Berita Bethel
Penulis: Pram (28/12/2017)
Ukraina dan Separatis Pro-Rusia Saling Tukar Ratusan Tawanan

Pemerintah Ukraina dan separatis pro-Rusia melakukan pertukaran tahanan dengan jumlah terbanyak, sejak pecahnya konflik antar keduanya pada 2014 lalu. Ratusan orang yang sebelumnya ditawan dapat kembali ke keluarga mereka pada Rabu (27/12), menjelang Tahun Baru dan perayaan Natal bagi umat Kristen Ortodoks.

Lebih dari 10 ribu orang telah terbunuh dalam konflik tersebut dan korban hingga kini masih berjatuhan setiap harinya, meski ada gencatan senjata sejak 2015 lalu.

"Anak saya menelpon. Saya belum pernah mendengar suaranya selama tiga tahun, hanya surat-suratan," ujar Oleksandr Oliynyk, seorang wanita tawanan Ukraina kepada Ukraina News Channel 112, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (28/12).

Berdasarkan kesepakatan antara kedua pihak, Ukraina diminta menyerahkan 306 tahanan kepada separatis dan menerima 74 tahanan sebagai balasannya. Reuters yang berada ditempat kejadian melihat tahanan Ukraina diangkut dengan bus dari kota Horlivka dan dibawa ke wilayah yang dikuasai oleh pemerintah Ukraina.

"Total ada 74 sandera Ukraina yang sudah berada di rumah, di wilayah yang dikuasai oleh tentara Ukraina," tulis Presiden Ukraina Petro Poroshenko dalam akun media sosialnya.

Menurut Poroshenko, para tahanan yang diserahkan ke Ukraina, antara lain yakni seorang sejarawan dan cyborg. cbyborg adalah nama panggilan yang diberikan Ukraina kepada tentara yang membela bandara Donetsk saat konflik yang terjadi di 2014.

Belum dapat dipastikan jumlah pasti tahanan yang ditukar. Perwakilan Ukraina menyebut, beberapa tahanan Ukraina menolak untuk kembali ke daerah yang dikuasai pemberontak. Lebih banyak tahanan diperkirakan akan berpindah tangan pada 2018.Badan keamanan negara Ukraina mengatakan, masih ada 103 tahanan yang berada di tangan separatis.

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyambut baik pertukaran tersebut dalam sebuah pernyataan bersama dan meminta kedua belah pihak untuk membebaskan tahanan yang tersisa.

Kementerian luar negeri Jerman mengatakan, ini adalah langkah signifikan dalam melaksanakan kesepakatan gencatan senjata yang disepakati di ibukota Belarus, Minsk.Kesepakatan Minsk, yang dimaksudkan adalah untuk mengakhiri pertempuran di Ukraina, ditandatangani oleh Ukraina, Rusia, Jerman dan Prancis di ibukota Belarusia pada awal 2015. [Sumber : cnnindonesia.com].