Berita Bethel
Penulis: Pram (08/03/2018)
Perlu Pendidikan dan Penanaman Nilai-nilai Kristen

Sesi 1 pleno dengan tema  "Kiat Mendidik di Kantong Kristen" menampilkan nara sumber beberapa perwakilan BPD GBI masing-masing Ketua BPD GBI NTT, Papua Barat I, Papua Barat II, Pegunungan Tengah Papua. Selain itu Gembala GBI dari wilayah Nias, Mentawai juga memaparkan situasi terkini di wilayah masing-masing. Pdt. Dr. Rubin Adi dan Philip Handoyo, MS menyampaikan tentang rekomendasi untuk kantong Kristen.

Mereka berbicara pada Konferensi Pendidikan Bethel IV tahun 2018 "Menunaikan Amanat Agung Melalui Pendidikan" di Kampus ITHB [Institut Teknologi Harapan Bangsa] Bandung, Jawa-Barat [Kamis, 8/3]. Acara berlangsung mulai 8 - 10 Maret 2018, kerja-sama Departemen Diklat BPH GBI - APB [Asosiasi Pendidikan Bethel].

Sesi ini usai ibadah pembukaan, pembukaan acara yang ditandai dengan pemukulan gong oleh Pdt. Dr. Japarlin Marbun dan keynote speaker oleh  Ir. Agustina E. Susiyanti M.Sc [mewakili Prof. Dr.Yohana Susana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak] tampil sebagai keynote speaker yang mengusung tema "Tantangan Pendidikan di Kantorng-Kantong Kristen, Studi Kasus Papua".

Pada sisi pleno ini, Pdt. Dr. Isaac Dimalouw, STh, MA, Ketua BPD GBI Papua Barat I mengatakan perlunya bekerja-sama dengan lintas agama soal [memajukan] pendidikan. Sementara itu, Ketua BPD GBI NTT [Pdt. Kirenius Bole, STh, M.Pd menyoroti perlunya peningkatan SDM dan pengetahuan para tenaga pendidik, termasuk kepala sekolah dan kasus-kasus korupsi yang terjadi di wilayah NTT [foto kiri atas].

Selain itu, sarana dan pra-sarana pendidikan perlu mendapatkan atensi yang bersifat segera. Wilayah NTT yang terdiri dari pulau-pulau dan dipisahkan lautan, masalah rawan gizi dan pangan, pengangguran, putus sekolah juga mendesak untuk dicarikan solusi. "Sekolah-sekolah swasta banyak yang tutup, sebab anak-anak sekolah numpuk bersekolah di sekolah negeri," pungkasnya.

Lebih lanjut, utusan GBI asal Nias [Pdt. Elifati Gea, STh] berbicara soal kekurangan sarana dan prasarana belajar seperti meja, kursi,buku-buku dan bahkan kurang motivasi belajar juga.

Sementara itu, utusan GBI dari Mentawai [Pdt. Yohanes Benny, foto kiri bawah] mengatakan pola asuh anak yang salah musti diluruskan. Ia kemudian menyajikan video yang menayangkan pondok-pondok di perkebunan dan dipinggir bibir pantai yang ditinggali anak-anak sebagai lokasi tempat tinggal sementara, sementara para orang tua pergi ke kebun selama berhari-hari.

Artinya, anak-anak ini tanpa bimbingan dan pengawasan orang-tua sehingga ada juga yang salah dalam bergaul. Akibatnya menimbulkan masalah di kemudian hari. "Perlu asrama untuk menampung anak-anak ini," tegasnya. Selain itu, ia merekomendasikan perlunya pendidikan dan penanaman nilai-nilai Kristen dalam pembentukan karekater dan mental.

Nara sumber lainnya yakni Ketua BPD Pegunungan Tengah Papua, Pdt. Arie Mabel, S.Pdk, Pdt. John Tafuli [NTT] yang meyampaikan problematika di wilayah masing-masing. Usai sesi, Rektor ITHB [Dr. Ir. Samuel Tarigan, MBA] meyerahkan apresiasi kepada para nara sumber [foto kanan atas dan kanan bawah].