Berita Bethel
Penulis: Pram (06/09/2018)
Keluarga Penting Dalam Penggembalaan

Tuhan mempersatukan pernikahan, namun manusia harus mempertahankan pernikahan.Bila keluarga membangun hubungan, terbangun suatu sistem yang sehat maka akan hasilkan pribadi yang sehat.

Pernikahan di-disain sesuai dengan rencana dan tujuan Allah. Namun banyak yang kini tak sesuai dengan tujuan Allah. Hasilnya, keluarga dibangun di atas tradisi, keluarga moderen, keluarga milenial [keluarga dengan prinsip rasionalitas : pendapat rasional/akal sehat, pasang topeng agar tak kelihatan berdosa,  bukan membangun hubungan dengan Tuhan, subyektifitas, individualitas].

Hal itu disampaikan Pdt. Dr. dr. Dwidjo Saputro, SpJK [K] pada sesi Konferensi Pelayanan Gereja [KPK] ke-7 di GBI Bethel Bandung [GBI Mekarwangi-Stairway From Heaven], Jawa-Barat [Kamis, 6/9]. Nara sumber kemudian membacakan nats Kejadian 1:26.

Dengan nada prihatin, Pdt. Dwidjo Saputro menyampaikan data bahwa tak dapat dipungkiri kini keluarga dipengaruhi oleh media sosial. Berada di SM, presentase kehadiran anak-anak sangat sedikit, sementara med sos 1 minggu selama 38,5 jam di hadapan med sos. "Di era med sos, karya RK tetap diperlukan dan tetap ada. RK dicurahkan agar keluarga terus punya hubungan dengan Tuhan," ujarnya.

Lebih lanjut, ia memeparkan soal Pernikahan Sakit [Dysfunctional Marriage], suatu pernikahan di luar prinsip-prinsip Alkitab namun kini dianggap normal yaitu selingkuh, free sex, kawin-cerai.

Pernikahan yang benar menurutnya ialah Kingdom Marriage. Artinya suatu ikatan perjanjian antara seseorang pria dan seorang wanita yang berkomitmen untuk berfungsi secara bersama-sama di bawah otoritas ilahi.

Berbagi untuk mencapai tujuan Allah, bukan kegairahan-kesenangan. "Pernikahan adalah ikatan perjanjian yang kudus, bukan semata kotrak sosial [cocok jalan terus, tidak cocok stop]. Banyak pihak yang salah berpikir bahwa menikah identik dengan penderitaan," ujarnya.

Ia memberikan contoh yang baik dari sisi kehidupan Queen Victoria [Ratu Inggris dan Irlandia] - Prince Albert. Anak-cucunya menjadi garam dan terang dunia, hasilnya berpengaruh ke seluruh dunia, market place dikenal dengan era Victoria Morality.

Pernikahan yang hancur adalah kehilangan tujuan, kehilangan berkat yang terkandung dalam pernikahan Alkitabiah. Pernikahan = oneness [satu-kesatuan]. Hal ini bukan langkah praktis, berpusat pada hubungan dengan Allah yang hidup karena karya Kristus, melalui kehadiran Roh Kudus. Dipanggil menjadi satu kesatuan rasional oleh Roh Kudus [Efesus 4:3].

Lebih lanjut, ia membahas soal Healtyh Marriage, suatu pernikahan tetap mempertahankan keunikan [identitas, tujuan]. Pasutri dipersatukan melalui kemitraan [partnership sesuai kehendak Tuhan].

Relasi pasutri adlah hubungan intim seumur hidup, rasa aman, suka-cita, menerima apa adanya. Masing-masing memenuhi panggilan Tuhan, membangun rasa saling percaya. Konflik berkelanjutan di dalam keluarga bisa terjadi, menurut pandangannya disebabkan pengabaian karya Roh Kudus.

Joni Eareckson Tada [pencipta lagu Alone Yet Not Alone, 2014]. "Kami terbuka, jujur, doa bersama, membaca Alkitab bersama]. Kini memimpin sebuah lembaga pelayanan yang melayani kaum disabilitas. Sang suami dengan setia merawat istrinya yang mengalami kelumpuhan permanen dengan setia.

Diakhir pemamarannya, Pdt. Dwidjo Saputro menyampaikan kesimpulan : 1. Bagian kita adalah mempertahankan pernikahan, mempertahankan kesatuan roh, ikatan damai-sejahtera. Oneness = kehadiran dan karya Allah melalui keunikan masing-masing.

2. Pondasi keluarga = pernikahan. 3. Landasan peradaban manusia adalah keluarga. 3. Kehancuran pernikahan menghasilkan kehancuran peradaban. 4. Memperkuat pernikahan dan keluarga = bagian integrasi dari misi gereja.Peserta kemudian terbagi menjadi beberapa kelompok guna mengikuti lokakarya [workshop].Sebelumnya, Ketua Umum BPH GBI membuka KPK dengan memberikan sambutan singkat.