Berita Bethel
Penulis: Pram (25/04/2018)
Rupiah Dekati Rp14.000/USD, BI Intervensi di Pasar Valas dan SBN

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengungkapkan, pihaknya telah melakukan intervensi baik di pasar valuta asing (valas) maupun surat berharga negara (SBN). Hal ini demi menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) agar tidak merosot terlalu dalam.

Menurutnya, tak berdayanya nilai tukar mata uang Garuda menghadapi USD disebabkan karena yeild treasury bills AS yang terus mengalami peningkatan hingga hampir menyentuh level psikologis 3,0%. Serta kembali menguatnya spekulasi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) lebih dari tiga kali di tahun ini.

"Untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya, Bank Indonesia telah melakukan intervensi baik di pasar valas maupun pasar SBN dalam jumlah cukup besar," katanya dalam keterangan resmi yang diterima SINDOnews di Jakarta, Selasa (24/4/2018).

Dengan upaya tersebut, kata mantan Menkeu ini, IDR yang pada hari Jumat sempat terdepresiasi sebesar -0,70%, pada hari Senin ini hanya melemah  -0,12%. Menurutnya, pelemahan inu ebih rendah daripada depresiasi yang terjadi pada mata uang negara-negara emerging market dan Asia lainnya, seperti PHP -0,32%, India INR -0,56%, Thai THB -0,57%, MXN -0,89%, dan Afrika Selatan ZAR -1,06%.

Gambaran serupa juga tampak dalam periode waktu yang lebih panjang. Dengan dukungan upaya stabilisasi oleh BI, sejak awal April (month to date/mtd), IDR melemah -0,91%, lebih kecil daripada pelemahan mata uang beberapa negara emerging market lain, seperti THB -1,04%, INR -1,96%, MXN -2,76%, ZAR -3,30%.

Demikian pula, sejak awal tahun 2018 (year to date/ytd) IDR melemah -2,35%, juga lebih kecil daripada pelemahan mata uang beberapa negara emerging market lain seperti BRL -3,06%, INR -3,92%, PHP -4,46%, dan TRY -7,17%.

Dia menegaskan, pihaknya akan terus memonitor dan mewaspadai risiko berlanjutnya tren pelemahan nilai tukar rupiah, baik yg dipicu oleh gejolak global terhadap berlanjutnya arus keluar asing dari pasar SBN dan saham Indonesia. Adapun gejolak tersebut antara lain dampak kenaikan suku bunga AS, perang dagang AS-China, kenaikan harga minyak, dan eskalasi tensi geopolitik.

"Maupun yang bersumber dari kenaikan permintaan valas oleh korporasi domestik terkait kebutuhan pembayaran impor, ULN, dan dividen yang biasanya cenderung meningkat pada triwulan II. Untuk itu, BI akan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah sesuai fundamentalnya," tandasnya.[Sumber : sindonews.com].