Berita Bethel
Penulis: Pram (02/07/2017)
Berakar ke Dalam

“Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat”(Matius 13:23).

Seperti halnya sebuah pohon, kehidupan manusia memiliki  proses pertumbuhan dari benih, bertumbuh sampai besar, berbunga dan berbuah. Alkitab mengumpamakan kehidupan orang beriman itu dimulai dari sebuah benih yang jatuh ke tanah kemudian bertumbuh dan berbuah.

Ada proses pertumbuhan yang terjadi terhadap iman kita dan perumpamaan  ini mengajarkan  kita bahwa respon kita terhadap proses  menentukan buah dari pertumbuhan kita.

Seratus  tahun  terakhir, gereja  pentakosta,  kharismatik banyak  juga membicarakan tentang  “berbuah”. Ada  buah  pelayanan, dan  ada  buah kehidupan. Biasanya yang sering kita saksikan dan dibicarakan adalah buah pelayanan.

Buah pelayanan biasanya ditunjukkan dengan bertambah banyaknya jemaat yang hadir dalam ibadah dan banyaknya kegiatan sosial ataupun ibadah di luar gedung gereja. Banyak orang-orang yang dilayani dan diberkati, program- program gereja yang padat dan banyaknya  dana yang mengalir. Itu semua bagus, tetapi buah pelayanan adalah karya Roh kudus, dan belum tentu mewakili buah kehidupan kita yang sesungguhnya.

BUAH  KEHIDUPAN  itu berbicara tentang sesuatu yang lain, yaitu berbicara tentang hal MENJADI  SERUPA   DENGAN KRISTUS. inilah buah sesungguhnya  yang diminta oleh Bapa di surga.

Saat bicara buah pelayanan,  tentunya kita tidak perlu bicara tentang akar pohon tersebut, tetapi berbeda jika kita bicara tentang buah kehidupan. Selain kita bicara buahnya yaitu serupa dengan Kristus, kita juga harus bicara tentang akar pohon tersebut. Inilah topik yang jarang dibicarakan, karena pada umumnya manusia hanya tertarik dengan apa yang ada di atas tanah yaitu batang, bunga dan buah dari pohon tersebut.

Kita harus menyadari bahwa kualitas sebuah pohon juga ditentukan oleh akarnya. bukan itu saja, bahkan lebih lagi sangat ditentukan  oleh beberapa dalam akar tersebut masuk ke tanah.

Sebab jika datang angin ribut atau badai kehidupan, pohon sebagus apapun tidak akan kuat bertahan. Hanya pohon yang memiliki akar yang kuat dan dalam yang dapat bertahan menghadapi badai. Tentu akar yang dalam tidak akan tumbuh seketika dan hanya bisa bertumbuh di lahan yang tepat.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana  kita mengetahui bahwa akar kehidupan rohani kita benar benar sudah tertanam dengan dalam dan benar?. Sejarah Gereja mula mula sangat menekankan akan kesucian hati dan kekuatan iman yang berasal dari akar kehidupan yang dalam bersama Kristus, tetapi gereja modern  hari ini terkadang  lebih tertarik dengan apa yang merupakan penampilan “ luar” dari seseorang.

Karena itu untuk bisa mengetahui seberapa dalam akar rohani kita maka kita perlu mengalami dan melewati banyak pencobaan hidup, perlu mengalami ketakutan, keputusasaan,  disakiti bahkan pada tingkat tertentu kita perlu mengalami kematian. Yang terutama dalam hal ini  adalah seberapa kuat kita melewati semua hal yang buruk yang Tuhan ijinkan terjadi dan tetap percaya dan tidak kecewa kepada sang pencipta.

Itulah ukuran kedalaman akar rohani seseorang, sebab umumnya manusia tidak tahan menderita dan ingin cepat keluar dari penderitaanya.  Kita harus belajar dari kisah Ayub. Dia bukan saja seorang yang saleh ketika hidup dalam kenikmatan, tetapi dalam kesukaran dan pencobaan pun dia tetap teguh dan tidak mau meninggalkan  Tuhan.

Itu adalah bukti bahwa imannya telah berakar dalam, bahkan kesukaran karena badai masalah yang datang tiba-tiba, kesakitan karena batang kehormatannya  dipatahkan dan kehilangan semua buah dagingnya sekalipun tidak mampu mencabutnya dan mematikannya.[Sumber : R.A.B - Pdm. Selnop Padang/Foto : Istimewa].

Berusahalah bertahan selama mungkin, semakin dalam dan rendah hatilah di dalam Tuhan