Berita Bethel
Penulis: Pram (22/12/2018)
Dewasa Dalam Pengharapan

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang- ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN” (Habakuk 3:17-18)

Orang-Orang Yang Berpengharapan dalam Tuhan adalah mereka yang menunjukkan  hidup yang beriman dan percaya seutuhnya kepada Tuhan.

Mereka memiliki iman dan harapan tidak tergantung  pada apa yang kelihatan dihadapan mereka.

Percaya dan berharap pada Yesus, sesungguhnya akan membuat kehidupan semakin baik dan mengalami hal-hal terindah dari Tuhan, bukan karena situasi dan kondisi baik melainkan pola pikir dan cara pandang iman membuatnya demikian.

Dalam teks di atas dijelaskan bahwa keadaan yang sangat menjepit kehidupan tidak akan membuat iman bergeser dari keyakinan akan Tuhan.

Dicontohkan seperti pohon ara tidak berbuah, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun [foto] mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, namun bersorak-sorak dalam Tuhan. Bukankah keadaan ini menggambarkan  kebalikan dari semua keadaan kita pada umumnya ?.

Sejatinya orang yang dewasa dalam pengharapan ialah mereka yang tidak memandang keadaan sekeliling  sebagai ukuran dalam mempercayai Tuhan.

Justru sebaliknya apakah keadaan baik atau kurang baik, apakah memberkati atau tidak memberkati, apakah membawa kemajuan atau tidak, maka orang yang berpengharapan akan memandangnya sebagai bagian dari rencana Allah.

Dengan pengharapan dalam Tuhan, niscaya kehidupan pun akan menjadi teguh dalam menghadapi berbagai tantangan.

Pribadi yang dewasa dalam pengharapan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: pertama, memiliki keyakinan bahwa apapun kondisi  hidup ini jika berasal dari Tuhan, niscaya selalu baik dan bermanfaat.

Point ini menjadi  kata kunci dan prinsip sebab kedewasaan dalam pengharapan niscaya akan membawa kita kepada cara pandang yang baik dan benar   terhadap Tuhan.  Pengharapan dalam Tuhan  mampu merubah kondisi dan situasi sulit menjadi lebih baik.

Kedua, bersukacita meskipun dalam keadaan tidak menentu. Dalam ayat di atas dijelaskan kondisi yang tidak baik, bahkan kondisi yang sangat tragis secara logika dan pemahaman manusia, namun bagi orang yang berpengharapan  tidak akan mengurangi sukacita.

Bagi orang yang dewasa dalam Tuhan sukacita bukan karena hal-hal yang kelihatan, melainkan karena hal-hal yang ilahi. Kebanyakan dari kita mengalami  sukacita hanya karena hal-hal lahiriah, berkat jasmani dan juga hal-hal yang sifatnya jasmaniah belaka.

Sukacita yang demikian tidak menunjukkan dewasa dalam pengharapan. Ketiga, tetap memandang kepada Yesus meskipun situasi mencekam.  Kondisi yang dilukiskan dalam Habakuk 3:17.

Ini adalah kondisi “emergency”, namun secara iman tidak demikian bagi orang percaya. Jika saja hal ini terjadi  kepada yang tidak percaya Tuhan, mungkin mereka sudah akan mengakhiri hidupnya dengan jalan pintas, namun bagi orang percaya selalu memahami ditengah sulit sekalipun Tuhan hadir dan berperkara bagi hidup ini.

Dewasa dalam pengharapan menunjukkan bahwa kita  dewasa dalam iman, dewasa dalam pengiringan akan Tuhan, selanjutnya juga menandakan bahwa kualitas iman yang teruji dan terbukti.

Dalam Alkitab, kita dapat belajar dari tokoh Ayub, di tengah-tengah  badai kehidupan ia selalu memiliki pengharapan. Demikian  juga kita untuk memiliki  kedewasaan dalam pengharapan harus belajar memahami bahwa dalam segala hal Tuhan punya rencana.

Orang yang dewasa dalam pengharapan ialah mereka yang tetap bersukacita dalam penderitaan. [R.A.B : Pdt. Dr. Purim Marbun/Foto : istimewa].