Berita Bethel
Penulis: Pram (08/11/2018)

'Ngecas' Baterai Ponsel di Tempat Umum Bisa Terkena Malware

Salah satu modus baru untuk menyebarkan malware ternyata bisa dilakukan jika pengguna melakukan pengisian daya alias "ngecas" baterai ponsel pada kabel yang tersedia di tempat umum.

Beberapa tempat umum, seringkali menyediakan kotak dan kabel-kabel untuk mengisi daya. Menurut Yudhi Kukuh, analis keamanan dari ESET bahwa peretas bisa menginfeksi layanan itu agar kabel mengirimkan malware kepada korban. Hal-hal kecil seperti inilah yang menurut Kukuh banyak yang tidak disadari oleh masyarakat.

"Banyak orang saat ini tuh hanya sekedar pakai saja. Bisa dikatakan mereka hanya bisa pakainya saja. Padahal ketika sebuah perangkat yang dimiliki itu tidak diurus, tidak diupgrade (diperbarui software), maka hal itu bisa menyebabkan rentan terhadap ancaman malware," ungkap Yudhi pada konferensi pers Tantangan Keamanan Siber di Industri 4.0, di Jakarta (7/11).

Berdasarkan studi Ponemon Institute, pada 2018 rata-rata kerugian akibat pelanggaran data secara global pada tahun ini mencapai US$3,86 juta atau sekitar Rp56,5 miliar. Selain itu, Breach Level Index juga mengungkap telah terjadi 945 pelanggaran data yang menyebabkan 4,5 miliar catatan data hilang di seluruh dunia pada 2018.

Melihat tingginya angka ancaman kejahatan siber, Yudhi menghimbau agar masyarakat tidak sembarangan untuk mengisi daya ponsel mereka di kotak untuk mengisi daya di tempat umum. Selain itu, ia juga mengimbau agar warga  mengambil langkah antisipasi berikut.

Hati-hati pakai wifi umum. Perlu diingat bahwa sebuah layanan umum dapat digunakan oleh siapapun. Dalam hal ini, pelaku dapat memasukkan virus malware ke dalam router tersebut dan membuat siapapun yang menggunakannya dapat terserang virus.

Penyimpanan sandi dalam perangkat. Sama halnya seperti wifi umum, ketika pengguna menyimpan kode sandi pada perangkat miliknya dan terhubung dengan router yang sudah ditanamkan virus. Maka data-data tersebut dapat dilihat oleh pelaku.

Unduh aplikasi dari situs tak resmi. Hal ini kerap terjadi ketika masyarakat menginginkan sebuah aplikasi tanpa memperdulikan sumber dari data tersebut. Padahal, pelaku juga dapat memasukkan virus ke dalam data aplikasi tersebut.

Setel ulang perangkat baru. Yudhi menghimbau masyarakat untuk melakukan penyetelan ulang (reset) pada perangkat yang baru digunakan. Hal ini dilakukan untuk menghindari malware yang sudah ditanam pelaku ke dalam perangkat tersebut.

Pakai lebih dari satu anti-virus. Selain meminimalisirkan koneksi pada perangkat, Yudhi juga menegaskan bahwa sistem keamanan tidak dapat melindungi perangkat 100 persen. Setiap sistem keamanan pasti memiliki algoritma yang berbeda untuk mengidentifikasi virus. Maka dari itu, perlu adanya layering atau pengamanan berlapis dalam melindungi perangkat. [Sumber : cnnindonesia.com].