Berita Bethel
Penulis: Pram (31/07/2017)
Ketika Tuhan Merasa Sedih

“Masakan Aku membiarkan engkau, hai Efraim, menyerahkan engkau, hai Israel ?.Masakan Aku membiarkan engkau seperti Adma, mem- buat engkau seperti Zeboim?  Hati-Ku ber- balik dalam diri-Ku, belas kasihan-Ku bangkit serentak” (Hosea 11:8).

Pernahkah anda mengamati tingkah anak bayi ?. Seringkali saya dibuat jengkel sekaligus gemas. Setiap benda apa saja yang ditemukan pasti akan dimasukkan ke mulutnya, tidak perduli apakah itu bersih atau kotor. Seringkali bayi juga merangkak ke tempat-tempat berbahaya, seperti  turunan tangga, kamar mandi yang kotor, bahkan halaman.

Ironisnya ketika kita panggil bayi itu agar jangan ke tempat berbahaya, semakin dia melangkah menjauh. Seringkali juga anak bayi tidak tahu bahwa mereka berhadapan  dengan serangga-serangga berbahaya, dan menganggap  itu adalah mainan atau sekedar benda mati. Tetapi bagaimana lagi, begitulah bayi, mereka memang tidak menger ti segala sesuatu dan bahkan belum mengerti kehendak  orang tuanya.

Tetapi yang mengherankan adalah sifat umat Allah di jaman nabi Hosea ini masih seperti bayi. Walaupun  Allah sudah memanggil mereka sejak dahulu kala dari Mesir, tetapi mereka masih belum mengerti kehendak Tuhan Allahnya. Berulang kali Tuhan mengajar dan memimpin langkah mereka, tetapi mereka masih melakukan hal-hal yang najis di mata Tuhan (ay. 2).

Meskipun Tuhan sudah memanggil mereka dengan kasih dan kuasanya, mereka tetap menjauh dari Tuhan dan membelakangi-Nya dengan cara mendua hati menyembah baal (ay. 7). Walaupun Tuhan Allah sudah memperingatkan dan menunjukkan jalan- jalan-Nya yang benar, mereka tetap melangkah kepada jerat pemberontakan dan  keegoisan, sehingga  umat-Nya jatuh menjadi tawanan  yang  hilang kehormatannya.

Melalui nabi Hosea Allah mengungkapkan rasa kepedihan hatinya akibat umat yang suka melawan.  “Aku menarik mereka dengan tali kesetiaan,  dengan ikatan kasih. Bagi mereka  Aku seperti orang yang mengangkat  kuk dari tulang rahang mereka; Aku membungkuk kepada mereka untuk memberi mereka. Walaupun sudah merasakan pemeliharaan  Allah, tetapi mereka tetap menolak Tuhan, sehingga mereka harus menerima konsekuensinya.

Walaupun demikian hati Tuhan tetap setia kepada umat-Nya dan belas kasihan-Nya bangkit terhadap umat-Nya. seper ti  hati bapak kepada anaknya, Dia tidak menolak umat-Nya walaupun umat-Nya tidak setia. Pemazmur berkata “seperti  bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian Tuhan sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia” (Mzm. 103:13). Bahkan kasih Allah Bapa sempurna dan dibuktikan dengan memberikan anak-Nya yang tunggal untuk menebus manusia dari dosa-dosanya (Yoh. 3:16).

Oleh karena itu, mari jangan sia-siakan kasih Tuhan. Jika Tuhan sudah demikian mengasihi kita, sebagai anak yang baik kita harus memberikan respon yang tepat dan hidup berkenan kepada Bapa di sorga. Respon kita terhadap kasih Tuhan adalah iman percaya kita, dan iman kita kepada Tuhan harus dimanifestasikan sebagai ibadah yang benar.

Paulus berkata dalam Roma 12:1, “Karena itu, saudara- saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan  kepada  Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” Mari tinggalkan pemberontakan dan kebebalan dan mulai hidup dalam perkenanan Tuhan. [Sumber : R.A.B - Pdm. Hiruniko Ruben,  M.Th/Foto : Istimewa]. Biar hati Tuhan bahagia  karena hidup anak-anak-Nya  yang berkenan kepada-Nya.