Berita Bethel
Penulis: Pram (25/07/2017)
Pemimpin Musti Sehat

"Salah satu hal yang utama dalam kepemimpinan adalah pemimpin musti sehat dan bisa menambahkan nilai kepada orang (pihak) lain", tegas Ps. Jeffrey Rachmat, pendiri dan gembala sidang JPCC (Jakarta Praise Community Church).

Ia tampil sebagai nara sumber sesi ketiga dan keempat pada acara Pastors & Leaders Conference 2017 dengan tema "Gereja Sehat Pasti Bertumbuh". Kegiatan ini diadakan Departemen Pengembangan dan Jaringan BPH GBI bertempat di GBI Nafiri Allah, Jakarta-Barat (24-25 Juli 2017).

Ia memaparkan tentang kriteria pemimpin yang sehat yaitu : 1. Bisa memimpin dirinya sendiri (50%). 2. Memimpin pimpinan yang se-level dengan dirinya (20%). 3. Memimpin ke atas (25%). 4. Memimpin bawahan (5%). Pemimpin yang sehat tambahnya, musti terbuka, jujur dengan diri sendiri (I Timotius 4:6) dan sesuai dengan 2 Korintus 13:5.

Ia mengingatkan peserta agar melakukan check-up apakah pelayanan yang dilakukan  seorang pelayan Tuhan menjadikan ia optimis atau malahan pesimis. "Jangan sampai sebagai pemimpin ia berkotbah dengan mantap soal iman, tetapi dirinya sendiri tidak ber-iman kepada Yesus Kristus, melainkan kepada pebisnis. Ps. Jeffrey Rachmat kemudian mengutip nats Galatia 6:1 dan Titus 2:6-8.

2. Pemimpin bergerak berdasarkan visi, bukan emosi dan ikut-ikutan. 3. Ia musti mampu membangun team (pelayanan), sesuai dengan nats Keluaran 18:17-18. Ps. Jeffrey mengingatkan agar seorang pemimpin musti bisa mengenali kesalahannya dan tidak melakukan (mengulangi) kesalahan itu.  Team itu, imbuhnya musti tidak berorientasi kepada penghargaan semata.

"Jika team sukses maka itu adalah keberhasilan bersama. Demikian juga jika terjadi sebaliknya. Masukkan anggota team dengan komposisi 70 persen dibandingkan dengan usia pemimpin. Namun, mereka musti paham visi dan didorong visi kemudian menjadi The Dream Team. Never Do It Alone, Bring The People With You," tegasnya.

4. Kualitas anak buah bisa diketahui dari kualitas pemimpin. Ia memcontohkan jika pemimpin suka melayani atau bekerja sembarangan, maka anak buahnya pasti demikian. Ps. Jeffrey selanjutnya membacakan nats Filipi 4:9 dan Yohanes 5:19.

5. Pemimpin musti bisa antisipasi perubahan zaman, teknologi dan transportasi yang berkembang dengan pesat. 6. Ia mampu menjadi pendengar yang baik dan bersedia menerima kritik. 7. Bersedia bergaul dengan orang lain, termasuk gereja lain. "Waspada jika muncul kultus individu seperti pembicara yang bagus (ngetop) dan lain-lain,"pesannya.

7. Berprinsip bahwa orang yang ia layani (pimpin) adalah orang yang lebih penting daripada dirinya. Otoritas yang dimilikinya untuk mengangkat derajat orang lain. Bukan bossi (gaya ngebos). 8. Pemimpin musti relevan (up to date), mengerti zaman termasuk perkembangan zaman, bisa antisipasi perubahan sebelum perubahan terjadi.

8. Perlu kesatuan hati antara pemimpin dengan orang yang dipimpinnya (I Korintus 12: 20-17). Tubuh terdiri dari kerangka yang saling terkait satu sama lainnya. Musti saling menghormati dan membutuhkan satu sama lainnya.

"Masuklah ke dunia generasi milenial dan jangkaulah mereka. Bangun "jembatan" dengan mereka. Tuhan siapkan the next generation guna menghadapi tantangan masa depan. Dengarkan kreatifitas mereka, namun jangan berdandan (bergaya) seperti pemuda usia 20 tahunan," pungkasnya.Sesi berikutnya adalah lokakarya, salah satunya mengelola keuangan gereja dengan  nara sumber Pdt. Juan Mogi.

Artikel terkait :

Maju Mundur Gereja Tergantung Pemimpin

Gereja Tanpa Visi = Tanpa Arah & Kelelahan