Berita Bethel
Penulis: Pram (08/03/2018)
GBI Musti Perhatikan Kekerasan dan Kesenjangan Ekonomi Bagi Perempuan & Anak

Usai sesi ibadah pembukaan dan pembukaan acara oleh Ketum BPH GBI, Ir. Agustina E. Susiyanti M.Sc yang mewakili Prof. Dr.Yohana Susana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tampil sebagai keynote speaker "Tantangan Pendidikan di Kantorng-Kantong Kristen, Studi Kasus Papua".

Konferensi Pendidikan Bethel IV tahun 2018 di Kampus ITHB [Institut Teknologi Harapan Bangsa] Bandung, Jawa-Barat [Kamis, 8/3]. Konferensi ini bertemakan "Menunaikan Amanat Agung Melalui Pendidikan".

Acara berlangsung mulai tanggal 8 Maret 2018 - 10 Maret 2018, sebuah kerja-sama Departemen Diklat BPH GBI - APB [Asosiasi Pendidikan Bethel]. Hadir beberapa pejabat BPH GBI seperti Pdt. Dr. Pdt. Dr. Rubin Adi dan Ketua BPD GBI Jawa-Barat serta hamba-hamba Tuhan GBI di Bandung dan sekitarnya.

Inti pemaparan Ir. Agustina antara lain peran wanita di bidang ekonomi menonjol di bidang misalnya penyediaan pangan, dibandingkan dengan peran laki-laki. Ia menambahkan terdapat perbedaan antara pendidikan laki-kaki dengan perempuan dari sisi indeks kualitas manusia dengan mempergunakan indikator pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Hal-hal penting lainnya yang disampaikan keynote speaker ini menyangkut soal kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan manusia dan kekerasan seksual, serta kesenjangan ekonomi bagi perempuan.  Ir. Agustina meminta agar GBI ikut serta memperhatikan masalah-masalah ini dan ikut serta dalam peningkatan peran keluarga.

Pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah membuka Sekolah Perempuan di Yaropen, Papua. Para perempuan di desa ini diberikan pelatihan memasak, pemberdayaan ekonomi dan hasilnya cepat tanggap.Ia juga mengakui peran adat sangat besar dalam penyelesaian masalah sehingga perlu dipertimbangkan dalam pemberdayaan perempuan.

Diakhir paparannya, ia menyatakan keprihatinannya di wilayah tertentu anak-anak remaja masih gemar menghisap lem, meminum obat batuk sachet sampai beberapa sachet dan merebus cairan popok bayi agar bisa nge-fly.

Di lokasi yang sama, Ketua Panitia melaporkan Konferensi ini diikuti oleh 207 orang peserta yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatera, Batam, Nias, Mentawai, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Maluku, Ambon, dan Papua.

Komposisi peserta terdiri dari akademisi, yayasan, perwakilan gereja, pemimpin gereja, pejabat BPD GBI, mahasiswa, dosen STT, guru PAUD, guru TK dan guru SD. [Foto : Pdt. Dr. Purim Marbun, Ka.Dep. Diklat BPH GBI menyerahkan apresiasi berupa plakat kepada keynote speaker].