lanjut ABK ini, silahkan kirim e-mail ke : matahatiku@cbn.net.id.


Artikel Terkait :

Mengenali dan Menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)