Berita Bethel
Penulis: Pram (01/04/2015)

Keluarga dan Tanggung-Jawab Pendidikan


Dalam Alkitab kita menemukan tugas utama dalam mendidik anak ada pada orang tua. Sejak anak dibesarkan, peran orangtua tidak dapat diabaikan, baik pemberian nutrisi, pemeliharaan, pendidikan, dan keteladanan bagi perkembangan anak, baik untuk perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional maupun spiritual. Namun seiring bertambahnya usia anak dan terbatasnya  kemampuan orang tua dalam berbagai aspek pengetahuan serta kesibukan tuntutan kehidupan, sebagian orangtua terabaikan perannya sebagai pendidik utama. Mereka hampir sepenuhnya  menyerahkan tugas mendidik hanya kepada sekolah.



Tugas Orang Tua : Kitab Ulangan 6:4-9 memberikan catatan yang sangat jelas bagaimana tugas mendidik dilakukan oleh para orang tua kepada anak. Secara perspektif teks Perjanjian Lama kitab Ulangan 6:4-9 memberikan catatan bahwa setiap keluarga khususnya orang tua mendapat tugas yang besar dalam memberikan layanan pendidikan kepada anak-anak mereka. Mengajar dan mendidikan anak dalam keluarga dapat dilaksanakan kapan pun dan dimana pun, lebih lanjut metode dan strateginya pun dapat dikemas sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan tiap-tiap keluarga.Menguraikan isi dari kitab Ulangan 6:4-9 dapat kita lihat secara sepintas beberapa hal yang prinsip dalam pendidikan melalui keluarga. Pertama, tugas pendidikan adalah mandat dari Tuhan yang diberikan kepada orangtua (kepala keluarga) atau para orang tua. Jika demikia tugas ini adalah tugas yang besar, dan bukan saja ditugaskan oleh pribadi atau lembaga melainkan Tuhan sendiri. Karena itu  konsekwensinya ialah bertanggung jawab kepada Tuhan secara langsung dan tugas ini memiliki nilai  ilahi.



Kedua, pendidikan dilakukan secara berulang-ulang, maksudnya ialah bukan hanya dalam  kategori sekali dan selesai, melainkan secara terus menerus. Hal ini mengandung pemahaman bahwa pendidikan di keluarga bukanlah pendidikan yang berasaskan pada waktu dan periodik seperti pada pendidikan sekolah yang dibingkai dengan semester atau waktu pembelajaran. Justru sebaliknya pendidikan dalam keluarga berlangsung secara terus menerus. Ketiga, tempat pendidikan dapat  dilaksanakan kapan saja dan dimana saja, apakah pada waktu duduk, dalam perjalanan, sedang berbaring atau bangun, jelas hal ini memberikan indikasi bahwa semua tempat dan kondisi dapat  menjadi sarana pendidikan bagi keluarga, dan hal ini dilakukan oleh orang tua. Keempat, Metode pengajarannya dengan tradisi lisan yakni membicarakannya berulang-ulang.



Pokok yang ingin ditekankan disini ialah bahwa dengan membicarakan berulang-ulang maka akan terjadi pengendapan  ajaran, nasehat dan juga tuntunan. Lebih lanjut dengan sistem pengulangan ini maka frekuensi pengajarannya pun menjadi lebih memadai.Tugas utama pendidikan anak dalam keluarga ialah tanggung jawab orang tua meskipun dalam hal operasionalnya lembaga keluarga bisa berkolaborasi dengan sekolah dna gereja dalam melaksanakannya. Yang pasti keluarga menjadi tempat pertama dan utama bagi pendidikan anak.Tugas ini harus dimengerti oleh setiap kepala keluarga (orangtua).



Sekolah Kristen : Dalam perspektif Kristen, sekolah adalah mitra orang tua dalam mendidik anak-anak mereka. Sedangkan orangtua adalah pendidik utama. Sekolah Kristen harus menyelaraskan prinsip pendidikan Kristen berkaitan pengembangan karakter dan pendisiplinan anak baik di sekolah maupun di rumah. Sekolah Kristen adalah perpanjangan tangan dari orangtua dalam mendidik anak. Sekolah Kristen berkesempatan menggunakan pertemuan orang tua murid sebagai sarana “parenting school“ dengan tujuannya menjalin relasi dan kebersamaan dalam mengembangkan karakter, sikap, moral, dan spiritual anak. Untuk dapat membangun hubungan tersebut, Sekolah Kristen harus memiliki filsafat dan prinsip-prinsip pendidikan Kristen yang bersumber pada kebenaran Firman Tuhan.



Peran Firman Tuhan : Landasan dasar yang digunakan dalam pendidikan anak adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan merupakan sumber keselamatan, kebenaran, hikmat dan pengetahuan. “Sebab di dalam Dialah tersembunyi  segala harta hikmat dan pengetahuan.” (Kol. 2:3). Alkitab juga menyatakan bahwa Allah tidak hanya menciptakan segala sesuatu tetapi segala sesuatu diciptakan untuk-Nya. Sebagai Pencipta, Allah adalah kekekalan dan sumber kebenaran yang sejati. Ketika Firman Allah dihapus dari proses pendidikan, pendidikan hanyalah kesia-siaan belaka manusia. Pendidikan yang dikembangkannya akan menjadi praksisi yang menyesatkan dan mengingkari Tuhan sebagai sumber sumber keselamatan, kebenaran, sumber hikmat dan sumber pengetahuan. Apapun yang kita ajarkan kepada anak-anak dan remaja harus didasarkan pada kebenaran mutlak dalam Firman Allah.



Basis Pendidikan adalah Firman Tuhan : Salah satu pendiri ACSI, Roy W. Lorie (Association of Christian Schools International) mengatakan,“Tak ada satu pelajaranpun dapat diajarkan dengan tuntas dalam kebenarannya jika Sang Pencipta diabaikan atau diingkari.” Pernyataan ini memberikan penjelasan yang penting dan prinsip bahwa pendidikan anak harus berbasis Firman Tuhan; tanpa Firman Tuhan pendidikan anak tidak akan mungkin berjalan daengan baik. Karena itu setiap orang tua harus bertumbuh dalam pemahaman  Firman Tuhan, memahami dan mengalami, barulah dikemudian dapat menerapkan dalam proses pendidikan anak. Apa dampak pendidikan bagi anak dalam menghadapi masa depan? Jika kita menganalisa lebih dalam maka dapat kita temukan beberapa hal antara lain: Pertama, pendidikan mempersiapkan anak untukmenghadapi kehidupannya di dunia dan dalam kekekalan. Pendidikan anak-anak dalam perspektif  Kristen memiliki perspektif kekekalan dalam kehidupannya. Allah meletakkan dua panggilan dalam kehidupan anak. Pertama, panggilan yang melibatkan panggilan Allah bagi seseorang untuk kehidupan  pelayanan iman dalam keseharian kehidupannya.



Kedua, panggilan kehidupan anak dalam kekekalan, yaitu agar setiap anak mengenal Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Kedua, pendidikan anak dalam perspektif Kristen tidak saja mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan masa depan, tetapi juga kehidupan dalam kebersamaan dengan Allah. Tujuan prinsip ini harus terpatri dalam diri orang tua sebagai pendidik anak, sebab yang amat penting ialah bagaiimana membangun persekutuan dengan Allah. Berbeda dengan pendidikan Kristen, pendidikan sekuler hanya berfokus pada kehidupan masa kini yang menekankan kesuksesan, kompetisi, dan kemakmuran.Bagi pendidikan sekuler, sukses finansial adalah tujuan yang terutama dalam pendidikan masa kini.Ketiga, pendidikan anak dalam perspektif Kristen hendak membawa anak-anak kepada pengembangan moral dan karakter Kristiani yang berbasis pada Firman Tuhan. Dengan demikian tujuan yang harus nyata dari pendidikan membawa anak-anak pada pengembangan dan pertumbuhan karakter yang sesuai dengan Firman Tuhan. [Pdt.Dr.Purim Marbun, Ketua Departemen Pendidikan dan Latihan BPH GBI).