Berita Bethel
Penulis: Pram (28/12/2018)

Menghasilkan Uang dari Sampah Bonggol Jagung

Tidak ada yang menyangka bahwa bonggol jagung yang sering ditemui di pinggir kali, kandang kerbau, dan tergeletak begitu saja di jalanan, dapat menjadi sebuah kerajinan yang cantik.

Tidak ada yang menyangka bahwa bonggol jagung yang sering ditemui di pinggir kali, kandang kerbau, dan tergeletak begitu saja di jalanan, dapat menjadi sebuah kerajinan yang cantik. Stefanus Indri Sujatmiko (45), warga Kabupaten Sleman, Yogyakarta, adalah salah satu pengusaha yang berhasil mengolah limbah bonggol jagung menjadi kerajinan yang bernilai tinggi.

Melihat banyak sekali sisa jagung yang tidak terpakai di kandang kerbau milik kawannya, Stefanus mencari cara mengolah limbah jagung menjadi sesuatu yang lebih berharga. Namun hal ini tidaklah mudah dan masyarakat sekitar pun sempat meremehkan dirinya.

Beberapa bahkan mengatakan ia gila karena sering mengambil bonggol jagung dari kandang kerbau milik dan mengerjakannya. Setelah menunjukkan hasil kerajinan dari limbah tersebut, Stefanus akhirnya mendapat kepercayaan kembali dari orang-orang sekitarnya.

“Pelan-pelan setiap saya mengambil bonggol jagung di kandang sapi, saya juga tunjukkan hasil kerajinan dari bonggol jagung. Agar mereka percaya bahwa ini bisa dijadikan kerajinan yang menarik,” jelasnya.

Proses pembuatan kerajinan bonggol jagung terbilang cukup panjang. Pertama bonggol jagung, yang diambil dari petani jagung di Yogyakarta, dibersihkan dan dijemur selama 3 hingga 5 hari. Kemudian bonggol diamplas hingga terlihat bentuk ulir khas bonggol jagung.

Proses selanjutnya dipotong-potong, dibor, diamplas kembali hingga dapat dibentuk menjadi kerajinan lampu, lukisan, atau keranjang. Sebagai tahap akhir dilakukan penyemprotan untuk menutup semua pori-pori di bonggol jagung. Dalam proses produksi Stefanus dibantu oleh empat orang karyawan tidak tetap, dua diantaranya merupakan merupakan karyawan dengan disabilitas.

Saat ini Stefanus sudah memiliki ruang pajangan yang juga berfungsi sebagai tempat produksi di jalan Minggir 2, RT01, RW03, desa Sendang Agung Minggir, kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Kerajinan bonggol jagung ini dihargai mulai dari Rp 150.000,- untuk barang seperti lampu hias dan jutaan rupiah untuk lukisan atau pesanan miniatur bangunan. Penghasilan rata-ratanya masih sekitar tiga juta rupiah, namun hal ini diharapkan dapat berubah karena pemasaran produknya pun sudah merambah ke dunia digital melalui media sosial.

Pemenang Penghargaan Citi Microentrepreneurship Awards 2017-2018.Kerja kerasnya dalam mengenalkan kerajinan pengolahan limbah ini sampai usahanya tidak luput dari perhatian pemerintah setempat. Stefanus kerap kali mewakili Dinas Koperasi & UKM Yogyakarta, dan Dinas Perindustrian & Perdagangan Yogyakarta dalam mengikuti pameran kerajinan mewakili daerah Yogyakarta dari mulai tingkat lokal, regional, dan nasional.

Pameran terbesar yang pernah diikutinya adalah JIExpo di Jakarta. Melalui pameran, Stefanus memiliki banyak jaringan baik dari kalangan pedagang, pembeli, hingga anggota pemerintahan. Stefanus dengan bangga bercerita dirinya mendapat undangan untuk bertemu dengan Sultan Hamengkubuwono X dan bahkan sempat membuatkannya lukisan wajah beliau dari bonggol jagung.

Stefanus juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya. Ia secara sukarela melatih ibu-ibu di sekitar rumahnya dan anak anak difabel di sekolah luar biasa (SLB) untuk membuat kerajinan dari bonggol jagung.

Kedepannya, Stefanus berencana mendorong pimpinan daerah untuk menjadikan kerajinan bonggol jagung sebagai identitas khas Yogyakarta dan bekerja sama dengan sekolah SLB di dekat rumahnya untuk membuat kerajinan. Sehingga nantinya anak-anak ini dapat memiliki mata pencaharian dan dapat menghasilkan uang sendiri dari hasil karyanya.

Selain itu, Stefanus juga mengikuti ajang penghargaan pengusaha Citi Microentrepreneurship Awards 2017-2018, dia menjadi wakil dari Koperasi Karyawan RS Bethesda, Yogyakarta. Ia masuk dalam kategori Green atau Usaha Ramah Lingkungan dan memenangkan penghargaan dalam kategori tersebut.

Prestasi Stefanus sebagai salah satu pemenang Citi Microentrepreneurship Awards 2017-2018 telah mendorong usahanya semakin dikenal diberbagai kalangan.

Saat ini Citi Indonesia (Citibank N.A., Indonesia) bersama dengan Mercy Corps Indonesia telah membuka pendaftaran untuk Citi Microentrepreneurship Awards 2018-2019. Pendaftaran dibuka hingga 31 Desember 2018. Para pengusaha bisa segera melakukan pendaftaran secara online melalui www.cmaindonesia.id. [Sumber : finansial.bisnis.com].