Berita Bethel
Penulis: Pram (29/06/2018)
Enam Persen Anak-Anak Indonesia Alami Kekerasan

Prevalensi Kekerasan terhadap anak laki-laki dan perempuan dari jumlah populasi anak Indonesia sebesar 87 juta anak [34% populasi penduduk Indonesia], dari jumlah itu yakni 6 % mengalami kekerasan fisik, kekerasan emosional dan kekerasan seksual.

Hal itu disampaikan oleh perwakilan Komisioner KPAI, Sitti Hikmawati pada acara Puncak Bulan Keluarga GBI 2018 di Graha Bethel, Jakarta [Selasa, 26/6]. Hadir Ketua Umum BPH GBI dan Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, SpKJ selaku Ketua Pembinaan Keluarga dan Pokja Keluarga Unggul BPH GBI.

Lebih lanjut, Sitti mengatakan negara telah berkomitmen untuk memberikan perlindungan terhadap anak. Hal itu berdasarkan Konvensi Hak Anak [KHA] Ratifikasi Keppres 36/1990 dengan ketentuan kewajiban negara dalam memenuhi, melindungi, menghormati pandangan.

Sementara itu, KHA mempunyai 3 Opsional Protokol masing-masing : 1. OP tentang prostitusi, pornografi anak dan perdagangan anak. 2. OP tentang keterlibatan anak dalam konflik bersenjata dan OP tentang Prosedur Komunikasi.

Ratifikasi di atasmeliputi konsekuensi masing-masing membuat aturan hukum [UU] terkait anak, mensosialisasikan hak-hak anak sampai kepada anak, membuat laporan berkala ke PBB. Sampai saat ini, Indonesia telah menerbitkan 50 peraturan terkait anak.

Sitti kemudian menayangkan sebuah "Pohon Kekerasan" yang terdiri dari tiga bagian yaitu : 1. Faktor pemicu : minuman keras, pornografi. 2. Faktor pendukung : pernikahan anak [dini], konflik dan kesalahan pengasuhan. 3. Akar penyebab : kemiskinan dan relasi kuasa. Sementara itu, dampak kekerasan terhadap anak akan menimbulkan dampak fisik dan psikologis terhadap anak yakni depresi, gangguan tidur, penyakit jantung, menyakiti diri sendiri, penggunaan narkoba, hingga perilaku seks menyimpang.

"Anak korban kekerasan berpotensi melakukan kekerasan [terhadap anak lain], ketika ia dewasa. Sanksi terhadap pelaku kekerasan terhadap anak berdasarkan UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak diatur pada Pasal 76 E, Pasal 82 ayat 1 dan 2 yakni hukuman kurungan selama 5 tahun dan paling lama selama 15 tahun dan denda Rp. 5 Miliar.

Perangkat gadget atau smart phone, menurutnya perlu diwaspadai khususnya jika user-nya anak-anak. Sebab kejahatan siber bisa muncul dari alat ini, termasuk kejahatan paedofilia.

"Film drama Korea dan Jepang bisa membuat anak-anak terbius, sebab ada tayangan tertentu yang mengajarkan bahwa bunuh diri itu indah," ujarnya dengan nada prihatin. "Bahkan ada anak usia 8 tahun, SD di Jawa Tengah bunuh diri sebab pakaian [seragam] sekolahnya basah," imbuhnya.

Diakhir pemaparannya, Sitti menyampaikan peran Keluarga GBI dalam konteks intervensi psikososial terdiri dari empat poin yaitu : 1. Penyembuhan keluarga sebagai satu kesatuan. 2. Intervensi krisis : menghilangkan pengaruh buruk dari suatu kejadian yang sifatnya menekan dan merusak serta membantu memobilisasi kemampuan-kemampuan psikologis yang sifatnya nyata maupun tersembunyi dari orang-orang yang langsung terlibat.

3. Penyembuhan tingkah laku : prinsip teori belajar untuk mengubah tingkah laku dalam rangka penyembuhan terhadap klien.  4. Pendidikan orang tua : pendidikan tentang perilaku anak, pengembangan keterampilan untuk mengasuh anak. Sarana yang dipergunakan adalah kelompok diskusi, latihan singkat dan belajar mandiri.Pemaparan selanjutnya dengan nara sumber Pdt. Dwidjo Saputro dengan tema " Peran Gereja Dalam Perlindungan Keluarga dan Anak Terhadap Kekerasan".