Berita Bethel
Penulis: Pram (11/10/2017)
Gereja Jangan Berpikir E.G.P !

Jeremy Bentham seorang filosof dan ekonom yang hidup di Inggris 200 tahunan lalu menyerahkan sebidang tanah seluas 200 hektare kepada salah satu badan amal [yayasan] di London, Inggris.

Uniknya, ia berwasiat agar kelak jika ia meninggal jasadnya diawetkan. Pihak penerima wasiat menyusun jasadnya dalam posisi duduk dan ditempatkan di sebuah lemari kaca. Hingga kini, pengunjung atau pasien RS bisa melihatnya di University College Hospital, London..

Wasiat lainnya, kelak jika wafat ia minta agar tetap terdaftar sebagai pengurus di yayasan pendiri University College Hospital, London.Sampai saat ini, ketika para pengurus menggelar rapat, jasadnya dihadirkan namun tidak bisa memberikan suara [pendapat]. Ilustrasi ini diceritakan Pdt. Dr. Bambang Wijaya di Graha Bethel, Jakarta (Rabu, 11/10) pada acara pertemuan para pemimpin gereja.

Ia memaknai ilustrasi nyata itu sebagai gereja yang ada di tengah-tengah masyarakat namun tidak berbuat apa-apa untuk kepentingan positif bagi lingkungan sekitar.

Selanjutnya, ia memaparkan tiga langkah nyata dan berdampak  besar lingkungan sekitar yang musti mendapatkan atensi dan respons gereja berdasarkan nats Lukas 10:32-35 :

Langkah pertama : Gereja musti memiliki kepekaan terhadap kebutuhan (masyarakat) di sekitarnya. Ia menegaskan jangan sampai gereja EGP [Emang Gue Pikirin] alias sebetulnya gereja tahu kebutuhan itu, namun pura-pura tidak tahu.

Pdt. Bambang mengibaratkan seperti seorang imam Lewi yang sedang lewat di suatu lokasi, ketika menjumpai seorang warga Samaria yang terluka tak berdaya namun terus lewat dan pura-pura tidak melihat [ayat 32].

Langkah kedua : Gereja musti rela bayar harga. Orang Samaria yang selama ini dianggap rendah, sesat  oleh orang Yahudi malahan menolong korban. Ia rela berjalan kaki sementara korban dinaikkan ke atas keledainya dan dibawa ke penginapan untuk mendapatkan perawatan yang semestinya [ayat 33-34].

Langkah ketiga : Gereja musti bersedia saling bekerja-sama dengan pihak-pihak lain. Sebelum check out dari penginapan, orang Samaria itu memberikan sejumlah uang untuk biaya perawatan korban [ayat 35].

Maknanya, menurut Pdt. Bambang ialah gereja tidak bisa melayani sendirian tanpa menggadeng pihak-pihak lain seperti gereja lokal lain, Sinode-sinode lain. "Tidak ada gereja satupun yang bakalan mampu menyelesaikan tugas-tugas pelayanan sendirian," pungkasnya.