Berita Bethel
Penulis: Pram (23/01/2018)

Rakernas I DPA : 4 Prinsip Kepemimpinan yang Mengubah Dunia

Era Kita Menuju Generasi Dahsyat merupakan tema Rakernas I DPA BPH GBI yang digelar di Graha Bethel, 23-25 Januari 2018. Sebelum sesi pembukaan acara, dilakukan ibadah pembukaan dan dilayani oleh Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, Sp.Kj (K), Selasa (23/1).

Pdt. Dwidjo [kiri] membacakan nats Yohanes 6:38 "Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku". "Jadi pengurus atau pelayan Tuhan di tingkat apapun, jangan meninggalkan prinsip Alkitabiah ini. Kristus datang ke dunia ini untuk melakukan kehendak Bapa," tegasnya.

Lebih lanjut, Pdt. Dwidjo yakin jika DPA GBI melakukan kehendak Bapa, maka akan juga melakukan hal-hal yang dahsyat bagi Tuhan.Empat prinsip kepemimpinan yang mengubahkan dunia di-share-kan Pdt. Dwidjo yaitu terdiri dari Pertama, pemimpin yang rendah hati [Servant Leader], dengan ciri khas berhati Yesus, mengerjakan [sesuatu] seperti yang diiinginkan Kristus, bukan melakukan agenda pribadi.

Ia kemudian mengingatkan adanya [potensi] krisis yang menuju bahaya bagi generasi muda yang disebabkan oleh Kekristenan Alkitabiah tidak diwariskan ke generasi berikutnya. Pdt. Dwidjo memaparkan secara singkat kondisi masyarakat yang kini dikenal dengan istilah "Masyarakat Futuristik".

Ciri masyarakat ini menurutnya yaitu dikuasai sains dan teknologi, serta 'membahagiakan' manusia namun menghilangkan nilai-nilai kebajikan, keluarga dan kebenaran.  Ia mengutip pandangan Brave Huxley yang menyatakan bahwa orang hanya berfokus kepada kenyamanan saja, sehingga menghilangkan hikmat, kebajikan dan karakter.

Selanjutnya, hal ini berakibat memunculkan pandangan bahwa Tuhan itu seolah-olah kompatibel dengan teknologi dan sains, termasuk kebahagiaan yang universal. Lebih lanjut, manusia di dunia ini memilih kebahagiaan yang disajikan dunia seperti perangkat teknologi (aplikasi pemesanan makanan dan lain-lain), obat-obatan dan berpandangan bahwa kebahagiaan sebagai Tuhan.

Pdt. Dwidjo kemudian menyampaikan hasil suatu riset tentang anak muda dan religi menunjukkan hasil mereka lebih suka ramai-ramai berkumpul di gereja, namun tidak bertumbuh secara iman di gereja. "Ke gereja nyari nyaman tetapi isinya musti tetap Yesus. Tetap pertahankan iman dan percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat," tegasnya.

Iman yang kacau-balau alias Fumbled Faith menurutnya disebabkan oleh cara pandang yang berlebihan terhadap filsafat duniawi. Munculnya angkatan [generasi] futuristik ini, sebenarnya telah dituliskan pada nats Hakim-Hakim 2:10 "Setelah seluruh angkatan itu dikumpulkan kepada nenek moyangnya, bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel".

Berikutnya prinsip Kedua adalah orang tua dengan bijak mewariskan nilai spiritual dan iman kepada  generasi selanjutnya. Ketiga, percaya kepada-Nya sesuai dengan Ulangan 6:4. Rumah dan gereja musti mendidik generasi muda dalam doktrin yang sehat.

Keempat, seorang ayah harus menjadi pemimpin di dalam keluarga. Acara dilanjutkan dengan pembukaan acara oleh Ketua Umum BPH GBI dengan didampingi para Pengurus Pusat (PP) DPA BPH GBI. [Foto : Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, Sp.Kj (K), kiri saat menerima cendera mata dari Ketua Panitia Pelaksana, Pdt. Yusuf Suranta Purba, STh,kanan].

Artikel Terkait :

Ajak Banyak Orang untuk Layani Generasi Muda !

Mencermati Suatu Kegentingan dan Penting dalam Pelayanan