Berita Bethel
Penulis: Pram (21/01/2019)

Mengalami Perlindungan Allah yang Kekal

Mazmur 90:1-17. Semua manusia beragama mengaku percaya akan perlindungan Tuhan, bahkan merasa sudah berada dalam perlindungan Allah. Dengan beberapa alasan secara umum bahwa manusia sangat lemah dalam melindungi dirinya dari berbagai hal yang mengancam hidupnya, seperti bencana alam, sakit penyakit bahkan ancaman kematian. Lalu, sudahkah kita berada dalam perlindungan Allah yang kekal saat ini ?.

Melalui perikop " Allah, tempat perlindungan kekal " ( Mazmur 90:1-17 ), kita perhatikan: 1. Melalui doanya, Musa mengakui bahwa Tuhanlah tempat perlindungan [perteduhan] secara turun menurun bagi umatNya, Allah yang telah ada jauh sebelum adanya malapetaka yang mengancam kehidupan manusia, Dialah perlindungan yang kekal ( ayat 1-2 )

2.Kita semua butuh perlindungan Allah yang kekal itu  ( ayat 3-6 ). 3. Setiap kita sadar akibat dosa, tidak bisa menyelamatkan diri sendiri, sehingga Allah lah satu-satunya perlindungan kita ( ayat 7-12 )

4. Akhirnya, sehebat apapun manusia itu, Musa mengingatkan akan batas-batas kemampuan perbuatannya, sehingga tidak ada alasan untuk tidak berlindung kepada Allah yang kekal ( ayat  13-17 )

Seperti apakah hidup dalam perlindungan Allah yang kekal ?. Pertama : Sadar akan kelemahan kita." Engkau mengembalikan manusia kepada debu,... " ( ayat 3 ). Tanpa menyadari kelemahan dan keterbatasan kita sebagai manusia, maka kita tidak dapat sungguh-sungguh mengalami perlindungan Allah yang kekal.

Faktanya, kita semua diperhadapkan dengan anacaman keselamatan tubuh oleh berbagai penyakit, amcaman keselamatan jiwa oleh berbagai bencana alam, bahkan ancaman keselamatan roh kita oleh kuasa gelap melalui daya tarik kuasa dosa yang hendak menyeret roh kita menjadi penghuni dunia kegelapan abadi.

Sadarkah kita, betapa lemahnya kita menghadapi ketiga ancaman keselamatan hidup kita dimasa kini dan hidup dimasa nanti? Berdasarkan 1 Petrus 1:24 dan  Yakobus 4:14, masihkah kita merasa hebat tanpa berada dalam perlindungan Allah yang kekal?. Jadi, jangan menunggu kelemahan kita dibuktikan oleh hadirnya sakit, bencana bahkan daya tarik kuasa gelap, baru kita sadar akan perlunya perlindungan Allah yang kekal adanya.

Kedua : Hidup dalam kehendak dan rencanaNya." .... kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami,... " ( ayat  17 ). Memberi diri dimurnikan dan diproses Tuhan, agar hidup seperti rancangan Allah semula adanya, itulah maksud hidup dalam kehendak dan rencanaNya. Memang tidak mudah, tetapi akan nyata kemurahan Tuhan untuk meneguhkan kita mengikuti pemurnian dan proses menuju kesempurnaan seperti kehendak Bapa.

Berdasarkan Lukas 12:17-20, ada orang yang telah berada di luar perlindungan Allah karena didominasi hasrat duniawinya dan hidup demi mengejar kehendak diri sendiri. Bahkan lebih nyata lagi, bahwa perlindungan Allah yang kekal bukan modal bersenang-senang, tetapi untuk menikmati cara Tuhan menarik kita kembali kepada kehendak dan rencanaNya melalui durasi waktu yang sangat singkat, 70-80 tahun.

Jadi, hidup dalam perlindungan Allah yang kekal bukan syarat untuk dilepaskan dari malapetaka di dunia ini, tetapi tata cara hidup dihindarkan dari daya tarik bencana dosa yang pasti menuju malapetaka kekal. [Pdt. Yusuf Sumitro, MTh].