Berita Bethel
Penulis: Pram (09/03/2018)
Cegah Anak2 Menuju Kegelapan Kekal !

Landasan pola pikir sebagai warga Kerajaan Allah perlu dibangun sejak masa kanak-kanak, hal itu ditegaskan Pdt. Dr. Erastus Sabdono sebagai nara sumber pada sesi III dengan tema "Menjadi Guru Kristen dengan Misi".

Ia berbicara pada acara Konferensi Pendidikan Bethel IV tahun 2018 dengan tema utama "Menunaikan Amanat Agung Melalui Pendidikan" di Kampus ITHB [Institut Teknologi Harapan Bangsa] Bandung, Jawa-Barat [Jumat, 9/3]. Acara berlangsung mulai 8 - 10 Maret 2018, kerja-sama Departemen Diklat BPH GBI - APB [Asosiasi Pendidikan Bethel].

Ia berpandangan bahwa guru bertanggung-jawab untuk meletakkan pondasi itu. Berikutnya, orang-tua dan guru yang memiliki gaya hidup benar maka anak-anak akan menyerap hal ini dan menentukan keselamatannya di hari tua. Dari sisi pendidikan Kristen, hal ini berarti mempersiapkan tongkat estafet pelayanan.

Pemahaman terhadap nats Matius 28:18-20 hanya khusus ditujukan kepada orang dewasa adalah kurang tepat. Nats itu juga berlaku buat anak-anak. Mengubah pola pikir jika sudah dewasa, tentunya akan menemui kesulitan dibandingkan sejak anak-anak.

Perkembangan sarana dan pra-sarana teknologi berbasis internet jika tidak dikelola dengan benar akan menjadi alat iblis untuk mempersiapkan manusia, termasuk anak-anak menuju kegelapan kekal.

Gadget, tv, film, video, syair lagu via internet, pergaulan, majalah, buku bacaan, mengidolakan tokoh tertentu, selebritis yang tak se-iman, bila tidak diwaspadai, konten-konten mereka akan mengisi pikiran anak-anak. Tidak mustahil, pada masa depan jika tidak diantisipasi maka gereja akan dihadiri manula-manula saja.

Pendidik Kristen musti aware terhadap tantangan di atas. Anak-anak musti mempunyai persekutuan pribadi dengan Tuhan. Sehingga mengerti kebenaran Firman Tuhan. Pdt. Erastus kemudian mengutip nats Mazmur 127:4 "Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda".

Sekali lagi, ia mengingatkan soal urgensi pendidik yang musti mempersiapkan anak-anak agar layak masuk ke dalam Kerajaan-Nya.Iblis gemar merusak pikiran anak-anak. 

Sembari ia membacakan Nats 2 Korintus 11:3 "Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya". Pendidikan anak-anak tidak serta merta diserahkan kepada gereja saja.

Mengajarkan kebenaran Firman Allah, menurutnya bisa ditempuh selain melalui jalur gereja dan pendidikan formal di sekolah dengan acara melalui ibadah keluarga dan melalui pola bertindak orang-tua, dengan cara memberikan teladan yang positif [Filipi 3:17].