Berita Bethel
Penulis: Pram (03/05/2018)
Hasilkanlah Kotbah yang Berdampak Bagi Jemaat

Kotbah-kotbah musti bersifat transformasi bukan informasi, demikan pandangan Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham berkaitan dengan bagaimana cara menghasilkan kotbah yang berdampak bagi jemaat.

Salah satunya pembicara menyampaikan kotbah pengajaran yang bertujuan untuk memberikan pemahaman [head], mendorong hati [heart] dan melakukan Firman Tuhan [hand]. "Kotbah pengajaran ini bisa memberikan pertumbuhan gereja, baik dari sisi kualitas dan kuantitas," ujarnya.

Untuk mencapai hal itu, isi kotbah berdampak terdiri dari unsur-unsur yaitu Pertama, transformatif dan bukan informatif. Hindarkan isi kotbah yang teoritis, rumit dan kering. Rohaniah, praktis dan aplikatif. 4. Bukan mengisi kepala saja melainkan mengisi hati, sehingga jemaat bisa merasakan dan mengalami kuasa Tuhan. "Sebaiknya kotbah gunakan cerita, bukan dengan konsep-konsep yang tinggi-tinggi.

Selanjutnya, ia memaparkan dua pola penyampaian Firman Tuhan masing-masing pola Yunani dan pola Yahudi. Pola Yunani logis dan terstruktur. Sementara itu, pola Yahudi berisi cerita, ilustrasi dan contoh-contoh [realitas kehidupan sehari-hari].

Kedua, melakukan eksegese [menggali] terhadap isi Firman Tuhan dan bukan eisegese [memasukkan gagasan sendiri sehingga mengeluarkan mengeluarkan makna sebenarnya dari teks Firman Tuhan]. "Hindari penafsiran yang memaksakan penafsiran ayat.

Ketiga, Kotbah ekspositori dan topikal. Ekspositori uraikan perikop [minimal 4 ayat] yang terdiri dari poin utama dan sub poin. Sementara itu, topikal menguraikan suatu tema. Poin utama ditopang dengan sub-sub ayat Firman Tuhan.

Ekspositori diawali dengan induktif [kebenaran Firman Tuhan], O : observasi/penyelidikan, I : interpretasi [penafsiran] apa pesan sang penulis untuk pembaca/pendengarnya. A : Aplikasi/penerapan : bagaimana penerapannya ?, apa langkah konkritnya?. Rumus ini disingkat OIA.

Keempat, penyajian menarik sesuai pandangan Aritoteles yaitu etnos, pathos dan logos. Etnos berkaitan dengan karakter, kredibilitas. Pathos [semangat, bergairah]. Logos gunakan alasan-alasan yang logis dan terstruktur.

Kelima, pergunakan audio. Era moderen terdiri dari penyajian data, kotbah melalui sarana buku, makalah lengkap. Sementara itu, kini kita di era post modern : visual, gambar-gambar, ppt [power point] ringkas, multi media. Kelima, Sampaikan kotbah dengan semangat, ekspresif, bahasa tubuh [secara wajar], dan belajar ilmu kotbah [homilitika].

Diakhir paparannya, Pdt. Rubin Adi menyampaikan empat pilar memperkuat gereja yaitu 1. Ibadah raya. 2. Kelompok pemuridan. 3. Kelompok sel. 4.Saat teduh pribadi. Kotbah-kotbah perlu disusun per tahun [tahunan], bulanan dan mingguan.

Pdt. Dr. Rubin Adi, [Ketua Teologi dan Pendidikan BPH GBI] menyampaikan cara menghasilkan kotbah yang berdampak bagi jemaat ketika ia berbicara sebagai nara sumber sesi kedua pada acara Pastor dan Leader Conference 2018. Acara ini digelar oleh Departemen Litbang dan Jaringan BPH GBI dan bertempat di GBI Nafiri Allah, CP Jakarta-Barat [Rabu, 02/5]. Gereja ini digembalakan oleh Pdt. Yosia Abdisaputra, MTh dan sebagai Ketua Litbang dan Networking BPH GBI.