Berita Bethel
Penulis: Pram (12/10/2017)
Perlu Keseimbangan Pelayanan Gereja

Pelayanan gereja musti balance [seimbang] antara ke dalam dan keluar. Ada kenyataan kekinian, pelayanan gereja secara internal "jor-joran". Sebaliknya kalo eksternal kurang berkorban. Sehingga membentuk pola pikir "apa [keuntungan] yang saya dapat dari pelayanan ini ?".

Seharusnya apa yang Bapa di Surga [Kerajaan Allah] dapatkan dari suatu pelayanan. Demikian ini kalimat pembuka sambutan Ketua Umum BPH GBI, Pdt. Dr. Japarlin Marbun pada sesi pertemuan para pemimpin gereja di Graha Bethel, Jakarta-Pusat [Rabu, 11/10].

Ia yang baru saja mendarat dari USA karena menghadiri pertemuan di Church of God, Cleveland, Tennesse, Amerika-Serikat yakni The Council of 18 bersama perwakilan COG yang berada di 186 negara, termasuk Indonesia. 

Lebih lanjut, ia prihatin ada juga gereja tertentu yang terpaksa di tutup karena tidak mendatangan keuntungan secara finansial alias rugi. Ia mengingatkan buka gereja bukan sama dengan buka warung atau restoran [bisnis], tetapi musti berlandaskan semangat pelayanan dan rela berkorban. "Gereja musti fokus secara seimbang antara pelayanan internal dan eksternal, agar efektif," tegasnya.

Hubungan antara Pemerintah dengan GBI berlangsung dengan baik. Salah satu contoh, Pdt. Japarlin menceritakan pada bulan Agustus 2017, pihak protokoler Istana Negara mengundangnya untuk bertemu Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta [Senen, 21/8].

Ketum BPH GBI selanjutnya didampingi oleh pengurus BPH GBI sekitar 10 orang. Pdt Japarlin atas nama GBI mengapresiasi peran serta Pemerintah dalam pembangunan nasional.

Lebih lanjut, Presiden mengapresiasi kegiatan-kegiatan GBI bagi masyarakat luas. Ketum menyampaikan kepada Presiden bahwa GBI ada di kota-kota sampai pelosok-pelosok Nusantara. Dalam hal kegiatan sosial, GBI memiliki sekitar 7.000 relawan Tagana untuk bantuan bencana alam, PAUD, poliklinik, pendidikan dasar, menengah, sampai pendidikan tinggi.

Di akhir pertemuan, Presiden berpesan agar para pengusaha-pengusaha GBI turut serta membantu Pemerintah dalam program pengentasan kemiskinan.Pihak BPH GBI akan melakukan follow-up seperlunya.

Berbicara soal kegiatan pelayanan, seolah kilas balik, Pdt. Japarlin menceritakan almarhum ayahnya yang nota bene hanya "jebolan: kelas 5 SD dan berprofesi sebagai tukang bangunan rumah penduduk, namun setelah selesai dibangun maka rumah-rumah itu banyak menjadi gereja baru di kampung halamannya di Parbotihan, Propinsi Sumatera Utara. Termasuk juga mencetak banyak hamba-hamba Tuhan. "Modal almarhum ayah saya hanya kecintaan penuh buat Tuhan dan pekerjaan-Nya, itu yang menjadi motivasinya dalam melayani Tuhan," ujarnya diakhir sambutan.