Berita Bethel
Penulis: Pram (30/04/2018)
Kembali ke Kasih Semula

“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula”(Wahyu 2:4). Dalam surat kiriman Yohanes kepada ketujuh jemaat (Why. 2, 3), jemaat Efesuslah yang pertama disapa karena keutamaan dan kedudukannya yang terkemuka menjadikan  jemaat yang ada di sana pun menjadi terkemuka di antara ketujuh jemaat.

Jemaat di Efesus didirikan oleh Paulus bersama dengan Priskila dan Akwila pada saat perjalanan misi kedua. Bahkan menurut Tradisi, Timotius dan rasul Yohanes pernah melayani di Efesus. Hal ini menjadi  catatan penting supaya kita waspada: Kalau gereja Efesus yang didirikan dan dilayani oleh tokoh-tokoh yang luar biasa itu saja bisa kehilangan kasih yang semula, lebih-lebih gereja kita!.

Karena itu, jangan lengah dalam menjaga kasih saudara supaya tidak kehilangan kasih yang semula!. Dalam teks pembacaan, terdapat pujian berlapis tiga yang Tuhan Yesus berikan kepada jemaat Efesus. Mereka  dipuji kerena kerja keras mereka dan ketekunan mereka, mereka tidak jatuh kepada ajaran-ajaran yang menyimpang, dan mereka sabar terhadap aniaya (ay. 2).

Ketiga  hal itulah yang menjadi kelebihan dan keunggulan jemaat  Efesus.  Namun pujian ini diikuti dengan  celaan yang keras dalam ayat 4. Disebutkan bahwa jemaat di Efesus telah kehilangan kasih mula-mula mereka, sehingga bisa dikatakan bahwa kegiatan mereka dalam tiga pujian itu mereka lakukan hanya seperti rutinitas  atau kewajiban saja dan tidak dilandasi oleh kasih.

Ketika kita kehilangan kasih mula-mula maka pelayanan apapun yang kita lakukan tidak ada ar tinya. Kasih adalah pendorong untuk kita melakukan pelayanan kepada Tuhan.Yesus  memberi jalan keluar untuk memiliki kembali  kasih mula-mula  itu. Dalam ayat 5 ada tiga tahap yang harus dilakukan untuk kembali lagi seperti semula.

1.  INSTROPEKSI   DIRI!  “.....Ingatlah betapa  dalamnya engkau telah jatuh!”, ay. 5a. Jemaat di Efesus diingatkan untuk melihat dan mengintrospeksi diri mereka akan segala aktifitas yang mereka lakukan.

Mungkin kita tetap melayani tetapi yang menjadi permasalahannya adalah apakah kita melayani sungguh-sungguh  dengan kasih atau hanya ikut-ikutan saja atau karena ada kepentingan-kepentingan  tertentu ?. Jangan terjebak dalam aktifitas/rutinitas pelayanan namun sebenarnya  kita tidak lagi punya hubungan yang dekat dengan Tuhan.

2.  BERTOBAT!  “Bertobatlah....”, ay. 5b. Jika kita mendapati diri kita dalam keadaan yang demikian, ber tobatlah, akuilah itu di hadapan Tuhan agar Tuhan memulihkan kita kembali. Jangan kita mengeraskan  hati yang akan membuat kita akan semakin jauh dari Tuhan.3. KEMBALI KEPADA KASIH SEMULA.  “.....Lakukanlah  lagi apa yang semula engkau lakukan”, ay. 5b.

Setelah ber tobat dan mengakui semua kesalahan, Tuhan Yesus menyuruh jemaat di Efesus dan kita juga untuk kembali melakukan tugas pelayanan yang dilandasi oleh kasih kepada Tuhan. Mengasihi Tuhan berarti melakukan perintah-perintah  Tuhan (1 Yoh. 5:2-3).

Jika kita telah kehilangan kasih mula-mula dan tidak melakukan ketiga hal tersebut di atas maka Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia akan mengambil  kaki dian (cahaya/kehidupan) dari jemaat-Nya. Tidak lama lagi Tuhan Yesus akan datang kembali, jangan sampai kita kehilangan kasih yang mula- mula.

Sebaliknya peliharalah terus kasih kita kepada-Nya sehingga ketika Ia datang, kita didapati sedang memiliki dan mempraktekkan kasih itu. Kasih kepada Tuhan harus konsisten dan teruji oleh waktu. [Sumber : R.A.B-Pdm. Hiruniko Ruben/Foto : Istimewa].