Berita Bethel
Penulis: Pram (30/06/2017)
Menyikapi Pengaruh Negatif Sebuah Jaman (Bagian Kedua)

Televisi adalah media yang paling murah karena boleh dibilang benda yang satu ini hampir dimiliki oleh seluruh keluarga yang ada di pelosok tanah air kita. Sebagai orang tua, sadar atau tidak sadar perilaku anak-anak dan para remaja bahkan orang tua sendiri dibentuk oleh produk-produk yang disajikan oleh televisi.

Dari cara berpakaian, motivasi hidup, cara berbicara, cara berpikir, cara mendapatkan sesuatu yang serba instan, bahkan cara memilih makananpun, semuanya dibentuk oleh suguhan-suguhan yang ada di televisi kita. Televisi ibarat sebuah cermin kehidupan. Banyak tayangan yang tidak mendidik, tapi justru mengubah perilaku anak ataupun orang dewasa ingin menjadi seperti para pemeran yang ada di televisi.

Salah satunya sinetron yang selalu ingin menampilkan dan menyajikan mimpi-mimpi sebuah kehidupan yang serba gemerlap dan bergelimang harta, rumah mewah, mobil mewah, perhiasan yang berkilauan sampai busana-busana yang bermerek dan berkelas.

Tanpa kita sadari tontonan-tontonan ini telah menggiring pikiran kita, yang lama-kelamaan akan membentuk semua pola hidup manusia. Manusia seakan-akan dituntun untuk memenuhi kebutuhan akan rasa puas dalam memiliki sejumlah materi yang disajikan oleh televisi. Lihat saja pengaruh ini begitu besar membentuk pola pikir para remaja [walau tidak semua,Red] yang ingin hidup dengan gaya yang serba gemerlap dengan cara yang singkat dan terlarang.

Mereka tidak malu lagi bahkan sudah tidak dianggap sebagai dosa ketika mereka tidak segan-segan melakukan hal tidak terpuji untuk mendapatkan uang yang cepat dan banyak, karena orang tua mereka bukanlah orang tua yang cukup mampu untuk memenuhi semua kebutuhan mereka.

Studi dengan prestasi yang memuaskan bukan lagi sesuatu yang perlu dikejar ataupun diraih dan tidak memiliki nilai lagi, karena untuk mendapatkannya perlu kerja keras dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Gaya hidup orang dewasa tidak mau kalah glamornya, oleh tuntutan kehidupan yang serba kompleks ini, betapa mudahnya seseorang mencuri uang yang bukan miliknya dengan cara korupsi di pemerintahan maupun di perusahaan tempat bekerja dengan cara-cara yang mungkin bagi sebagian orang itu sah-sah saja. Toh tidak merugikan perusahaan atau yang jelas-jelas merugikan sekalipun asal tidak ketahuan.

Sesuatu hanya ingin dicapai dengan waktu yang relatif singkat dan tanpa sebuah pengorbanan. Belum lagi pengaruh brutal yang diperankan dalam adegan perkelahian dalam tayangan-tayangan film-film action oleh seorang jagoan yang ingin menunjukkan kehebatannya, atau adegan kekerasan dalam sinetron antara seorang majikan terhadap pembantunya.

Pengaruh ini dalam kehidupan nyata mampu mengubah perilaku seorang anak yang sangat belia yang masih sangat polos dengan tanpa belas kasihan tega menghabisi nyawa seorang teman bermainnya. Atau kasus-kasus perkelahian tawuran antar sekolah yang membawa begitu banyak korban jiwa. Dan banyak lagi kasus-kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak, seorang remaja maupun orang dewasa dengan motif yang beragam.

Orang dewasa bisa begitu tega membunuh orang yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya hanya karena sakit hati dan cemburu atau juga karena motivasi uang. Seorang ayah tanpa belas kasihan bisa menghabisi nyawa darah dagingnya sendiri, dan lain sebagainya. Sangat menyedihkan memang. Termasuk juga cara berpakaian para artis ataupun para pemeran televisi lainnya atau para wanita di luar itu, yang semakin hari semakin memilukan akibat kurangnya bahan.

Juga dengan pakaian-pakaian yang serba ketat dan minim yang ingin menonjolkan lekukan-lekukan tubuhnya. Yang kapan saja bisa menggoda lawan jenis untuk berpikir negatif. Anak-anak balita laki-laki sudah terbiasa melihat bagian-bagian tubuh tertentu yang sangat pribadi dari seorang wanita yang harusnya ditutupi ini, tapi mereka bisa melihatnya dengan bebas dari tontonan di televisi tanpa ada pendampingan ataupun larangan dari orang tua mereka.

Yang akhirnya secara usia, mereka belum mengerti apa itu seks, tapi perkembangan zaman memaksa mereka untuk menerima makanan keras yang seharusnya mereka bisa kunyah dan cerna setelah mereka dewasa nanti. Seorang dewasa, mudah sekali jatuh dalam dosa perzinaan dengan hidup sebagai layaknya pasangan suami istri dengan orang yang bukan pasangannya.  Serta banyak lagi dosa-dosa seks lainnya. [Sumber naskah: e-artikel-Renida Ambarita/Foto : istimewa].