Berita Bethel
Penulis: Pram (22/03/2018)
Bersahabat dengan Penderitaan

Kata penderItaan diartikan keadaan menyedihkan yang harus ditanggung. Penyebab seseorang mengalami penderitaan atau dibuat menderita disebabkan “kehilangan” dari apa yang dimiliki yaitu dari tubuh sehat menjadi kesakitan, dari kaya menjadi melarat, dari duduk di atas menjadi di bawah dan seterusnya.

Kondisi seperti ini bisa menimpa siapa pun tanpa terkecuali orang percaya. Penderitaan seper ti itu mungkin tidak dapat kita tolak, hindari namun mau tidak mau harus dihadapi.  Tidak memiliki pilihan selain mengambilnya untuk dijalani.

Dan bagi orang percaya mungkin lebih sulit memahami apa ar ti  sebuah penderitaan ketimbang orang yang tidak mengenal Tuhan. Dan bila datang waktu itu sebagai giliran yang menimpa orang percaya maka akan muncul ungkapan “why me” “where is God when it hurts”.

Ini sebagai ungkapan ketidak-puasan terhadap satu  kenyataan yang sedang  dihadapi dan sekaligus sedang  menanyakan sejauh mana “tanggung jawab” Tuhan atas umat-Nya. Kondisi pada saat “pain”, grief, dan suffering akan push away (mendorong jauh) kehadiran Tuhan dalam kehidupan orang percaya dan merasakan seolah-olah mengkondisikan “ I am alone”.

Timbul pertanyaan bagaimana kita bisa bersahabat dengan penderitaan dengan pengucapan syukur? Pada bagian ini kita akan belajar penderitaan yang dialami oleh umat Allah pada saat di pembuangan  Babel.

Dalam kitab Ratapan menceritakan betapa buruknya kondisi umat Allah karena mereka harus mengalami pembuangan ke Babel (terpisah dari tempat asal mereka ayat 1-18). Sebelum mereka dibuang ke Babel, merasakan kebaikan Allah dalam penyertaan-Nya ketika mereka berjalan di padang gurun (Kel. 13:21-22); pemeliharaan-Nya dengan dicukupkan makanan dan minuman (Kel.15:23-25; 16:4-5, 13-16; 17:5-6); pelepasan dari Allah untuk keluar dari Mesir (Kel. 14:14, 21-31); mendapatkan pengampunan pada saat mereka bersalah (Kel.  Bil. 21:4-9). Allah melakukan  itu semua didasarkan kasih setia-Nya dan terikat dengan janji-Nya (Ul. 7:7-9 bnd Kel 15:13).

Kondisi “enak” ini membuat umat Allah terbuai  dan tanpa disadari secara perlahan mereka meninggalkan  Allah dan posisi Allah digantikan oleh ilah. Mereka membalas kebaikan  Allah dengan kejahatan mereka (air susu dibalas dengan air tuba). Kejahatan yang mereka lakukan telah “merusak” ikatan perjanjian antara Allah dengan mereka.

Allah tidak menyukai “hubungan  yang putus” dan selalu mau mengikatkan  diri dengan umat- Nya. Mereka “bolak-balik” melakukan kejahatan yang sama yaitu melakukan apa yang tidak benar di mata Allah. Akibatnya mereka harus dikeluarkan dari tanah perjanjian untuk dibuang ke tanah asing, Babel (Yer. 25:10-11bnd Im. 18:21-25), di tempat inilah mereka sudah tidak lagi memiliki kenyamanan hidup dan kehilangan pengharapan. Mereka mengalami “penderitaan” disebabkan karena kejahatan mereka yang “memutuskan” hubungan dengan Allah.

Pada saat mereka tidak memiliki pengharapan  di tanah asing, mereka kembali merenung untuk mengingat satu hal yang sangat “membekas” dalam hati dan hidup mereka yaitu kasih setia Allah . Itu sebabnya mereka dibangkitkan pengharapannya. Kata pengharapan yang dimaksudkan adalah “ berani menunggu” dengan satu keyakinan akan mendapatkan kembali kasih setia Allah dan ini bukan wishing (ay. 21).

Apa yang mereka nantikan bukanlah tanpa bukti karena dari pengalaman  yang mereka alami dapat menceritakan kasih setia Allah. Bagi umat Allah kasih setia Allah selalu baru, kata baru ini tidak dimaksudkan bahwa itu tidak pernah ada namun lebih kepada pembaharuan apa yang telah dialami sebelumnya (Tuhan membuat umat-Nya melihat melihat kasih setia itu seolah-olah  baru per tama kali). [Sumber :R.A.B-Pdt. Muryati Setianto/Foto : istimewa].

Bagi orang percaya penderitaan itu bukan “momok” melainkan “sahabat”