Berita Bethel
Penulis: Pram (13/11/2017)
Diskusi Pewarna : Laksamana Jhon Lie adalah Pahlawan Nasional

Usai opening oleh Pdt. Dr. Ferry Haurissa (BPH GBI) mewakili Ketua Umum BPH GBI, acara diskusi dengan tema "Warna Sejarah Pahlawan Indonesia" diawali oleh pemaparan nara sumber pertama yakni May Jend TNI AD (Purn) Glenny Kairupan. 

Acara dilaksanakan di Graha Bethel, Jakarta (10/11) oleh DPP Pewarna (Persatuan Wartawan Nasrani) Indonesia - BPH GBI - MUKI (Majelis Umat Kristen Indonesia) dalam rangka mengenang kembali perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan RI serta dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 10 Nopember 2017. 

Glenny Kairupan mengatakan hari pahlawan ini terjadi karena Inggris. Ia menceritakan secara singkat kedatangan tentara Inggris, Belanda dan Gurkha (Sekutu) di Surabaya, Jawa-Timur mendorong arek-arek Suroboyo mengangkat senjata melewan mereka. 

Selanjutnya peristiwa tertembaknya Jenderal Sekutu yakni Brig Jend Mallaby di Jembatan Merah, Surabaya-Jawa Timur sebagai pemimpin tentara Sekutu mengakibatkan serangan balasan secara besar-besaran buat warga Surabaya. Korban sekitar enam jutaan korban jatuh di pihak Indonesia, sementara sekitar 2 juta tentara Sekutu tewas.   

Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, MTh (Bendahara Umum BPH GBI) selaku nara sumber kedua menyayangkan nama-nama pahlawan nasional keturunan Tionghwa jarang disebut di sekolah-sekolah. "Padahal keturunan Tionghwa punya peran dalam merebut kemerdekaan. Ayah saya juga seorang veteran," kata Pdt. Suyapto. 

Ia kemudian memberikan contoh kiprah perjuangan Almarhum Laksamana Muda John Lie (Yahya Daniel Darma). Beliau membawa karet sebanyak 800 ton dari Indonesia untuk dijual ke Singapura.

 Pulangnya, ia membawa senjata buat para pejuang RI. Presiden SBY kala menjabat, menetapkan almarhum sebagai pahlawan nasional (09 Nopember 2009). 

Pdt. Suyapto prihatin terhadap aturan-aturan yang cenderung mempersulit keturunan Tionghwa di era Orde Baru. Namun, ia mensyukuri bahwa saat ini di era reformasi hal itu telah dihapus (ditiadakan). 

Nara sumber ketiga, Djasarmen Purba (Ketua Umum MUKI, anggota DPD RI Dapil Propinsi Kepri) memaparkan secara singkat perjuangan para pejuang di era kemerdekaan dan setelah masa itu yang nota bene Kristiani. 

Mereka antara lain Leimena, Latuharhary, Amir Syarifudin, Sam Ratulangi, TB Simatupang (militer), Alex Mendur, Adi Sucipto, Yos Sudarso. Selain itu ada juga dari kalangan militer antara lain  Pierre Tendean, Kawilarang, Simbolon, M. Panggabean, DI Panjaitan, dan lain-lain. 

Periode perjuangan di tahun sekitar 1908 (Budi Utomo, 20 Mei 1908), Sumpah Pemuda (1928) sampai puncaknya di tahun 1945 dengan partisipasi organisasi kepemudaan Kristen dan para pejuang Kristiani diuraikannya secara ringkas pula. 

Selanjutnya tanggapan disampaikan oleh Brig Jend TNI AD (Purn) Harsanto Adi (Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia), Dr. Jimmy Lumintang (Ketua STT IKAT) dan Ketua Biro Pemuda PGI, Abdiel Fortunatus. Sesi berikutnya adalah tanya-jawab dan ditutup dengan makan siang bersama.