Berita Bethel
Penulis: Pram (28/08/2018)
Ibadah Pembukaan MPL V [a] : Penuai yang Berhasil

Tepat jam 16.10 WIB, persidangan bertempat di Royal Safari Garden, Cisarua, Jawa-Barat dibuka dengan pujian dan penyembahan [Selasa, 28/8].  Tema kali ini ialah 2018 Tahun Penuaian Raya, Maximize The Harvester. Para peserta adalah MP BPH GBI, MPL BPH GBI se-Indonesia dan BPLN masing-masing Kanada, Australia, Eropa, Timor Leste dan perwakilan Church of God Amerika-Serikat di Indonesia.

Menyampaikan Firman Tuhan yakni Pdt. Dr. Japarlin Marbun, Ketua Umum BPH GBI. Ia menyampaikan tema "Penuai yang Berhasil" dengan mengutip nats 2 Korintus 4:1-15.

Bagaimana kita menjadi penuai yang berhasil sehingga banyak jiwa dimenangkan untuk Kristus. Tiga hal untuk menjadi penuai yang berhasil :1. Pelayan Tuhan tidak mudah tawar hati [ayat 1], meskipun menghadapi banyak tantangan dan persoalan dalam ladang pelayanan seperti Rasul Paulus.

Orang unggul adalah orang yang bisa menghapus kata menyerah, terus berjuang. Kemudian, ia membacakan 2 Korintus 4:8-9 " Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;4:9 kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa".

2.Memiliki integritas [Pasal 4:2 "Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah"].

Integritas artinya satu kata dan satu perbuatan, tulus dan jujur. Yesus mengajarkan agar kita berkata ya di atas ya dan tidak diatas tidak. Tahun penuaian raya 2018 adalah pemenangan jiwa, church planting.

3. Bersandar pada kasih karunia Allah [4:15 "Sebab semuanya itu terjadi oleh karena kamu, supaya kasih karunia, yang semakin besar berhubung dengan semakin banyaknya orang yang menjadi percaya, menyebabkan semakin melimpahnya ucapan syukur bagi kemuliaan Allah"].

Sekeras apapun untuk membentuk keunggulan pribadi, faktor kasih karunia Allah tidak dapat dipisahkan. Namun, kasih karunia jangan sampai membuat orang percaya tidak bekerja keras. Sebaliknya, hal itu mendorong orang percaya untuk semakin bekerja-keras.

Diakhir kotbahnya, ia mengatakan susunan TTG [Tata Gereja] GBI yang baru diharapkan bisa menjawab kebutuhan gereja, paling tidak 20-25 tahun mendatang. "TTG bukan seperti "pemadam kebakaran" semata, lebih fokus kepada pemenangan jiwa-jiwa," pungkasnya. Pdt. Soehandoko Wirhaspati [Ketua MP BPH GBI] menutup dengan doa.