Berita Bethel
Penulis: Pram (12/06/2017)
Melayani Berarti Melakukan Tugas Untuk Kepentingan Tuhan

“…Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:15). Jika "Abad" (beribadah)  adalah   melayani  sebagai   seorang   budak, maka  karakteristik seorang   budak  adalah  melakukan  tugasnya  bukan untuk kepentingan diri sendiri. Jika  seorang  melakukan tugasnya  untuk popularitasnya,  itu namanya pencitraan).

Jika seseorang melakukan tugasnya untuk imbalannya, itu namanya pegawai, Jika ia memberi sedikit untuk menerima banyak, itu namanya penjudi atau yang lebih keren ekonomi. Tidak demikian untuk seorang budak.Coba perhatikan apa yang dikatakan Yesus tentang perumpamaan “Tuan dan Hamba” dalam Lukas 17:7-10 :

“Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang  hamba  yang membajak  atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang:  Mari segera makan! Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu  dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum.

Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Saya ulangi sepenggal perkataan di dalam ayat 10: “Kami adalah hamba- hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.” Kata “hamba” di dalam ayat ini menggunakan kata “doulos.” Kata “doulos” biasa untuk menerjemahkan kata Ibrani “ebed” (seorang budak) di dalam LXX  (Septuaginta: PL berbahasa Yunani),  dan Yesus  menambahkan gambaran budak itu dengan kata “yang tidak berguna.”

Kata “yang tidak berguna” adalah “achreios,” yang berarti  “unprofitable”   (tidak mencari keuntungan) atau “good for nothing” (melakukan sesuatu yang baik tanpa pamrih). Seorang budak itu melayani atau mengabdi, tetapi bukan untuk mencari keuntungan pribadi, bukan dengan pamrih- pamrih ter tentu, bukan untuk kepentingan sendiri.

Bukankah di dalam perumpamaan “Tuan dan Hamba yang tak berguna” itu, Yesus mengatakan bahwa hamba itu melayani bukan untuk sekedar mendapat makan dan minum? Bukan sekedar untuk mendapat ucapan terima kasih? Hamba melakukan pekerjaannya karena ia diperintahkan tuannya untuk mengerjakan. Seorang hamba adalah “to do good for nothing” (melakukan pekerjaan baik tanpa pamrih) atau “to do good not for himself” (melakukan pekerjaan baik bukan untuk diri sendiri).

Jika kita memang mau melayani Tuhan, yaitu mengabdikan hidup kita untuk melakukan seluruh kehendak Allah, jangan pernah melayani Dia karena ingin diberkati, ingin disembuhkan,  ingin popular, ingin naik jabatan. Kita melayani karena TUHAN perintahkan   kita untuk melayani.

Beribadah atau melayani bukan demi kepentingan kita, tetapi kepentingan Tuhan, yaitu mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. Ajaklah seluruh anggota rumah tangga kita, seper ti Yosua: “…Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”. [Sumber : R.A.B-Stephano Ambesa/Foto : Istimewa].

Kita melayani  karena TUHAN perintahkan kita untuk melayani