Berita Bethel
Penulis: Pram (18/12/2017)
Bahaya Penyakit Difteri

Pengertian Difteri merupakan penyakit infeksi akut yang sangat menular dan bisa mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.Komplikasi : Masalah Pernapasan, Kerusakan Jantung, Kerusakan Saraf, Difteri Hipertoksik. Diagnosis : Cara yang lebih akurat untuk mengetahui penyakit ini adalah dengan identifikasi menggunakan flourescent antibody technique. Gejala :Difteri Hidung, Difteri Fasing dan Tonsil, Difteri Laring dan Trakea, Difteri Kulit.

Pengobatan : Secara umum, pasien difteri sebaiknya diisolasi sampai masa akut terlampaui, yakni biasanya sampai 2-3 minggu.Pencegahan : Difteri dapat dicegah dengan pemberian imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus).Penyebab :Difteri disebabkan oleh bakteri berbentuk batang yang bernama Corynebacterium diphtheria

Pengertian : Difteri merupakan penyakit infeksi akut yang sangat menular dan bisa mengancam nyawa jika tidak segera ditangani. Difteri biasanya terjadi pada tenggorokan, hidung, terkadang pada kulit dan telinga.

Komplikasi : Jika difteri tidak segera diatasi, komplikasi yang mungkin bisa terjadi adalah: Masalah pernapasan. Sel-sel yang mati akibat racun yang diproduksi bakeri difteri akan membentuk jaringan berwarna abu-abu. Jaringan ini dapat menghambat pernapasan.

Kerusakan jantung. Selain paru-paru, racun difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.

Kerusakan saraf. Racun dapat menyebabkan penderita sulit menelan, mengalami masalah saluran kencing, kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki.

Difteri hipertoksik. Difteri ini merupakan komplikasi yang terparah, karena dapat memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.Difteri Diagnosis. Diagnosis difteri dapat melalui wawancara pasien dan pemeriksaan fisik. Cara yang lebih akurat untuk mengetahui penyakit ini adalah dengan identifikasi menggunakan flourescent antibody technique, yakni menambahkan pewarna ke jaringan yang ingin diperiksa. Jika terdapat racun atau bakteri, maka dalam jaringan tersebut akan timbul warna yang bersinar.

Gejala. Gejala yang timbul pada penderita difteri tergantung di mana bakteri tersebut berkembang biak. Difteri sendiri dikenal dengan empat tipe: Difteri Hidung. Bermula dari seperti gejala flu, tetapi kemudian cairan hidung yang keluar tercampur darah sedikit.

Difteri Faring dan Tonsil. Berupa radang pada selaput lendir dan tidak membentuk jaringan tipis.Difteri Laring dan Trakea. Pada difteri ini, penderita mengalami kesulitan mengeluarkan suara, sesak napas, napas berbunyi, demam tinggi hingga 40 derajat Celcius, kulit tampak kebiruan, dan pembengkakan pada kelenjar leher.

Difteri Kulit. Terdapat luka mirip sariawan pada kulit dan alat kelamin, disertai dengan timbulnya jaringan di atasnya. Pada kondisi ini, luka yang terjadi cenderung tidak terasa apa-apa.

Pengobatan. Secara umum, pasien difteri sebaiknya diisolasi sampai masa akut terlampaui, yakni biasanya sampai 2-3 minggu. Dalam masa isolasi ini, pasien harus beristirahat dengan berbaring, mencukupi kebutuhan cairan, menerapkan diet yang sesuai dengan petunjuk dokter, dan menjaga agar napas tetap bebas.

Pasien juga akan diberikan antitoksin anti-diphtheria serum (ADS) yang diberikan segera setelah terbukti terjangkit. Steroid diberikan bila terdapat gejala sesak pada saluran napas. Selain itu, pasien disarankan untuk tidak dirawat di rumah agar tidak menularkan kepada orang lain.

Setelah pulih dari difteri, Anda harus melakukan vaksin difteri secara penuh untuk mencegah kekambuhan. Pernah menderita difteri tidak menjamin Anda akan memiliki kekebalan seumur hidup. Anda bisa mengalami difteri lebih dari sekali jika tidak mendapatkan imunisasi lengkap.

Pencegahan. Difteri dapat dicegah dengan pemberian imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus). Imunisasi ini diberikan sebanyak lima kali sejak anak berusia dua bulan hingga enam tahun.

Ada beberapa efek samping dari imunisasi ini. Beberapa anak akan mengalami demam ringan, rewel, terlihat lemah, dan bengkak pada area bekas suntikan. Tanyakan kepada dokter mengenai hal yang perlu Anda lakukan untuk meminimalkan efek samping ini.

Penyebab. Difteri disebabkan oleh bakteri berbentuk batang yang bernama Corynebacterium diphtheria. Bakteri ini menyebar melalui tiga rute:Bersin. Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, uap yang terkontaminasi akan dilepaskan dan memungkinkan orang di sekitarnya untuk terpapar bakteri tersebut.

Kontaminasi barang pribadi. Difteri bisa tertular melalui barang-barang pribadi orang yang terinfeksi. Misalnya, jika menggunakan gelas bekas penderita yang belum dicuci.

Kontaminasi barang rumah tangga. Meskipun jarang, difteri juga bisa menyebar melalui barang-barang rumah tangga yang biasanya dipakai secara bersamaan, misalnya handuk atau mainan.Selain itu, Anda juga bisa terkena difteri apabila menyentuh luka orang yang sudah terinfeksi.[Sumber : liputan6.com/Foto : getty images].


Corynebacterium diphtheriae. Corynebacterium diphtheriae, seperti dikutip dari wikipedia adalah bakteri patogen yang menyebabkan difteri. Bakteri ini dikenal juga sebagai basillus Klebs-Löffler karena ditemukan pada 1884 oleh bakteriolog Jerman, Edwin Klebs (1834-1912) dan Friedrich Löffler (1852-1915).

C. diphtheriae adalah makhluk anaerobik fakultatif dan Gram positif, ditandai dengan tidak berkapsul, tidak berspora, tak bergerak, dan berbentuk batang 1 hingga 8 µm dan lebar 0,3 hingga 0,8 µm. Pada kultur, kelompok bakteri ini akan berhubungan satu sama lain dan membentuk seperti huruf Tionghoa.

Banyak strain C. diphtheriae yang memproduksi racun difteri, sebuah eksotoksin protein, dengan berat molekul 62 kilodalton. Ketidakaktifan racun dengan serum antiracun merupakan dasar dalam vaksinasi antidifteri. Tdiak semua strain berbahaya. Produksi racun akan terjadi bila bakteri dinfeksi oleh sebuah bakteriofaga.

Terdapat tiga subspesies yang dikenal yakni: C. diphtheriae mitis, C. diphtheriae intermedius, dan C. diphtheriae gravis. Ketiganya berbeda pada kemampuan untuk mengolah zat gizi tertentu. Semuanya dapat menjadi berbahaya yang menyebabkan difteri atau tidak berbahaya sama sekali pada manusia.

Bakteri ini peka pada sebagian besar antibiotika, seperti penisilin, ampisilin, sefalosporin, kuinolon, kloramfenikol, tetrasiklin, sefuroksim dan trimetrofim. [Sumber : wikipedia].