Berita Bethel
Penulis: Pram (05/02/2018)
7 Prinsip Pertumbuhan Gereja

Dua unsur penting yang berperan dalam pertumbuhan gereja terdiri dari Pertama, peranan Tuhan. Dasarnya ialah Mazmur 127:1 ".........ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga".

Kedua, peranan manusia yang bekerja-sama dengan Tuhan [1 Korintus 3:6-9 "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.3:7 Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan............... 3:9 Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah"].

Tujuh Prinsip Pertumbuhan Gereja. Salah satu tokoh pertumbuhan gereja yakni Donald McGarvan, 1961 mendirikan Institute of Church Growth di Eugene, Oregon, USA. Kemudian ia melakukan riset dan membuat prinsip-prinsip pertumbuhan gereja. Hasilnya, Donald menemukan 67 prinsip. Peter Wagner 51 prinsip, Win Arn 28 prinsip.

Selanjutnya tujuh prinsip pertumbuhan gereja sesuai dengan praktikal di GBI Semanan, Cengkareng, Jakarta Barat, pimpinan Pdt. Hengky So, MTh masing-masing terdiri dari : 1. Milikilah mimpi yang besar seperti Yusuf [Kejadian 37:7-9].

Kuasa sebuah mimpi seperti tertulis dalam nas Roma 12:11 yaitu bergairah untuk melayani. Mimpi membuat orang percaya tabah menghadapi tantangan sesuai dengan 2 Korintus 4:8-9. Mimpi bisa mempengaruhi iman [Matius 9:29]. Mimpi bisa mendapatkan perkara-perkara besar [Markus 9:23].

2. Memiliki karakter yang sehat. Beberapa langkah yang perlu dilakukan Gembala [Gereja] terhadap jemaat antara lain mengingat nama, berikan salam, sapa dengan ramah, memperdulikan pergumulan mereka, melayani jemaat dengan penuh tanggung-jawab. Selain itu, Gembala musti memiliki karakter yang baik.

3. Meningkatkan kualitas kepemimpinan. Pandangan John Maxwell mengatakan segala sesuatu kejayaan dan kegagalan tergantung pada kepemimpinan. Kepemimpinan yang harus dimiliki adalah gaya kepemimpinan pelayan Tuhan atau melayani [servant leadership].

4. Menciptakan persekutuan yang sehat, erat dan harmonis dengan cara antara lain membentuk : kelompok sel, persekutuan kategorial, persekutuan profesi. Dalam hal ini, seorang pemimpin rohani dalam sebuah gereja musti bersikap netral dan punya sifat Bapa. Nats Kis 2:42-47. Hasilnya, Tuhan menambahkan jiwa-jiwa pada ayat 47.

5. Melakukan pembinaan dan pelatihan anggota jemaat. 6. Mengadakan ibadah yang hidup dan berkuasa dengan cara : a. Tuhan ditinggikan dan dimuliakan maka Ia akan menarik banyak orang [Yohanes 12:3]. b. Pelayan Tuhan mempersiapkan diri dengan baik, doa dan puasa serta diurapi dengan kuasa Roh Kudus. c. Memastikan team PPW mempersiapkan diri dengan baik dan berlatih beberapa hari sebelum melayani di ibadah raya.

d. Sambut pengunjung baru dengan ramah. e. Pelaksanaan ibadah tidak bertele-tele. f. Memastikan ruangan ibadah rapi dan bersih. 7. Mendorong jemaat untuk melayani dan mempergunakan karunia-karunia [2 Timotius 1:6 dan I Timotius 4:14. Berikan kesempatan jemaat untuk melayani di luar gereja seperti di rumah, kantor, tempat bisnis dan sekolah.

Tetap berharap kepada anugerah Tuhan dan urapan Kuasa Roh Kudus adalah kunci yang utama dalam pelayanan.  Pdt. Hengky So, MTh selaku Ka. Departemen Teologia mendoakan Pdt. Yunus Aritonang sebagai Ka. Biro BEC yang baru. Ia menggantikan Pdt. Joel Manalu, MTh yang terpilih sebagai Ketua DPA BPH GBI.

Materi diatas disampaikan Pdt. Hengky So, MTh [no.5 dari kanan] usai  ibadah pembukaan Annual Gathering Biro BEC [Bethel Empowering Center] dengan tema Equipping Excellent Harvester yang dilayani Ketua Umum BPH GBI [no. 6 dari kanan] di Graha Bethel, Jakarta [Rabu, 31/1]. Acara berakhir hari Jumat, 2 Februari 2018.

Artikel Terkait :

BEC : Diperlukan Penuai Berkualitas dan Memiliki Kompetensi