Berita Bethel
Penulis: Pram (13/08/2018)

Narkoba = Peringkat Kejahatan Tingkat Pertama

Penyalahgunaan obat-obat terlarang semakin meningkat. Hal ini ditegaskan Irjen. Pol. Drs. Arman Depari, Deputy Bidang Pemberantasan BNN pada acara TFT [Training for Trainers] Satgas Anti Narkoba di Graha Bethel, Jakarta [Selasa, 13/8]. Acara digelar DPA-WBI BPH GBI.

Usai Ketua DPA BPH GBI, Pdt.Joel Manalu, MTh dan Ketua Umum BPH GBI [Pdt. Dr. Japarlin Marbun] menyampaikan sambutan singkat, Irjen. Pol. Drs. Arman Depari menyampaikan presentasinya.

"Perlu penanganan terpadu oleh semua pihak berkaitan soal narkoba ini,"tegasnya. Menurut pengamatannya para pelaku [peredaran] adalah sindikat, suatu tindak kejahatan yang tidak berdiri sendiri. 

Lebih lanjut, ia menjabarkan soal ciri-ciri [umum] bagi pengguna narkoba tingkat anak-anak yakni malas, kurang menjaga kebersihan [jorok]. Bagi pengguna orang-tua akan memunculkan KDRT dan perceraian.

Ia mengingatkan soal para pengguna jarum suntik bagi pecandu narkoba, hal itu akan menimbulkan kerawanan tertular HIV/AIDS. Narkoba menurutnya adalah suatu tindakan untuk melakukan penyimpangan terhadap obat-obatan tertentu. "Seharusnya obat itu digunakan untuk memberikan kesembuhan, ketenangan, pembiusan untuk keperluan bedah [anastesi].

Efek negatif narkoba yakni kerusakan syaraf otak, misalnya seorang pengguna akan berjalan sempoyongan, gembira berlebihan, mengalami ketakutan berlebihan, ketagihan [addicted]. Dari data-data yang ada, dari angka Rp. 82 triliun, 52 triliun dipergunakan untuk belanja [pembelian] narkoba per tahun.

Sisanya Rp. 22 triliun digunakan untuk pengobatan, rehabilitasi dan tindakan medis. Per hari tercatat 30 orang meninggal dunia, 40% diantaranya adalah usia muda.

Berdasarkan hasil survei pula, empat peringkat kejahatan masing-masing terdiri dari narkoba [peringkat pertama], terorisme, korupsi, dan penyebaran berita bohong [hoax].  Dengan nada prihatin, Irjen. Pol. Drs. Arman Depari mengungkapkan ada anak balita usia 5 - 6 tahun memakai narkoba, juga anak remaja usia 11 - 15 tahun.

Lebih lanjut, ia menceritakan strategi bandar besar menyisihkan 10 persen barang narkoba untuk promosi dan mengikat para pemakai. Di tengah-tengah situasi beredarnya 90 jenis narkoba di Indonesia. Pemakai narkoba level pekerja sebesar 50,34%, anak-anak sekolah termasuk mahasiswa mencapai 27,32 persen.

Sementara itu, jumlah pengguna level pengangguran mencapai 22,34 persen. Tiap 100 orang penduduk Indonesia, pada rentang usia 10-59 tahun, 2 orang diantaranya menyalah-gunakan narkoba. "Marak peredaran dan penggunaan obat terlarang jenis tembakau gorilla dan penyalah-gunaan obat jenis tramadol," pungkasnya.Acara dilanjutkan dengan tanya-jawab, rehat makan siang dan masuk ke sesi kedua.