Berita Bethel
Penulis: Pram (24/08/2018)
Rupiah Makin Meradang, Melorot Jadi Rp14.651 per Dolar AS [24/8]

Nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp14.651 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan pasar spot hari ini, Jumat (24/8). Posisi ini melemah 13 poin atau 0,08 persen dari penutupan kemarin, Kamis (23/8) di Rp14.638 per dolar AS.

Bersama rupiah, beberapa mata uang negara di kawasan Asia turut melemah, mulai dari yen Jepang minus 0,13 persen, ringgit Malaysia minus 0,13 persen, rupee India minus 0,08 persen, dan renmimbi China minus 0,04 persen.

Sedangkan mata uang Asia lainnya sudah berhasil menguat dari dolar AS. Peso Filipina menguat 0,08 persen dolar Singapura 0,15 persen, won Korea Selatan 0,22 persen, dan baht Thailand 0,37 persen.

Sebaliknya, mayoritas mata uang utama negara menguat dari dolar AS. Rubel Rusia menguat 0,6 persen, dolar Australia 0,4 persen, euro Eropa 0,18 persen, franc Swiss 0,15 persen, poundsterling Inggris 0,1 persen. Hanya dolar Kanada yang melemah 0,1 persen dari dolar AS.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.655 per dolar AS atau melemah juga dari posisi kemarin Rp14.620 per dolar AS.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yasyi mengatakan pelemahan rupiah hari ini didominasi oleh sentimen rencana kenaikan tingkat suku bunga acuan bank sentral AS, The Federal Reserve, dan perang dagang antara AS-China. Hal ini membuat investor kian khawatir.

Apalagi, The Fed kelihatannya akan tetap mengerek bunga acuan, meski Presiden AS Donald Trump sempat khawatir bahwa kebijakan ini justru berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.

"Keduanya punya tekanan yang sama jadi dampaknya rupiah belum punya kesempatan menguat," ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/8).

Di sisi lain, tak ada sentimen positif dari dalam negeri yang berhasil menopang rupiah. Alhasil, berbeda dengan beberapa mata uang Asia lainnya, rupiah tetap mendekam di zona merah. "Harapan di pasar, akan ada intervensi lain dari BI maupun pemerintah," katanya.

Lebih lanjut ia melihat potensi pelemahan rupiah ke depan bisa mencapai kisaran Rp14.804 per dolar AS apabila tidak segera ada intervensi dari BI ataupun sentimen positif lain, baik dari dalam maupun luar negeri.[Sumber : cnnindonesia.com].