Berita Bethel
Penulis: Pram (26/02/2018)

Pertolongan Pertama pada Korban Henti Jantung Mendadak

Henti jantung dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Ketahui tindakan pertolongan yang dapat Anda lakukan pada korban henti jantung mendadak. Penyakit jantung masih menjadi “pembunuh” nomor satu di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat ada 17,7 juta kematian setiap tahunnya akibat penyakit jantung.

Salah satu kondisi yang cukup sering terjadi adalah henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest).Henti jantung adalah kondisi dimana jantung berhenti berdetak. Henti jantung berbeda dengan serangan jantung. Orang yang terkena serangan jantung umumnya mengeluh nyeri dada, terutama di sebelah kiri. Sementara itu, orang yang mengalami henti jantung biasanya ditandai dengan pingsan.

Kondisi henti jantung tidak selalu berakhir dengan kematian. Bila Anda pernah melihat adegan film atau serial TV, saat seorang tenaga medis tampak memompa bagian dada seseorang, hal tersebut merupakan usaha untuk mengembalikan irama jantung yang telah berhenti. Teknik tersebut dinamakan resusitasi jantung paru (RJP, atau yang lebih dikenal dengan CPR).

RJP adalah tindakan pertolongan pertama pada korban henti jantung dan henti napas. Tindakan RJP dapat dilakukan oleh orang awam ketika tidak ada tenaga medis di sekitarnya. Langkah-langkah untuk melakukannya adalah sebagai berikut:

1. Periksa kesadaran korban. Saat berhadapan dengan orang yang henti jantung, periksa kesadarannya dengan cara memanggil korban sambil menepuk bahu. Bila belum bangun, panggil lagi dengan suara yang lebih keras.

2. Panggil bantuan. Berteriaklah minta tolong dan minta orang di sekitar Anda untuk menghubungi petugas kesehatan terdekat atau menelepon ambulans gawat darurat di nomor 118.

Saat menghubungi petugas kesehatan, beritahu nama Anda, apa yang terjadi, nama dan jumlah korban. Sementara menunggu petugas kesehatan tiba, lakukan tahap selanjutnya.

3. Atur posisi korban. Posisikan korban terlentang, dan usahakan korban berbaring di atas alas yang datar dan keras.4. Atur posisi kepala korban. Setelah atur posisi, tengadahkan kepala korban, lalu periksa bagian dalam mulut. Apabila ada benda yang terlihat menyumbat saluran napas, ambil segera. Penting untuk diketahui bahwa jangan sampai Anda menghabiskan waktu lama di tahap ini. Segera lakukan tahap berikutnya.

5. Periksa nadi pasien. Dengan menggunakan jari, raba nadi yang ada di leher kanan atau kiri korban. Lakukan selama setidaknya 5 detik. Bila tidak dirasakan ada nadi, lakukan tahap berikutnya.

6. Lakukan pompa jantung. Berlutut di samping korban, letakkan tangan di bagian tengah dada (di antara kedua puting) dengan posisi kedua tangan bertumpu. Tempatkan bagian pangkal telapak tangan di dinding dada.

Dengan prinsip push hard push fast, atau pompa dengan keras dan cepat lakukan pompa jantung dengan kecepatan 100-120 x/menit.Pompa jantung hingga 30 kali, kemudian berikan napas buatan sebanyak 2 kali.

Napas buatan diberikan dengan memencet hidung korban, lalu menghembuskan napas di mulut korban. Namun, sejumlah literatur menyebutkan pemberian napas buatan ini tidak perlu lagi dilakukan oleh orang awam.

7.Lakukan langkah ke-6 selama 20 menit, kemudian periksa kembali kesadaran dan nadi korban. Bila belum ditemukan tanda-tanda perbaikan, ulangi kembali tahap 6 selama 2 menit.

8.Lakukan tindakan pompa jantung sampai bantuan medis datang. Bila penolong kelelahan, minta tolong orang lain untuk menggantikan. Tindakan ini dapat dihentikan bila tenaga medis sudah datang, penolong lelah namun tidak ada pengganti, atau sudah dilakukan selama 20 menit tetapi korban tidak menunjukkan perbaikan kondisi.

Resusitasi jantung paru sebenarnya meniru fungsi jantung, yaitu memompa darah ke seluruh bagian tubuh. Karenanya, tindakan ini sangat penting untuk diketahui dan dilakukan. Respon yang cepat dan tepat terhadap korban henti jantung dapat membantu menyelamatkan nyawanya.[Sumber : klikdokter.com/dr. Sepriani Timurtini Limbong]