Berita Bethel
Penulis: Pram (17/05/2018)
Menjadi Berkat Dalam Kesukaran

“Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka” (1 Samuel 22:2).

Sebagai orang yang  telah  diurapi Tuhan untuk  menjadi raja, seharusnya Daud hidup di istana yang menyediakan semua fasilitas terbaik. Jika dilihat dari prestasi  dan reputasinya, Daud adalah seorang yang seharusnya dihormati dan disegani.

Sebaliknya, ia hidup dalam ketakutan, berpindah dari satu gua ke gua lain. “Pandanglah ke kanan dan lihatlah, tidak ada seorang pun yang menghiraukan aku, “ jerit hatinya (Maz. 142:5).

Sebagai manusia, Daud pun tidak lepas dari yang namanya pergumulan dan masalah. Walaupun Daud merupakan orang yang diurapi Tuhan, tetapi tidak berarti dia bebas dari masalah.

Di tengah kesepian dan tekanan batin seperti itu yang dibutuhkan Daud adalah penghiburan dan dorongan semangat. Gua Adulam seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman, yang dapat memberikan  perlindungan dan keteduhan. Namun, justru  Tuhan   menghadirkan kepadanya saudara  dan keluarga, kemudian orang-orang yang penuh dengan masalah,  mengalami kesukaran, dikejar piutang, sakit  hati, dan sebagainya.

Mungkin  Daud berpikir, “Mengapa Tuhan mengirimkan orang-orang bermasalah  ini, sedangkan hidupku sendiri dalam masalah ?” Padahal Daud dalam Mazmur 57, berdoa kepada Tuhan untuk pertolongan-Nya, dan meminta agar Tuhan mengirimkan “utusan dari sorga” untuk menyelamatkan Daud.

Namun, sesungguhnya Tuhan  memberikan pertolongan kepada Daud, meskipun yang datang bukanlah pasukan malaikat, atau orang-orang kuat. Tuhan tidak menginginkan Daud tumbuh menjadi orang yang mengasihani  diri sendiri.

Sebaliknya,  Tuhan mendidik Daud untuk lebih dulu memberikan penghiburan dan semangat kepada orang lain. Dari situlah pertolongan Tuhan bekerja. Ketika Daud menghibur mereka, penghiburan Tuhan mengalir kepadanya.

Sikap Daud yang mau menerima sesamanya walaupun dirinya sendiri mengalami masalah,membuktikan bahwa kasih dapat mengatasi permasalahan.Firman  Tuhan  mencatat bahwa pada  akhirnya Daud menjadi pemimpin atas  orang-orang bermasalah tersebut. Mengapa demikian ?, karena Daud fokus kepada Tuhan,  sehingga ia mampu mengatasi permasalahannya (Mzm. 141:8a).

Ketika  kita fokus kepada Tuhan,  kita dapat mengerti rencana-Nya yang indah. Kita bisa melihat bahwa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita akan mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28). Seseorang tidak mungkin menjadi pemimpin jika permasalahannya sendiri tidak sanggup diatasi. Ketika datang kepada Tuhan, fokus kepada-Nya dan berlindung kepada-Nya, maka masalah apapun tidaklah lebih besar daripada  kuasa-Nya.  Di gua Adulam, Daud belajar menjadi pemimpin.  Dia mengikuti proses yang Tuhan berikan dan kemudian berhasil menjadi pemimpin sejati.

Ketika menghadapi sebuah masalah pelik, kita cenderung mengasihani diri dan mencari perhatian dari orang lain. Bahkan seringkali ketika kita dalam masalah, kita cenderung  untuk tidak peduli dengan keadaan sekitar, dan menjadi marah ketika sekitar kita tidak mengerti permasalahan  pribadi kita.

Seperti Daud, Tuhan menghendaki agar kita menjadi orang yang aktif untuk memberikan penghiburan kepada orang lain. Dari hal inilah Tuhan akan menghibur kita!. Dalam menghibur orang lain kita terhibur, dalam memberi dorongan semangat kita terdorong, dan dalam menolong orang lain kita tertolong.Tinggalkan sikap mengasihi diri sendiri dan mulailah untuk mengasihi orang lain. [Sumber : R.A.B - Pdt. Timotius Bakti Sarono/Foto : Istimewa].