Berita Bethel
Penulis: Pram (26/06/2017)
Menyikapi Pengaruh Negatif Sebuah Jaman (Bagian Pertama)

Perkembangan zaman yang semakin pesat dan serba modern seperti sekarang tentunya banyak memengaruhi perilaku manusia di era globalisasi ini. Dunia sudah berubah, itu kalimat yang sangat sering kita dengar. Perubahan terjadi dalam segala aspek kehidupan yang sangat kompleks ini.

Cara berpikir, cara berperilaku, cara berpenampilan (baik itu busana, kendaraan pribadi maupun rumah pribadi), cara memilih makanan sampai hal-hal yang paling sederhana yaitu cara berbicara. Termasuk juga motivasi dari setiap individu, semua sudah berubah.

Manusia sudah terbiasa dengan arus global yang tanpa batas dan hampir tidak bisa dibendung lagi. Tanpa kita sadari perlahan-lahan sudah menuntun semua pola hidup manusia yang saya sebutkan tadi.

Manusia hampir tidak mau lagi menerima sebuah koreksi positif ataupun sesuatu yang sifatnya mengatur atau mendisiplin diri. Karena tentunya akan membatasi semua keinginan dan kehendak bebas yang pada dasarnya ada dalam diri setiap manusia secara individu.

Kemajuan teknologi lebih mendominasi untuk mengatur ataupun mengarahkan dalam bersikap. Dan tidak jarang kita mendengar kalimat-kalimat yang mengatakan “Ah, ini 'kan sudah ketinggalan zaman, sudah tidak berlaku lagi, sekarang 'kan sudah zaman modern” dan lain sebagainya.

Tidak ada yang salah dengan kemajuan teknologi tentunya, dan saya percaya semuanya diciptakan untuk kepentingan dan kemudahan kita manusia. Namun bagaimana caranya agar pengaruh negatif dari perubahan zaman tidak menjadi alat yang dipakai si jahat sehingga manusia boleh dikatakan menjadi korban dari perubahan zaman tersebut.

Karena selain orang-orang dewasa, yang paling ironisnya dampak dari semua ini adalah para remaja dan anak-anak. Tentunya peran orang tualah sebagai orang yang paling bertanggung jawab untuk membentuk seorang anak, selain lingkungan tentunya.

Karena keluarga adalah kelompok kecil namun menjadi tolak ukur dan kunci kekuatan sebuah negara. Dari keluargalah akan lahir generasi-generasi yang kuat atau sebaliknya generasi-generasi yang lemah yang kelak akan menjadi penerus bangsa ini.

Hampir tidak ada lagi aturan-aturan lisan yang sifatnya mengikat dalam hal positif yang bisa mengerem perbuatan-perbuatan negatif dalam konteks kecil ataupun besar. Sudah tidak ada lagi kata tabu atau malu di zaman modern sekarang ini.

Sehingga sesuatu yang jahat di mata TUHAN sudah menjadi sesuatu yang sangat biasa untuk dilakukan. Banyak konsep berpikir yang awalnya kita tahu sesuatu itu salah tapi karena berulang-ulang dan sering dilakukan akhirnya menjadi sebuah kebenaran. Hati nurani manusia seringkali dikalahkan oleh banyaknya alasan-alasan penuh pertimbangan untuk kompromi dan toleransi dengan kata dosa.

Banyak pembenaran-pembenaran yang kita lakukan. Tidak berani mengatakan sesuatu yang salah kepada orang lain, mungkin dengan alasan, “tidak enak, takut menyinggung perasaan orang tersebut, atau dengan ungkapan itukan urusan pribadi masing-masing, atau pendapat lain lagi bahwa semua manusiakan tidak ada yang sempurna”.

Semua ini bisa tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari dalam pemerintahan, di dunia pekerjaan, di dunia usaha, di sekolah, di keluarga maupun dalam hubungan sosial lainnya.

Demikian juga ketika undang-undang sebagai aturan tertulis kadangkala dilanggar oleh si pelaku kejahatan seperti koruptor, pezina, pembunuh, perampok dan lain sebagainya, si pelaku kejahatan yang harusnya mendapat hukuman atas perbuatannya bisa begitu leluasa bebas tanpa merasa bersalah dan merasa terhukum. Di manakah sebuah kebenaran diletakkan, apakah kebenaran bisa ditawar atau diperjual belikan?.

Bukankah hal ini akan memberi dampak negatif bagi generasi berikutnya, ketika mereka melihat para orang tua yang dalam posisi apapun yang harusnya menjadi panutan boleh melakukan kesalahan yang disengaja dan tidak mendapat hukuman apa-apa.

Tatanan hidup manusia sudah sangat berubah. Dibutuhkan figur-figur yang tegas dan yang hidup benar yang memiliki otoritas dan yang peduli berfungsi menegakkan sebuah kebenaran. Pemimpin yang tegas dalam sebuah negara, seorang hamba TUHAN yang tegas dalam sebuah gereja, seorang pemimpin yang tegas dan benar dalam sebuah perusahaan, seorang guru yang tegas di sekolah dan seorang ayah yang tegas dalam sebuah keluarga.

Faktor-faktor yang sangat berperan penting dalam memengaruhi pola hidup manusia salah satunya adalah kemajuan-kemajuan teknologi yang menyuguhkan informasi-informasi secara visual. Ini bisa didapatkan dari televisi maupun internet. [Bersambung]. Sumber naskah: e-artikel-Renida Ambarita/Foto : istimewa.