Berita Bethel
Penulis: Pram (19/07/2017)
Mewaspadai Pengaruh Internet Pada Anak

Seminar dengan tajuk "Pengaruh Internet, Games, Musik dan Pornografi" digelar GBI PRJ Pluit (Jakarta, Sabtu, 15/7). Gereja ini adalah cabang dari GBI PRJ [CK 7], MGK Kemayoran, Jakarta-Pusat di bawah penggembalaan Pdt. Dr. Janto Simkoputera. Tampil sebagai nara sumber adalah Lukito Sutanto, praktisi pendidikan dan terapi dan Direktur Akademik Nasional Sekolah Global Jakarta.

Mengawali pemaparannya, Lukito mengatakan saat ini ada pandangan sebagian orang bahwa simbol "Surga" masa kini adalah internet yang bisa mengakses musik-musik, permainan (games) secara online. Dirinya prihatin kalau saat ini makin banyak kejahatan seks terhadap anak-anak. Bahkan, banyak anak-anak yang kecanduan internet sehingga muncul istilah "Internet Addiction Disorder".

Jumlah pengguna internet menurut data-data yang dikutipnya, pulau Jawa adalah pengguna terbesar yakni 86,3 juta orang (65 %) dari total populasi penduduk 256,2 juta. Sisanya tersebar di pulau-pulau lainnya. Secara keseluruhan di Indonesia,  pengguna internet pria mencapai 47,5 % dan wanita sebesar 52,5 %. Sementara itu, jika di bagi menurut kategori jenis pengguna,  jumlah pelajar mencapai 11,3 juta.

Selanjutnya, ia membagi tahapan-tahapan kecanduan itu mulai dari coba-coba, pemakaian rutin, penggunaan internet yang beresiko, sampai akhirnya mengalami ketergantungan (dependency). Dua nats dikutip nara sumber masing-masing dari 2 Timotius 3:1-4 3:1 Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.3:2 Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama,..................".

Serta nats Roma 8:15-16 "Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!........".

"Kecanduan terhadap sesuatu (apapun) adalah identik dengan (menjadi) budak," tegasnya.  Ia menambahkan di dunia maya (media sosial), bila seseorang memposting komentar yang baik atau memberikan tanda "LIKE", belum tentu setuju atau suka dengan postingan seseorang. Di era internet saat ini, banyak orang yang berimajinasi tentang sesuatu hal. Misalnya ia memberikan contoh, jika seseorang ingin makan makanan atau buah-buahan di dunia maya, langsung ketik nama atau jenis makanan itu maka dalam sekejab tersaji makanan (buah) dalam bentuk gambar (tidak nyata).

Kegunaan internet dan media sosial menurut Lukito berfungsi sebagai salah satu sarana membangun hubungan, pembelajaran dan pengajaran, ekspresikan empati, saling silaturahmi, sumber sharing (berbagi dan mendidik), meningkatkan rasa percaya diri, partisipasi dalam kegiatan komunitas.

Lukito secara fair mengungkapkan tidak semua media sosial yang didukung internet memiliki kegunaan negatif.

Sisi positifnya antara lain mencari (browsing) tentang sesuatu, melihat foto atau video kemudian share (membagi) dengan pihak lain), menjawab (komunikasi) dengan pihak lain, memberikan komentar atas postingan pihak lain, bicara langsung (chatting) online, posting (memuat) konten baru.

Sebaliknya, sisi negatif media sosial antara lain meng-alokasikan waktu yang banyak dalam keheningan (silence) untuk konsen ke FB (media sosial), semakin terpacu menggunakan FB, FB digunakan sebagai sarana melupakan problem pribadi sehari-hari, muncul perasaan tidak nyaman jika di-stop menggunakan FB. Konflik-konflik (efek negatif) yang kemudian bisa muncul seperti gangguan pada pekerjaan atau studi.

Bila berlebihan, internet dan med sos bisa menimbulkan ketagihan, keterikatan sehingga bisa menimbulkan hal-hal yang negatif antara lain meningkatkan kekerasan, ancaman kepada pihak lain, menimbulkan rasa tidak bahagia yang bersumber di otak, rasa bersalah dalam berhubungan (komunikasi, pergaulan) dengan pihak lain, mengurangi produktifitas, mempengaruhi kesopan-santunan, menimbulkan kekacauan.

Pemaparan sesi pertama diakhiri  dengan tanya jawab dan kemudian dilanjutkan dengan sesi kedua dengan topik "Bahaya Game online, musik dan pornografi".