Berita Bethel
Penulis: Pram (17/06/2018)
Pesan Franklin Graham Ke Korea Utara : Orang Kristen Bukan Musuhmu !

Menanggapi pertemuan Presiden Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, penginjil Franklin Graham [kanan] percaya bahwa hal itu akan berdampak positif bagi umat Kristen di negeri gingseng itu.

Bagi keluarga Graham memiliki sejarah panjang dengan negara Korea Utara, mulai dari ibu Franklin, yaitu Ruth Graham yang pernah bersekolah di Pyongyang pada tahun 1930-an, dan Billy Graham yang pernah mengunjungi negara komunis tersebut pada tahun 1992 dan 1994, hingga Franklin Graham sendiri yang sudah empat kali berkunjung ke sana memimpin pelayanan Samaritan’s Purse dalam berbagai kegiatan kemanusiaan.

“Saya pikir Korea Utara sudah lama ingin berbicara dengan Amerika dan inilah masa pemerintahan pertama dimana mereka bisa bicara secara langsung seperti ini,” demikian ungkap Franklin.

Yang membedakan Pemerintahan Trump dengan presiden-presiden sebelumnya sehingga bisa mewujudkan pertemuan dengan Korea Utara adalah karena pemerintahan Trump memperlakukan Korea Utara dengan rasa hormat.

“Korea Utara hanya ingin diperlakukan dengan hormat dan Pemerintahan lainnya mengabaikan mereka seperti mereka itu bukan apa-apa,” demikian pendapatnya.

Ia pun percaya bahwa pertemuan tersebut akan meringankan tekanan pemerintah Korea Utara kepada orang-orang Kristen yang selama ini dianggap musuh negara.

“Saya ingin pemerintah komunis mengetahui bahwa orang Kristen bukanlah musuh mereka,” demikian ungkapnya. “Mereka bahkan berpotensi sebagai rakyat yang paling baik di negara itu karena Tuhan memerintahkan kita semua untuk berdoa bagi mereka yang memegang otoritas.”

Pertemuan antara Trump dan Kim Jong Un pada 12 Juni 2018 lalu di Singapura menghasilkan beberapa kesepakatan, diantaranya yaitu melakukan denuklirisasi  di Korea Utara dan juga menghentikan latihan militer bersama antara Korea Selatan dan Amerika di Semenanjung Korea.

Fakta Mengejutkan, Kekristenan Ternyata Terus Berkembang di Korea Utara. Kim Chung-seong [kiri], seorang pelarian asal Korea Utara yang sekarang bekerja sebagai misionaris Kristen, mengatakan meskipun penganiayaan dihadapi orang-orang Kristen, gereja-gereja justru terus berkembang di negara asalnya.

"Satu hal yang paling dikhawatirkan rezim Korea Utara, dan ditakuti, adalah penyebaran Injil," ujar Kim pada KTT Dunia Tahunan Pertama Pertahanan Orang-Orang Kristen Teraniaya (World Summit in Defense of Persecuted Christians) di Washington, Amerika Serikat.

Kim mengerti alasan rezim Korut begitu tidak nyaman terhadap penyebaran injil. "Karena Alkitab dan Injil berbicara kebenaran. Begitu cahaya bersinar di ruangan gelap, ada cahaya di ruangan itu," jelas Kim.Terlepas dari upaya menekan yang dilakukan pemerintah di Korea Utara, ungkap Kim, kepercayaan umat Kristen di negara tersebut terus berkembang.

"Mereka (pemerintah) akan melakukan apapun untuk mencegah penyebaran Injil di Korea Utara. [Tapi] seperti yang kamu lihat, kita tidak bisa menghalangi sinar matahari dengan tangan kita," kata Kim.

Sebagaimana ditulis surat kabar The Sun, Kim Chung-seong, 41 tahun, pernah menjadi penyanyi di band kenegaraan Korea Utara era Kim Jong-il. Namun, dirinya harus melarikan diri dengan hanya mengenakan pakaian yang ada di tubuhnya ketika dia dijatuhi hukuman karena melakukan kejahatan kecil pada usia 20 tahun.

Dirinya bahkan dilaporkan sebagai mata-mata untuk pemerintahan RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Sejak 2004, Kim bermukim di Korea Selatan. Di negara tersebut, ia menjadi seorang pendeta Kristen dan Disc Jockey radio. Sebagaimana dilansir CatholicNewsAgency, Bersama Far East Broadcasting Company, Kim membantu mengirimkan pesan Injil, musik Kristen, dan berita dunia ke Korea Utara melalui drive USB dan kartu memori SD.

"Namun, pekerjaan yang paling penting adalah mengisi pikiran masyarakat Korea Utara dengan Yesus Kristus karena kebenaran akan memerdekakanmu," ucap Kim di hadapan KTT Dunia Tahunan Pertama Pertahanan Orang-Orang Kristen Teraniaya.Doa saya yang sungguh-sungguh, pungkas Kim, bahwa kebenaran akan membuat setiap saudara laki-laki dan perempuan Korea Utara saya bebas.[Sumber : jawaban.com].