Berita Bethel
Penulis: Pram (06/11/2017)
Dibebaskan Setiap Hari oleh Yesus

Pdt. Gilbert Lumoindong (GL Ministry) meluncurkan sebuah buku renungan tahunan 2018 dengan judul "Dibebaskan Setiap Hari oleh Yesus" di TB Gramedia, Grand Indonesia, Jakarta (Sabtu, 4/4). Dalam keterangan persnya, ia mengatakan renungan ini bertujuan untuk memberikan makanan rohani buat jemaat, pribadi-pribadi, komunitas walau ia tidak hadir secara fisik buat mereka. Sekaligus ini merupakan tanggung-jawab dan konsistensi dirinya selaku hamba Tuhan.

Pdt. Gilbert menulis renungan tahunan dalam tema yang berbeda-beda,sesuai dengan visi Tuhan. Buku-buku yang pernah dituliskannya sebelumnya antara lain Mujizat Setiap Hari dan Dipercepat Setiap Hari. Ia menyoroti makin banyaknya tantangan masa kini sehingga banyak orang stress, putus asa, berita-berita hoax, pembunuhan. "Orang percaya perlu ketenangan dari Surga," ujarnya.

Menurutnya, orang percaya memperoleh pembebasan setiap hari oleh Yesus. Dalam konteks bebas iri hati, trauma, masalah, dengki dan lain-lain. Bahkan sebelumnya ada istilah "happy weekend", seolah-olah kalau akhir pekan bebas masalah. Padahal imbuhnya tidak demikian kenyataannya. "Kita percaya ada pembebasan setiap hari (oleh Yesus), setiap jemaat harus alami pembebasan. Ini sesuai juga dengan tema besar GBI 2017 yakni penuaian jiwa-jiwa," tegasnya.

Menjawab pertanyaan Redaksi soal isi renungan apakah menjangkau untuk kaum muda, pimpinan GL Ministry ini juga menjelaskan bahwa dirinya memotivasi kaum muda. Ia berpandangan hal itu perlu sebab para anak muda tengah bergumul soal masa depan, karier, sehingga perlu makanan rohani.

Lebih lanjut, Pdt. Gilbert menambahkan tantangan anak muda semakin berat, antara lain banyaknya tawaran-tawaran jahat di sekeliling mereka. "Zaman dulu mau berbuat dosa mahal dan susah. Kini semakin mudah dan murah, pakai aplikasi bisa lihat hal-hal yang tidak benar," tegasnya.

Ketika Redaksi menanyakan apakah ada relevansi (benang merah) antara Seminar 500 Tahun Reformasi Gereja (1517-2017) dengan launching buku renungan ini, mengingat hari dan tanggal yang bersamaan, walau beda waktu dan tempat, Pdt. Gilbert menjawab even ini tidak ada hubungannya. "Pihak Panitia telah merancangkan tanggal launching buku renungan ini tiga bulan sebelum sebelum Seminar itu," tegasnya.

Menjawab pertanyaan Redaksi perihal kontribusi keluarga dalam ide-ide penulisan renungan ini, Pdt. Gilbert mengakui hal ini. "Tentunya sumber utama adalah Roh Kudus, Firman Tuhan, perenungan pribadi, dan perbincangan dengan keluarga," katanya.

No problem bagi Pdt. Gilbert tetap mencetak buku renungan dalam format printed, walaupun kini di zaman teknologi internet dengan banyaknya fitur renungan di dunia maya. Ia yakin kalau membaca buku renungan cetak lebih sehat jika dibandingkan baca via gawai (gadget) dan tidak bisa muncul gambar (foto) yang aneh-aneh.

Di akhir preskon, dirinya prihatin kalau saat ini banyak orang "terjebak" di tengah-tengah situasi penggunaan kata-kata atau kalimat yang "menjajah" kehidupan banyak orang seperti istilah-istilah yang mengarah kepada kesukuan tertentu. "Indonesia ini satu dan diberkati. Pancasila juga," tegasnya. Para pembeli buku renungan kemudian antre satu per satu untuk mendapatkan tanda-tangan Pdt. Gilbert yang saat itu didampingi istri tercinta, Reinda dan chief editor.