Berita Bethel
Penulis: Pram (22/04/2017)
Mengenali dan Menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)

Di  tengah-tengah kehidupan masyarakat sehari-hari, banyak ditemukan aneka persoalan kehidupan. Salah satunya pada pertumbuhan fisik dan non fisik pada anak-anak. Sabrina Ritonga, telah berkecimpung dalam dunia pendidikan anak selama lebih dari 10 tahun. Ia alumnus di bidang komunikasi di Jakarta dan London, Inggris.

Sabrina hadir sebagai pembicara dalam Seminar dengan tema "Managing Child Behavioral Disorder" di GBI PRJ CK-7, MGK Kemayoran, Jakarta-Pusat (Sabtu,15/4). Seminar diprakarsai oleh Departemen PPA (Pembinaan Pemuda dan Anak). Redaksi merangkum presentasi Sabrina Ritonga. Selamat membaca.

Pengertian autism berasal dari kata autos (dari diri sendiri) dan isme (paham). Autisme adalah keadaan yang menyebabkan anak-anak hanya memiliki perhatian terhadap dirinya sendiri. 

Penyebab utama hingga saat ini belum diketahui. Namun, ada pandangan bahwa penyebab autis yaitu kelainan neurobiologis. Kelainan ini disebabkan beberapa faktor antara lain 1. Keturunan genetika dan pengobatan. 2. Kesehatan saat kehamilan, proses persalinan dan gangguan metabolik. 3. Faktor lingkungan, racun dan limbah. 4. Inveksi virus. Otak anak autisme lebih kecil ukurannya, jika dibandingkan dengan anak normal.

Anak Berkebutuhan Khusus meliputi 1. Asperger Syndrom. 2. Attention Deficit Disorder (ADD). 3. Attention Deficit Hyperactive Disorder (ADHD). 4. Autis. 5. Down Syndrom (DS). 6. Mental Retarded. 7. Speech Delay. 8. Disability. 9. Delay Development. 10. PDD Nos dan lain-lain.

Secara umum, ABK mempunyai ciri-ciri bentuk perilaku di sekolah antara lain rentang perhatian dan konsentrasi pendek, kesulitan mendengarkan dan memahami instruksi yang disampaikan oleh guru, cerdas dalam menghafal mata pelajaran namun sulit memahami mata pelajaran, kesulitan berkomunikasi dengan guru dan teman-temannya.

Kesulitan menyusun kata-kata saat menuliskan sebuah karangan, respon lama atau sering tertinggal dalam mengerjakan (menyelesaikan) tugas, kesulitan membuat kesimpulan cerita bergambar, tetapi sangat detail melihat (bercerita) cerita bergambar (kejadian), kesulitan untuk mengekspresikan perasaan seperti sedih, senang, sebal, marah, takut, rasa bersalah dan lain-lain.

Masalah para ABK di sekolah terdiri dari kesulitan untuk duduk tenang, cenderung lari-lari. Asyik bermain sendiri dan sulit konsentrasi. ABK lebih sering meninggalkan bangku (kursi) di kelas dan keluar kemudian bermain sendiri. Mereka kesulitan memahami kalimat yang diucapka oleh guru di kelas.

Gangguan lainnya berupa kesulitan untuk bernyanyi atau menirukan ucapan guru karena terdapat hambatan kemampuan motorik kasar (gross motor). Hambatan kemampuan motorik halus (fine motor) sehingga kesulitan dalam melakukan aktifitas menulis dan menggambar. Kesulitan untuk bermain dengan anak sebayanya. Namun mereka memiliki kepekaan yang tinggi terhadap suara keras (nyaring) sehingga muncul perilaku tidak nyaman sehingga ABK berteriak-teriak.  

Penanganan ABK di sekolah oleh guru sebaiknya guru menyikapi mereka dengan langkah-langkah seperti memposisikan anak untuk duduk dekat dengan guru atau dekat dengan anak-anak yang tidak berperilaku ramai di kelas dan sebaiknya duduk dekat dengan papan tulis. Hindari penggunakan kata-kata yang bernada keras (penegasan).

Membiasakan diri agar ABK diberikan reinforcement apabila ia berperilaku baik atau bisa menyelesaikan tugas. Berikan kata-kata perintah dalam bahasa yang jelas dan singkat. Menyediakan media pengajaran yang bervariasi.

Memberikan reward bervariasi dan sesuai dengan kesenangan anak. Guru sebaiknya memberikan bantuan pengertian terhadap mata pelajaran. Kepada teman-teman sekelasnya, guru memberikan pemahaman agar ABK tidak dikucilkan teman-temannya dan berperilaku wajar.

Bagaimana penanganan ABK di SM ?. Ketika guru SM mengajar ABK, gunakan variasi media (misalnya benda 3 D atau 2 D) dan ekspresif (peragaan). Sediakan reward buat mereka berupa mainan, aktifitas dan lain-lain. Selama SM berlangsung, orang-tua bisa membawakan mainan yang disukai ABK, namun jangan mengganggu aktifitas anak SM lainnya.

Tentang permainan, guru SM bisa memberikan jenis permainan atau musik yang sesuai dengan kepekaan indera anak. Sediakan binder (alas) untuk menulis dan posisikan duduk di dekat guru. Berikan instruksi berupa kalimat yang jelas dan singkat.

Info lebih lanjut tentang ABK, silahkan kontak e-mail : matahatiku@cbn.net.id. [Foto : Sabrina Ritonga, kiri dan peragaan oleh team].


Artikel Terkait : Melayani ABK itu Indah