Berita Bethel
Penulis: Pram (11/07/2017)
Menyikapi Pengaruh Negatif Sebuah Jaman (Bagian Ketiga)

Selain televisi, internet adalah salah satu media penyampai informasi visual paling cepat dan murah. Informasi ini begitu cepatnya sehingga sesuatu yang terjadi di belahan dunia lainnya dengan sekejap mata kita dapat mengetahuinya. Tidak dibutuhkan biaya yang cukup mahal, karena uang saku seorang anak SD sudah cukup untuk mendapatkan semua informasi yang kita inginkan.

 Akibatnya kejahatan seksual merajalela di mana-mana, baik itu dilakukan oleh anak kecil maupun orang dewasa. Dari hasil survei dari beberapa sumber yang saya dapatkan, anak laki-laki yang masih duduk di bangku SD sudah sering melihat foto-foto wanita tanpa busana, begitu juga dengan para remaja yang masih duduk di bangku SMP, 80% dari jumlah mereka sudah terbiasa melakukan hubungan terlarang dan akhirnya melakukan aborsi.

Masih dari hasil survei, diperkiraan dari jumlah pria dewasa, 70% diantaranya sudah sering mengakses internet yang berbau pornografi dan rata-rata dari mereka hidup dalam dosa perselingkuhan. Termasuk masalah kekerasan seksual, hampir tidak bisa dihitung lagi, berapa banyak kekerasan seksual yang terjadi di negara kita ini, baik yang dilakukan oleh orang dewasa maupun para remaja dan anak-anak, sangat memprihatinkan.

Akibat semua ini, moralitas bangsa kita lambat laun akan menuju sebuah kehancuran. Tapi sayangnya semua berjalan tanpa ada upaya untuk menanggulanginya, seakan-akan hal itu menjadi sesuatu yang wajar dan biasa saja. Mata dan telinga rohani kita sudah tidak peka dan tidak peduli lagi untuk membedakan sesuatu yang benar dan yang salah.

Ini yang disebut dengan dosa pembiaran. Atau pendapat lain mengatakan bahwa itu bukanlah menjadi kewajiban kita untuk menyelesaikannya. Semua pihak saling melempar tanggung jawab. Sudah seharusnya kita peduli dan bersama-sama memberantas semua kejahatan yang ada.

Dimulai dari keluarga di mana orang tua harus memberikan contoh yang baik, juga memberi batasan-batasan, menjelaskan apa yang perlu atau boleh ditonton dan apa yang tidak perlu atau tidak boleh ditonton dengan tegas dan benar.

Lebih sulit bagi kita kelak untuk membersihkan sesuatu yang sudah terlanjur menempel dan mengotori pikiran anak-anak kita, daripada membatasi dengan memberi pengertian serta pemahaman kepada mereka sejak dini mengapa dan untuk apa kita harus bijaksana memilih tayangan-tayangan yang bermanfaat bagi kita.

Dan anak-anak bisa diarahkan dengan memberi kegiatan-kegiatan positif yang bisa membangun kreatifitas mereka, seperti olah raga sambil bermain, membaca buku-buku yang mendidik, bermain musik, bermain sembari belajar memasak dan lain sebagainya.

Demikian juga pemerintah harus membuat suatu aturan yang harus dijalankan, apa dan bagaimana sebaiknya televisi harus menjadi sebuah media yang ikut berperan dalam membangun bangsa dan generasi mudanya, bukan malah ikut-ikutan menghancurkan generasi ini. Pemerintah juga harus memblokir setiap akses-akses yang berbau pornografi dan kekerasan.

Di pemerintahan ini sangat sedikit para pemimpin bangsa kita yang memiliki ketegasan dalam hal aturan,. Sebut saja beberapa sikap dan tindakan Kepala Daerah, ketika mereka ingin menegakkan sebuah kebenaran, tidak sedikit yang menganggap mereka sebagai pemimpin yang arogan dan tidak disenangi karena sikap mereka yang cenderung marah kalau melihat sesuatu yang salah.

Padahal pemimpin seperti inilah yang justru bisa mengubah perilaku dan kebiasaan negatif dalam sebuah masyarakat. Kita sudah terbiasa dengan pola hidup “asal orang lain senang, yang penting aman dan nyaman, sama-sama enak”. Marah bukanlah sebuah dosa. Yang disebut dosa adalah menjadi seorang pemarah yang diikuti dengan tindakan-tindakan kejahatan.

TUHAN YESUS saja pernah marah ketika Bait SuciNYA dijadikan tempat berdagang dan sarang penyamun, yang akhirnya DIA menjungkir balikkan barang-barang yang ada di sana (Lukas 19:45, dan Markus 11:15). Justru sebaliknya saat kita melihat sesuatu yang salah dan membiarkannya serta cenderung memeliharanya itu sama saja kita berbuat dosa. TUHAN YESUS juga sering menghardik orang-orang Farisi dan Ahli Taurat serta orang-orang Saduki yang bersikap munafik di hadapanNYA.

Dalam sebuah keluarga zaman sekarang, orang tua lebih cenderung membiarkan anak-anaknya melakukan kesalahan yang dimulai dari hal-hal kecil. Seperti contoh, pembenaran dengan kata-kata “diakan masih anak-anak, belum tahu apa-apa, nanti juga kalau sudah besar pasti berubah.” Pendidikan anak sejak dini itulah yang akan menentukan karakternya dewasa nanti.

Sama seperti ketika masih dalam kandungan, seorang anak akan lahir sehat, pintar dan sempurna ditentukan pada saat si bayi dalam kandungan, bahkan disebutkan jaringan otaknya dibentuk ketika bayi masih dalam kandungan ibunya. Bukankah karena alasan itu seorang ibu akan memberi asupan gizi yang terbaik kepada janin yang ada dalam kandungannya lewat apa yang seorang ibu makan dan minum.

Ia akan memilih makanan-makanan yang terbaik dan bukan itu saja bahkan cara berbicara, cara bersikap seorang ibu yang sedang mengandung akan memengaruhi pertumbuhan bayi dalam kandungannya. Padahal makhluk yang ada dalam rahimnya belum tahu apa-apa, lahir saja belum. Lalu bagaimana dengan anak yang sudah lahir di dunia ini dengan panca indera yang sudah lengkap yang TUHAN berikan yang siap menyerap apa saja yang dia lihat dan dengar.

Sehingga secara otomatis otaknya sebagai mesin penyimpan data akan merekam semua peristiwa-peristiwa yang dia dengar dan lihat baik itu hal-hal buruk maupun hal-hal yang benar. Apakah kita masih berani berkata bahwa dia cuma seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Coba kita bayangkan.

Sangat dibutuhkan pendidikan yang tegas dan benar dari orang tua. Anak-anak zaman sekarang hampir tidak memiliki rasa hormat lagi kepada kedua orang tua maupun orang yang dituakan. Anak-anak sudah tidak lagi melihat figur yang tegas dalam diri kedua orang tuanya. Dan orang tua sudah kehilangan figur yang berwibawa yang disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Berbeda dengan orang tua yang hidup pada zaman era 70-80an, figur seorang ayah begitu disegani.

Setiap aturan bisa ditegakkan dan seorang anak bisa melakukan sesuatu tanpa sebuah paksaan namun sangat ikhlas . Aturan berjalan dengan konsep yang dibangun atas hubungan yang formal namun keduanya bisa saling memahami. Sementara aturan yang dibuat saat ini sangat berbeda, seorang anak menganggap aturan itu akan mengekang dan cenderung dianggap sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap anak.

Pola pikir anak menjadi rancu, anak merasa dibela haknya ketika orang tua dianggap melakukan KDRT. Ketegasan aturan yang dimaksud bukanlah ketegasan dengan hukuman berupa pukulan-pukulan yang sampai menciderai ataupun menyakiti anak, tapi lebih kepada aturan-aturan yang dibuat dan disepakati bersama yang sifatnya mengikat dan jika tidak dilakukan akan diberi sanksi ringan, yang tujuannya tidak lebih untuk mengatur dan mendisplin si anak agar terbiasa hidup dalam jalur yang benar.

Anak perlu diberi penjelasan mengapa sebuah aturan dibuat, dan mengapa harus hidup dalam sebuah aturan yang benar, sehingga hal itu dapat dijalankan dengan kerelaan. Karena kalau kondisi ini dipelihara terus-menerus, lalu generasi seperti apa yang akan muncul 10-20 bahkan 30 tahun ke depan?.

Sejak TUHAN menciptakan Adam dan Hawa, TUHAN memberikan kebebasan kepada manusia untuk memakan semua buah yang ada dalam taman, namun melarang salah satu dari pohon yang ada untuk dimakan buahnya. Pada prinsipnya TUHAN sudah memberi aturan main dalam hidup ini. Kamu boleh makan yang ini dan tidak boleh makan yang itu. Kamu boleh melakukan yang ini dan sebaliknya tidak boleh melakukan yang itu.

Dan TUHAN memberitahu kepada manusia pada waktu itu, jika kamu melanggar aturan, maka konsekuensinya manusia akan mati. Mati artinya jatuh dalam dosa dan dihukum (Kejadian 2: 16-17). Ada dua pilihan dalam hidup, dan manusia punya kehendak bebas untuk memilih salah satu dari keduanya. Artinya, hidup benar atau hidup dalam dosa adalah sebuah pilihan dan tentunya dengan konsekuensi masing-masing.

TUHAN sangatlah baik, ketika manusia jatuh dalam dosa dan dihukum akibat ketidaktaatannya, DIA masih memberi solusi yang terakhir agar manusia bisa keluar dari lumpur dosa itu. BAPA mengutus PUTRANYA dengan memberi nyawa ANAKNYA untuk menebus dan mengangkat kita keluar dari kutuk dosa. Dengan percaya kepadaNYA dan berbalik kepada jalanNYA artinya berhenti berbuat dosa, maka kita akan diselamatkan dan masuk dalam KerajaanNYA yang kekal.

Namun masih banyak manusia yang tidak peduli dengan panggilanNYA dan mengeraskan hati, atau masih ada saja yang sudah percaya kepadaNYA tapi masih senang bermain-main dengan dosanya. Sebagai anak TUHAN yang sudah tahu kebenaran, kita harus berani untuk mengatakan tidak kepada dosa dan iya kepada kebenaran.

Jangan kompromi dengan si jahat. Jangan pernah berdiri pada zona abu-abu. Sebab TUHAN akan memuntahkan orang-orang yang hidupnya suam-suam kuku. Tidak panas namun juga tidak dingin (Wahyu 3:16). Saya tidak bermaksud menghakimi siapapun, karena firman TUHAN berlaku untuk siapa saja, firman itu seperti pedang bermata dua (Ibrani 4:12), yang akan menusuk kepada orang yang mendengar atau membaca dan kepada orang yang menyampaikan.

Kita harus saling membangun satu sama lain, karena kedatangan TUHAN yang sudah semakin dekat, agar kita saling meneguhkan dan saling memperbaiki diri, menjadi mempelai wanita KRISTUS yang kudus dan tak bercacat menyongsong kedatanganNYA yang kedua kali. Saya sangat tergerak untuk menyampaikan hal ini dalam artikel saya yang kedua. Semuanya mengalir begitu saja, saya percaya semua karena tuntunan ROH KUDUS.Sumber naskah: e-artikel-Renida Ambarita/Foto : istimewa.