Berita Bethel
Penulis: Pram (14/07/2018)
Gereja Berperan Mencegah Kekerasan Pada Keluarga

Tema itu disampaikan Pdt. Dr.dr. Dwidjo Saputro, SpJK [Ketua Pembinaan Keluarga dan Pokja Keluarga Unggul BPH GBI] pada acara Puncak Bulan Keluarga GBI 2018 di Graha Bethel, Jakarta [Selasa, 26/6]. Hadir juga perwakilan Komisioner KPAI, Sitti Hikmawati dan Ketua Umum BPH GBI.

Dalam paparannya, Pdt. Dwidjo Saputro menyampaikan 5 peran gereja dalam hal ini termasuk pencegahan kekerasan terhadap anak-anak : 1. Pemimpin gereja harus melibatkan komunitas mereka dalam pendidikan dan pemecahan masalah. 2. Peran optimal bagi gereja adalah penyediaan dukungan umum untuk keluarga.

2. Peran optimal bagi gereja adalah penyediaan dukungan umum untuk keluarga. 3. Gereja perlu melaporkan pelecehan dan penelantaran. 4. Gereja-gereja memiliki kepedulian yang tulus terhadap keamanan anak-anak. 5. Gereja membangun kolaborasi dengan organisasi layanan sosial untuk mengkoordinasikan upaya pencegahan serta deteksi dini kekerasan dan keluarga. KDRT bisa terjadi sebagai akibat [hasil] dari perbuatan dosa.

Lebih lanjut, Pdt. Dwidjo menjelaskan bahwa gereja adalah institusi yang dibentuk Allah untuk bersama keluarga membangun manusia yang dosanya sudah diampuni dan ditebus oleh Yesus menjadi manusia yang utuh secara tubuh, jiwa dan roh untuk mengalami damai sejahtera dan suka-cita. Sementara itu, Keluarga adalah institusi yang dibentuk oleh Allah sebagai representasi Allah di dunia menjadi lingkungan utama yang menghadirkan rasa aman dan penuh kasih. Gereja bersama lembaga sosial lainnya harus bekerja-sama untuk memberikan pencegahan dan deteksi dini kekerasan terhadap anak/anggota keluarga.

'Firman Tuhan tegas dan jelas melarang penganiayaan terhadap janda atau anak yatim, sesuai dengan nats Keluaran 22:22, Ulangan 10:18, Ulangan 27:19, Yeremia 22:3, Yesaya 1:17, Mazmur 127:3," ujarnya. Ia kemudian menambahkan bahwa Yesus Kristus juga merawat dan perhatikan anak-anak seperti tertulis pada nats Markus 10:15, Lukas 18:17, Matius 18:5, Matius 18:4, Matius 19:13-14.

Keprihatinan Pdt. Dwjdjo salah satunya ia konsen tentang 300 ribu anak-anak sekitar usia 8 tahunan melayani sebagai tentara baik sebagai pasukan Pemerintah atau pihak pemberontak di seluruh dunia. Konsen lainnya ialah perihal data sekitar 600 - 800 ribuan orang diperdagangkan, 50 ?ri jumlah itu adalah anak-anak [sebagian besar adalah kaum perempuan]. Bahkan, mayoritas korban dipaksa terjun dalam perdagangan seks komersial.

Perdagangan anak adalah salah satuĀ  kejahatan yang tumbuh paling cepat di dunia. Menurut data yang dihimpunnya, beliau mendapatkan angka perdagangan anak global mencapai nilai lebih dari USD 12 miliar per tahun, dengan korban mencapai 1.2 juta anak. Lebih lanjut, ia mempresentasikan data-data Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika-Serikat yaitu usia rata-rata anak-anak 12-14 tahun mengalami eksploitasi seks sebanyak 300 ribu anak.Sementara itu, setiap tahunnya terjadi insiden eksploitasi seksualĀ  terhadap 199 ribu anak.

"Studi menunjukkan bahwa hingga 10 juta anak di AS menyaksikan beberapa bentuk kekerasan dalam rumah tangga setiap tahun dan sekitar setengah dari mereka juga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga," ujarnya.

Kembali ke kondisi tanah air, Pdt. Dwidjo memaparkan data-data soal KDRT yang semakin meningkat dan angka perceraian juga demikian. Data kekerasan terhadap perempuan mencapai 335.062 kasus [96.16%] pada tahun 2017.

Sementara itu, kekerasan terhadap anak-anak [7 tahun terakhir] mencapai angka 26.954 kasus [18.57 %]. Ia kemudian mengutip nats Lukas 6:27-36 yakni melalui pengajaran dan teladan-Nya, Yesus memerintahkan setiap orang yang mengikutinya untuk menanggapi ketidak-adilan dengan mengasihi musuh mereka, memberi pipi yang lain, berdoa bagi mereka yang menganiaya kita.

Mengutip pandangan Timothy Keller, Pdt. Dwidjo mengatakan dibalik setiap dosa perilaku adalah tindakan penyembahan berhala. Dan dibalik setiap tindakan penyembahan berhala adalah ketidak-percayaan kepada Injil". Selanjutnya, ia menambahkan bahwa Firman Tuhan mengarahkan kembali fokus orang dari pemberontakan dosa dan penyembahan berhala mereka kepada penyembahan terhadap pencipta mereka seperti tertulis pada nats Yakobus 4:1-10. Nats ini berkaitan dengan jantung masalah konflik interpersonal adalah hati.

Alkitab berpandangan bahwa nilai perkawinan adalah sangat tinggi, sesuai dengan Markus 10:1-12. Hal itu tidak akan memungkiri bahwa akan ada saat-saat sebuah pernikahan akan secara tragis menjadi begitu dis-fungsional dan bahkan beracun, namun berpisah bukanlah hal bijaksana [I Kor 7:10-12]. "Jika suami dan istri adalah pengikut Yesus, maka tujuan akhirnya adalah pertobatan disertai rekonsiliasi. Namun diakui bahwa situasi demikian merupakan proses yang panjang dan sulit, bukanlah keputusan yang sederhana," tegasnya.

Setiap kali orang percaya sadar tentang relasi dengan sesamanya, baik pria atau wanita dalam segala hal tindakan melakukan dosa atau perbuatan tidak pantas, maka kita diperintahkan untuk secara berani mengkonfrontasikan mereka tentang hal itu [Galatia 6:1-2]. Terlebih lagi, jika mereka gagal untuk berubah maka mereka secara bertahap akan melibatkan orang lain untuk membantu menyelesaikan situasi [Matius 18:15-22].

Sebagai kepala dari hubungan pernikahan, suami secara pribadi bertanggung-jawab dan karena itu pada akhirnya bertanggung-jawab atas kesejahteraan istrinya [1 Petrus 3:7]. Tuhan dalam Alkitab tidak hanya menguraikan pria dan wanita saling mencintai secara umum, tetapi juga secara eksplisit menyatakan Ia membenci kekerasan yang berkaitan dengan perceraian [Maleakhi 2:13-16]. Setiap perilaku kekerasan terhadap orang lain, terutama terhadap pasangan akan berdampak pada persekutuan dengan Tuhan.

Berita Terkait :

Opening Puncak Bulan Keluarga GBI 2018

Enam Persen Anak-Anak Indonesia Alami Kekerasan