Berita Bethel
Penulis: Pram (10/03/2018)
Tanggung-jawab, Aspek Profesional dan Spiritual Seorang Guru

Being a christian educator is a serious responsibility, not just for a living !. Doktor di bidang pendidikan, Ishak Wonohadidjojo menyampaikan hal itu pada sesi 5 Konferensi Pendidikan Bethel IV 2018 di Kampus ITHB, Bandung [Jumat, 9/3].

Tema Konferensi "Menunaikan Amanat Agung Melalui Pendidikan"  Acara berlangsung mulai 8 - 10 Maret 2018, kerja-sama Departemen Diklat BPH GBI - APB [Asosiasi Pendidikan Bethel].

Arti kalimat pembuka di atas ialah menjadi pendidik Kristen adalah tanggung jawab yang serius, bukan sekedar untuk [mencari] nafkah.Bahkan, ia mengingatkan peringatan keras Yesus Kristus terhadap akibat seseorang yang menyesatkan anak-anak sesuai dengan nats Matius 18:6, Markus 9:42  "Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut".

Lukas 17:2.  "Jangan sampai ada guru yang menyesatkan anak didiknya," ujarnya tegas. Ia memberikan satu contoh real, ada di salah satu sekolah yang gurunya sering menampilkan paduan suara siswi-siswi yang memiliki tampilan fisik tertentu.

Sehingga siswi-siswi lainnya yang tidak berpenampilan fisik seperti itu, mereka tidak ditampilkan. Kondisi ini membuat para siswi menjadi minder dan menyesal, kenapa kok tampilan fisik mereka berbeda dengan teman-temannya.  

Ia kemudian menambahkan bahwa seorang pendidik memiliki tanggung-jawab yakni menjaga profesionalisme dan mengembangkan diri. "Guru musti sering baca buku-buku dan ikutin seminar-seminar," ujarnya.

Menjadi guru yang efektif harus memenuhi aspek profesional yakni berusaha memenuhi standar minimal dan pengembangan diri termasuk pendidikan lanjutan, berani berinisiatif, berani bayar harga [2 Timotius 1:12, Filipi 2:5-11].  

Selain itu, penting juga guru memenuhi aspek spritiual yaitu ia menyandang jabatan dan fungsi religius, panggilan ilah, dituntut konsistensi kerohanian dalam menjalankan tugas keseharian. Dr. Ishak mengutip nats-nats Mazmur 32:8 dan Yohanes 3:2. "Guru adalah elemen penting bagi tubuh Kristus [Efesus 4:12].

Ia mengingatkan dari sisi Alkitab, guru akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat [Yakobus 3:1 "Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat"].

Seorang guru harus memiliki kualitas kepribadian antara lain penampilan, kestabilan emosi, sopan santun dan keramahan, berkarakter baik, memiliki kepemimpinan rohani, karakter dan moral yang baik dan sehat secara fisik.

Selain kualifikasi itu, seorang guru menurutnya memiliki tanggung-jawab profesi seperti mengajar adalh panggilan hidup, ada minat dan ketertarikan terhadap dunia sekolah, memiliki keinginan pengembangan diri, menampakkan pertumbuhan. Tidak kalah penting adalah mengajar siswa sembari memahami siswa, presentasi, pengendalikan kelas, memotivasi dan mendukung murid. Ketaatan pada aturan, memiliki tanggung-jawab.

Dari sisi individu, berkaitan dengan mengajar, maka seorang guru musti mempunyai planning, memperhatikan tampilan ruang kelas, persiapan harian, pencatatan dan dokumentasi sesuai kebutuhan. Hubungan dengan orang-tua perlu dibangun dan juga mengkomunikasikan program-program sekolah.

Berikutnya, Dr. Ishak Wonohadidjojo berbicara soal kerugian [the loss] yang kerap dialami guru-guru di lapangan. The loss itu disebabkan  pola pikir yang diarahkan oleh the contemporer trend, bukan oleh visi dan misi Kristiani.

Hal ini bisa berakibat ia tidak membangun keutuhan dari sisi team kerja dan sosial sekolah. Hasilnya, ia akan mengalami kegamangan, kebingungan, kecemasan dan kebingungan.

Tendensi-tendensi guru yang musti dihilangkan antara lain pasif menunggu kapan ada undangan atau diutus sekolah untuk ikut seminar-seminar. Re-aktif terhadap trend-trend pendidikan masa kini dan melupakan pelatihan internal.

Selanjutnya, Doktor bidang pendidikan ini memberikan rekomendasi perihal sekolah perlu untuk merancang jenjang karier di sekolah [tentunya, tiap sekolah tidak bisa di sama-ratakan, Red].

Ia memulai memaparkan jenjang guru percobaan, guru paruh waktu, asisten guru, pemimpin guru [lead teacher], guru senior, subject coordinator, wakil kepala sekolah, kepala sekolah, team eksekutif dan direktur eksekutif.

Rekomendasi kedua yang ia paparkan adalah membentuk eksekutif team yang bertanggung-jawab langsung kepada pengurus yayasan, bukan di bawah kepala sekolah. Kuasailah master the big picture [gambar besar] dan rancang kurikulum internal. Sesi dilanjutkan dengan tanya-jawab.